| gkj.lagu-gereja.com |
![]() |
Download MP3 Music Khotbah GKJ 2025 Minggu, 23 Februari 2025Minggu, 23 Februari 2025 Khotbah GKJ - Minggu, 23 Februari 2025 - Kasih Itu Mengampuni - 1 Korintus 15: 35-38, 42-50 - Minggu Biasa (Hijau)Minggu Biasa (Hijau) TEMA PERAYAAN IMAN Kasih Itu Mengampuni TUJUAN Umat menyadari bahwa kasih terkait dengan pengampunan. Gereja dan umatnya didorong untuk saling mengampuni dalam relasi sehari-hari sebagai perwujudan kasih DAFTAR BACAAN: Bacaan I : Kejadian 45: 3-11, 15 Tanggapan : Mazmur 37: 1-11, 39-40 Bacaan II : 1 Korintus 15: 35-38, 42-50 Bacaan Injil : Lukas 6: 27-38 DAFTAR AYAT LITURGIS Berita Anugerah : Kolose 1: 13-14 Petunjuk Hidup Baru : Matius 6: 12 Persembahan : 2 Korintus 9: 7, 8 DAFTAR NYANYIAN LITURGIS Bahasa Indonesia Nyanyian Pujian : KJ 4: 1,2 Nyanyian Penyesalan : KJ 30a: 1,2 Nyanyian Kesanggupan : KJ 304: 1,4 Nyanyian Persembahan : KJ 302: 1- Nyanyian Pengutusan : KJ 376: 1,2 Bahasa Jawa Kidung Pamuji : KPJ 14: 1,3 Kidung Panelangsa : KPJ 49: 1,2 Kidung Kesanggeman : KPJ 192: 1,3 Kidung Pisungsung : KPJ 161: 1,2 Kidung Pangutusan : KPJ 90 Pdt. Agus Hendratmo (GKJ Nehemia) DASAR PEMIKIRAN Orang percaya selalu hidup dalam relasinya dengan pihak lain. Dalam relasi ini, bisa terjadi ketegangan dan konflik satu dengan yang lainnya. Tanpa kesadaran mengelola konflik dengan benar, konflik yang terjadi bisa semakin runcing dan membahayakan kehidupan bersama. Pemahaman yang benar mengenai bagaimana mengelola relasi dan memberikan respons yang tepat terhadap persoalan yang dihadapi menjadi tanggung jawab yang penting bagi orang percaya. Dalam memberikan responsnya, orang percaya diingatkan untuk tidak jatuh dalam model pembalasan dendam, melainkan pengampunan dalam mewujudkan kasih Allah dalam kehidupan. KETERANGAN BACAAN Kejadian 45: 3-11, 15 Mana yang lebih penting, keadilan atau pengampunan? Bagi Yusuf, keadilan itu penting, namun demikian pengampunan juga penting. Keadilan bertumpu pada keseimbangan martabat kemanusiaan yang harus dipulihkan jika terjadi pelanggaran kemanusiaan. Keseimbangan tercapai jika pelaku kejahatan mendapat balasan yang setimpal dengan kejahatannya. Sedangkan pengampunan bertumpu pada keyakinan bahwa seseorang yang bersalah dan menyesali kesalahannya, serta ingin berbuat yang terbaik dalam kesadaran akan kesalahannya itu juga perlu mendapat kesempatan untuk menata ulang kehidupannya kembali. Sikap pengampunan inilah yang dipilih oleh Yusuf. Yusuf mau mengampuni saudara-saudaranya yang telah menjual dirinya sebagai budak. Yusuf tidak membalas dendam saudara-saudaranya atas nama keadilan. Namun Yusuf tidak asal mengampuni. Yusuf memiliki alasan yang kuat untuk mengampuni saudara-saudaranya. Pengampunan Yusuf memulihkan relasi Yusuf bersama dengan saudara-saudaranya. Mazmur 37: 1-11, 39-40 Mazmur 37 ini bisa dipahami sebagai mazmur yang membantu umat mengelola perasaan dan kondisi hidup yang dianggap tidak adil dan tidak baik yang dialaminya. Respons dalam kondisi ketidakadilan, yang umum adalah rasa geram, iri, dan kemarahan. (ayat 1,8). Respons semacam ini jelas tidak membangun iman dan tidak menciptakan kondisi hidup yang lebih baik. Mereka yang menjadi korban ketidakadilan hidup, tetap bisa menyandarkan diri pada pertolongan Tuhan, bukan dengan jalan kekerasan dan pembalasan memakai cara-cara mereka sendiri. Tuhan akan bertindak dengan cara-Nya sesuai kehendak-Nya, untuk menolong umat-Nya. Dalam hal ini, umat tetap harus belajar bersabar dan berserah pada Tuhan. 1 Korintus 15: 35-38, 42-50 Bagian surat Rasul Paulus ini mengangkat tema martabat kemanusiaan yang dipulihkan. Hidup manusia tidak berakhir dengan kefanaan dagingnya. Tubuh duniawi manusia bisa berakhir, namun tidak berarti hidup manusia turut berakhir. Dalam karya penyelamatan Allah, manusia mendapat kasih karunia Allah yang tidak dibatasi oleh kefanaannya. Bahkan pada akhirnya, “tubuh yang ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan.” (ayat 42). Tema martabat kemanusian yang dipulihkan ini bisa dipakai untuk menjadi dasar pengampunan sebagai perwujudan kasih. Pengampunan pada dasarnya sebuah upaya pemulihan martabat kemanusiaan baik untuk korban kekerasan dan ketidakadilan maupun untuk pelaku kekerasan dan ketidakadilan. Lukas 6: 27-38 Siapa pun yang menjadi pengikut Kristus, diajak untuk tidak menempuh jalan yang umum atau yang biasa. Jalan yang umum mengajarkan: kasihilah temanmu dan bencilah musuhmu, berbuatlah baik hanya kepada yang berbuat baik padamu, kutukilah orang yang telah mengutuki kamu, cacilah orang yang mencaci kamu. Jika pengikut Kristus juga tetap menempuh jalan yang umum tersebut, maka kebenaran Kerajaan Allah tidak akan pernah terwujud dalam hidup ini. Dalam khotbah-Nya ini, Yesus mengajarkan apa yang oleh pandangan umum bisa dianggap aneh, idealis dan tidak masuk akal bagi orang-orang Israel pada waktu itu. Orang-orang Romawi yang telah menjajah Israel, memungut pajak yang amat besar, membunuh orang-orang Israel yang memberontak melawan Romawi dengan kejamnya, tetap harus diberi ruang untuk pengampunan. Ajaran dan ajakan yesus memang tidak umum: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu, mintalah berkat bagi yang mengutuki kamu, berdoalah bagi orang yang mencaci kamu. Namun demikian, memang itulah panggilan setiap orang yang percaya dan mengikuti Yesus. POKOK DAN ARAH PEWARTAAN Kesadaran orang Kristen untuk berani mengampuni dengan tepat dan tidak memilih jalan pembalasan dendam bisa menjadi perwujudan kasih Allah yang nyata dalam relasinya dengan sesama. Tindakan pengampunan tidak hanya berguna bagi sesama, namun juga bagi diri sendiri. Renungan ini memberikan arah dan pemandu bagi jemaat Kristen untuk tetap mau mempraktikkan pengampunan dalam peristiwa yang dialaminya sebagai wujud kasih. Melalui pengampunan yang terjadi, diharapkan iman tetap bertumbuh dengan baik. KHOTBAH JANGKEP BAHASA INDONESIA KASIH ITU MENGAMPUNI Bapak, Ibu, dan Saudara yang terkasih, Maukah kita mendoakan orang yang telah membuat hidup kita menderita, berlaku kasar dan kejam kepada kita, agar Tuhan memberi berkat kepada-Nya? Maukah kita kembali meminjamkan uang kepada seseorang yang jelas telah menipu dan mencuri uang kita? Maukah kita menyediakan makanan bagi orang-orang yang telah melempari dan merusak rumah ibadah kita? Saya yakin, pada umumnya banyak orang akan menjawab: tidak mau! Jawaban tidak mau ini muncul karena kita adalah korban dari perlakuan jahat orang tersebut. Masa kita mendoakan pelaku agar mendapat berkat? Masa kita menjamu mereka yang telah merusak rumah ibadah kita? Mereka justru harus mendapat balasan yang setimpal karena telah berbuat jahat pada kita. Bapak, Ibu, Saudara yang mengasihi Tuhan, Perjumpaan kembali Yusuf dengan saudara-saudaranya, menyebabkan Yusuf harus menentukan sikap terhadap saudara-saudaranya. Ada beberapa sikap yang mungkin terjadi: (1) Balas dendam. Yusuf bisa membalas dendam dengan mudahnya terhadap saudara-saudaranya. Ia sekarang adalah orang yang begitu berkuasa di Mesir. Ia adalah Zafnat-Paaneah. Seseorang yang diberikan cincin pribadi Firaun sebagai simbol kuasa dan kemuliaan. Firaun sendiri mengatakan bahwa yang membedakan dia dengan Zafnat-Paaneah hanyalah tahta yang diduduki Firaun. Dan tampaknya, memang ada cukup alasan bagi Yusuf untuk membalas dendam, mengingat perlakuan saudara-saudaranya terhadap dia. Banyak saudaranya ternyata membenci dia. Bahkan di usianya yang 17 tahun, ia dijual sebagai budak. Di mata saudara-saudaranya (satu bapak, lain ibu ini), ia ditolak dan tidak diakui sebagai keluarga Yakub. Jika balas dendam ini dilakukan, ia akan menangkap mereka, memenjarakan mereka, atau menjadikan mereka sebagai budak, atau membunuh mereka. (2) Membalas mereka dengan perlakuan sama, yakni memutuskan ikatan keluarga dengan mereka. “Kita sudah tidak ada hubungan keluarga. Keluargamu, keluargamu sendiri. Keluargaku, keluargaku sendiri.” Sikap ini, tentu sikap yang lebih lunak dari balas dendam. (3) Pengampunan. Ia akan mengampuni perbuatan jahat mereka. Mana yang dipilih Yusuf? Yusuf memilih mengampuni daripada balas dendam. Apakah Yusuf asal mengampuni dan mengabaikan derita hidup yang ia alami selama kurang lebih 13 tahun lamanya sejak ia dijual hingga ia menjadi Zafnat-Paaneah? Yusuf tidak asal mengampuni. Yusuf memiliki alasan yang kuat mengapa ia mengambil sikap mengampuni saudara-saudaranya: (1) Ia melihat saudara-saudaranya telah berubah baik. Hatinya tersentuh ketika ia melihat saudara-saudaranya ini menunjukkan kasih yang besar kepada ayahnya, dan kepada Benyamin, adiknya. Mereka tidak ingin membuat ayah mereka kembali berduka dengan membiarkan Benyamin ditawan di Mesir. Yehuda, dengan lantang bahkan siap menggantikan Benyamin untuk menjadi tawanan atas tuduhan bahwa Benyamin telah mencuri piala Yusuf. Mereka telah menunjukkan kasih dan persaudaraan yang sejati, yakni keluarga yang saling mendukung dan membela satu dengan yang lain dalam menghadapi persoalan hidup mereka. Yusuf menyadari, asal mengampuni juga bisa berdampak buruk, terlebih ketika tidak ada tanda-tanda penyesalan atau pertobatan dari saudarasaudaranya. (2) Yusuf merasakan dalam pengalaman berat hidupnya tersebut, Tuhan tetap menyertai hidupnya. Ketika ia ditolak oleh saudarasaudaranya, tidak berarti ia ditolak oleh Tuhan. Hidupnya selalu dalam pemeliharaan Tuhan, terutama juga dalam saat-saat krisis hidupnya. Saat ia dijual sebagai budak, Tuhan menyertainya. Saat menjadi budak di rumah Potifar, Tuhan juga menyertainya. Saat difitnah oleh istri Potifar, dan harus berada di penjara, Tuhan juga menyertainya. Saat menjadi Zafnat-Paaneah, Tuhan tetap menyertainya. Kita simak apa yang dikatakan Yusuf: - Justru untuk menyelamatkan hiduplah Allah mengutus aku mendahului kamu (ayat 5) - Allah telah mengutus aku mendahului kamu untuk menjaga kelanjutan keturunanmu di bumi dan memelihara hidupmu, sehingga banyak yang selamat(ayat 7) - Jadi, bukan kamu yang mengutus aku ke sini melainkan Allah (ayat 8) - Allah telah menjadikan aku tuan atas seluruh Mesir (ayat 9) Dalam situasi krisis, seperti yang dialami Yusuf, lebih mudah bagi seseorang untuk meninggalkan Tuhan. Namun dalam krisis yang dialaminya itu, Yusuf tidak pernah meninggalkan Tuhan, dan sebaliknya juga Tuhan tidak pernah meninggalkan Yusuf. Pengampunan Yusuf mempunyai dampak pemulihan bagi semua. Relasi Yusuf dan saudara-saudaranya dipulihkan, relasi Yakub dan anak-anaknya dipulihkan, relasi umat dan Allah dipulihkan. Andaikata Yusuf tidak mengampuni, tentu pemulihan tidak terjadi. Dalam bacaan Injil kita saat ini, apa yang diajarkan Yesus tentu bisa terdengar aneh dan tidak masuk akal bagi orang-orang Israel pada waktu itu. Bagi orang-orang Israel pada waktu itu, siapa musuh mereka sangat jelas: Orang-orang Romawi. Mereka adalah penjajah negerinya. Mereka memungut pajak yang amat besar melalui orang-orang Israel yang dijadikan bidak-bidak mereka, termasuk Herodes. Mereka membunuh orang-orang Israel yang memberontak melawan Romawi dengan kejamnya. Sebelum khotbah Yesus ini, jendral Romawi yang bernama Varus telah menyalibkan 2000 orang Yahudi yang melawan di kota Sepphoris dan tempat-tempat lainnya. Bagaimana mungkin mereka harus bersikap baik terhadap orang-orang yang jelas tidak bersikap baik pada mereka? Coba kita simak beberapa ajaran Yesus: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu, mintalah berkat bagi yang mengutuki kamu, berdoalah bagi orang yang mencaci kamu. Banyak orang menganggap ajaran Yesus ini hanya bisa dilakukan oleh sosok ilahi, bukan manusiawi. Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi Tuhan, Ada ungkapan yang sering kita dengar: sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Ungkapan ini juga bisa berlaku dalam kehidupan seseorang yang memendam dendam atas perlakuan buruk yang ia terima dari orang lain. Kita sudah menderita, ketika mendapat perlakuan buruk dari orang lain tersebut. Namun penderitaan itu malah menjadi berganda ketika kita membiarkan pikiran kita dibajak dengan rasa benci yang terus-menerus terhadap orang tersebut. Rasa benci yang kuat dalam diri seseorang dan menetap terus-menerus, justru merugikan kesehatan mental kita sendiri. Di sinilah pengampunan menjadi sangat penting. Pengampunan yang diberikan dengan tepat akan berdampak pemulihan bagi kita. Pengampunan itu akan menyembuhkan luka-luka batin kita, memperbaiki kesehatan mental kita, dan tidak akan membiarkan pikiran kita diracuni kekuatan kebencian yang justru bisa merusak hidup kita. Pengampunan yang tepat, tentu saja akan berdampak baik bagi orang lain, untuk kembali menemukan kemanusiaannya dan bertumbuh dalam kebaikannya. Pengampunan memang harus diberikan tepat pada saatnya. Kita juga jangan asal cepat mengampuni. Asal cepat mengampuni tidak akan punya dampak pemulihan bagi yang memberi pengampunan atau bagi yang menerima pengampunan. Namun kita juga jangan enggan untuk mengampuni. Keengganan untuk mengampuni justru bisa merugikan hidup kita sendiri dan juga hidup sesama kita yang memerlukan pengampunan dari kita. Rangkaian studi ilmiah tentang pengampunan menunjukkan bahwa memberikan pengampunan sangat baik bagi pemulihan kesehatan fisik, psikis, dan spiritual. Mereka yang bisa memberikan pengampunan akan mengurangi risiko terkena serangan jantung, orang yang memendam dendam memperlihatkan penurunan kekuatan pada sistem imun, orang yang memberikan pengampunan menunjukkan tekanan darah yang baik dan menjaga hormon pemicu stress tetap rendah. Yesus dengan jelas menunjukkan kasih itu mengampuni. Sesungguhnya, siapa pun yang menjadi pengikut Kristus, diajak untuk mewujudkan kasih penuh pengampunan. Mari, sebelum kita pulang ke rumah masing-masing setelah ibadah Minggu ini, kita melihat hidup kita sendiri: Apakah ada orang-orang yang telah membuat kita benci dan menyimpan dendam, yang memerlukan pengampunan kita? Amin. KHOTBAH JANGKEP BAHASA JAWA KATRESNAN PUNIKA PARING PANGAPUNTEN Bapak, Ibu, sadherek ingkang kinasih, Punapa kita purun ndongakaken tiyang sanes ingkang sampun tumindak piawon dhateng kita, supados Gusti paring berkah dhateng tiyang menika? Punapa kita purun motangaken arta kita dhateng tiyang ingkang sampun nyolong arta kita? Punapa kita purun caos segahan dhateng tiyang-tiyang ingkang sampun nggrudhug saha ngrisak griya kita? Kula pitados, kita adatipun badhe paring wangsulan: boten purun. Kita boten purun, amargi kita menika dados kurban tumindak piawon tiyang sanes. Mosok, tiyang awon dipundongakaken nampi berkah? Mosok kita caos segahan dhateng tiyang ingkang sampun ngrisak papan pangibadah kita? Pantesipun, tiyang-tiyang menika kedah nampi piwales ingkang murwat awit tumindak piawonipun. Bapak-Ibu-Sedherek ingkang nresnani Gusti, Yusuf ingkang samangke pinanggih kaliyan para sedherekipun kedah nemtokaken patrapipun dhateng para sedherekipun menika. Menawi ningali menapa ingkang sampun kalampahan, antawisipun badhe: (1) Males serik. Yusuf gampil kemawon menawi purun males serik. Piyambakipun samangke dados tiyang ingkang ageng kwaosipun. Piyambakipun menika kawastanan ZafnatPaaneakh. Inggih menika priyantun ingkang pinaringan sesupenipun Sang Prabu Pringon, pratandha kamulyan saha pangwaos ingkang ageng. Sang Prabu Pringon piyambak ingkang ngandika bilih ingkang mbedakaken Sang Prabu Pringon kaliyan Yusuf namung dhamparing Sang Prabu Pringon. Saestunipun, sampun cekap pawadan kangge Yusuf males serik dhateng para sedherekipun ingkang sampun tumindak awon. Kathah sedherekipun ingkang sengit dhateng Yusuf. Malah nalika yuswa 17 taun, Yusuf dipun sade dados budhak. Dening para sedherekipun, Yusuf ugi boten dipuntampi saha dipunakeni dados brayatipun Bapa Yakub. Menawi Yusuf males serik, penjenenganipun badhe nyepeng saha ngunjara para sedherekipun, utawi dadosaken budhak, utawi malah mejahi para sedherekipun menika. (2) Utang lara nyaur lara, utang pati nyaur pati. Yusuf saged kemawon males para sedherekipun kanthi cara ingkang sami, inggih menika medhot katresnan. “Kita sadaya sampun boten sesambetan satunggaling brayat. Brayat sampeyan, brayat sampeyan piyambak. Brayat kula brayat kula piyambak. Sikap kados makaten, pancen langkung enteng tinimbang males serik. (3) Pangapura, Yusuf ngapura para sedherekipun. Pundi ingkang dipunpilih dening Yusuf? Yusuf kasunyatan milih ngapura para sedherekipun tinimbang males. Menapa Yusuf drapon ngapura, tuwin nglirwakaken panandhangipun kirang langkung 13 taun, wiwit dipun sade dados budhak dening para sedherekipun ngantos mengku Zafnat-Paaneakh? Yusuf boten drapon ngapura. Panjenenganipun kagungan pawadan ingkang kiyat, kenging menapa purun ngapura para sedherekipun: (1) Yusuf ningali para sedherekipun sampun gadhah pakerti ingkang sae. Panjenenganipun kepranan ing penggalih nalika ningali para sedherekipun menika mbelani Benyamin, adhinipun, saha nedahaken katresnan ingkang ageng dhumateng Yakub, ramanipun. Para sedherekipun boten purun damel raos dhuhkita malih tumrap Yakub Sang Rama, menawi Benyamin dipunkunjara wonten ing Mesir. Yehuda malah sumadya nggentosi Benyamin dados tawanan amargi dipundakwa nyolong tuwungipun Sang Yusuf. Para sedherekipun sampun nedahaken katresnan saha gesang bebrayan ingkang sejatos, inggih menika brayat ingkang asung panyengkuyung saha mbelani nalika wonten ingkang nandhang kasisahan. Yusuf ngrumaosi, drapon ngapura ugi boten prayogi, langkunglangkung menawi boten wonten tandha-tandha mratobat saha raos keduwung awit kalepatanipun (2) Yusuf ngraosaken salebeting panandhang gesang, Gusti Allah tetep paring pangayoman tumrap gesangipun. Nalika dipuntampik dening para sedherekipun, boten ateges dipuntampik dening Gusti. Gesangipun tansah wonten ing pangrimatipun Gusti, mirungganipun salebeting kawontenan ingkang gawat. Nalika dipunsade dados budhak, Gusti Allah paring pangayoman. Nalika dados palados Potifar, Gusti ugi paring pangreksa. Nalika dipun pitenah garwanipun Potifar lajeng mlebet kunjara, Gusti ugi paring pangrimat. Nalika dados Zafnat-Paaneakh, Gusti tetep paring pangayoman. Cobi kita ningali menapa ingkang dipun ngendikaken dening Yusuf: - Awit Gusti Allah kang ngutus aku ndhisiki kowe supaya mitulungi urip (ayat 5) - Mulane Gusti Allah ngutus aku dhisiki kowe, supaya turunmu bisa lestari ana ing bumi iki lan supaya kowe kapitulungan urip (ayat 7) - Dadine dudu kowe kang akon aku mrene, nanging Gusti Allah (ayat 8) - Gusti Allah sampun ngangkat kula dados ingkang nguwaosi satanah Mesir sadaya (ayat 9) Wonten ing salebeting kawontenan gawat ingkang dipunalami dening Yusuf, langkung gampil tumrap sinten kemawon nilar kasetyanipun dhumateng Gusti. Nanging salebeting panandhangipun, Yusuf boten nilar kasetyanipun dhumateng Gusti. Kosok wangsulipun, Gusti Allah ugi boten nilar Yusuf. Pangapuranipun Yusuf mujudaken pepulihan dhateng sedayanipun. Sesambetan Yusuf kaliyan sedherek-sedherekipun dipunpulihaken, sesambetan Rama Yakub kaliyan putra-putranipun dipun pulihaken, sesambetan umat kaliyan Gusti Allah ugi dipun pulihaken. Samungguha Yusuf boten ngapura, pepulihan boten badhe kalampahan. Menawi kita waos wonten ing Injil Lukas, ing perangan kitab suci menika, menapa ingkang dados piwucalipun Gusti Yesus mbok menawi saged kraos aneh, lan boten mlebet ing nalar tumrap tiyang-tiyang Israel rumiyin. Tumrap tiyang-tiyang Israel rumiyin, sinten ingkang dados mengsahipun bangsa Israel menika cetha wela-wela, inggih menika tiyang Romawi. Tiyang-tiyang Romawi njajah nagari Israel. Tiyang-tiyang menika narik pajeg ingkang ageng lumantar tiyang-tiyang Israel ingkang dipundadoskan abdi utawi juru tarik pajeg bangsa Romawi. Prabu Herodes kanthi ambeg siya mejahi tiyang-tiyang Yahudi ingkang nglawan bangsa Romawi. Dangu saderengipun Gusti Yesus medhar pangandikanipun ing gunung menika, jendral Romawi ingkang nama Varus sampun nyalibaken 2000 tiyang Yahudi ingkang nglawan penjajah Romawi ing kitha Sepphoris lan sanes-sanesipun. Mokal tiyang Yahudi tumindak prayogi dhateng tiyang Romawi, ingkang cetha welawela nyalib kathah sanget tiyang-tiyang Yahudi? Temtu kemawon boten mokal. Gusti Yesus tansah paring piwucal: Padha tresnaa marang mungsuhmu. Wong kang sengit marang kowe, padha becikana. Wong kang nyupatani kowe, padha suwunna berkah. Wong kang nindakake piala marang kowe, padha dongakna becik. (Luk. 6: 27-28). Kathah tiyang ingkang gadhah panganggep, piwucalipun Gusti Yesus menika boten saged dipun tindakaken dening manungsa jasmanen ingkang dumunung ing bumi menika. Temtu kemawon menika pamanggih ingkang klentu. Bapak, Ibu, sadherek ingkang kinasih, Wonten paribasan ingkang asring kita pireng: Sudah jatuh, tertimpa tangga. Paribasan menika pas sanget tumrap tiyang ingkang gadhah raos males serik awit nampi tumindak piawon saking tiyang sanes. Kita saestunipun sampun nandhang sangsara nampi tumindak piawon menika, nanging malah dados tikel nalika kita ngejaraken manah kita mawantu-wantu dipunkuwaosi raos sengit saha males tumrap tiyang sanes. Raos sengit saha males serik ingkang ageng malah mbebayani bebuden kita piyambak. Ing kawontenan makaten, tumindak paring pangapura dados wigatos sanget tumrap gesang pribadi kita piyambak. Tumindak paring pangapura saged damel pepulihan gesang kita. Tumindak menika saged nyarasaken tatuning manah kita, ndandosi kasarasan bebuden kita, ugi boten ngejaraken manah kita dipunracuni dening raos sengit ingkang ngrisak gesang kita. Paring pangapura punika migunani tumrap gesanging asanes. Tiyang sanes saged mrangguli malih raos kamanungsan ingkang ical awit tumindak piawonipun, lajeng nuwuhaken kabecikan gesang. Pancen kita ugi sampun ngantos drapon ngapura. Tumindak drapon ngapura boten dadosaken pepulihan gesang tiyang sanes. Paring pangapura ugi nyarasaken badan kita. Miturut paneliten, tiyang ingkang purun paring pangapura boten gampil kenging serangan jantung, tiyang ingkang males serik ngetingalaken kadigdayan badan ingkang kirang nalika aben ajeng virus, lan sanes-sanesipun. Tiyang ingkang paring pangapura boten gampil stress nalika wonten prekawis gesang. Gusti Yesus nedhahaken bilih katresnan menika paring pangapunten, boten malah serik. Sinten kemawon ingkang dados pandherekipun Gusti Yesus, dipuntimbali mujudaken katresnan ingkang kebak ing pangapunten. Mangga, saderengipun kita kondur ing dalem kita piyambak-piyambak sasampunipun pangibadah Minggu menika, kita niti priksa gesang kita: Menapa wonten tiyang ingkang dadosaken kita sengit saha males serik ingkang betahaken pangapura kita? Amin.
Nama Bayi Katolik Terlengkap, Tahun Liturgi Dalam Katolik, Kalender Liturgi Katolik 2026, Renungan Katolik 2025, | Selanjutnya: Khotbah GKJ Minggu, 2 Maret 2025 - Dengarkanlah Dia! - II Korintus 3:12 - 4:2 - Minggu Transfigurasi (Putih)Sebelum: Khotbah GKJ Minggu, 16 Februari 2025 - Diberkatilah Orang Yang Mengandalkan Tuhan - I Korintus 15:12-20 - Minggu Biasa (Hijau)All Garis Besar:
Nyanyian Ibadah Gereja: MENU UTAMA:Lagu Koor Gereja, JB (Pujian Sekolah Minggu), KMM, KJ, PKJ, GB, NKB, Kidung Ceria, NR, NR TORAJA, PKJ TORAJA, NKB TORAJA, NJNE, PENANIAN MASALLO', Pa'pudian, Mazmur Genewa, Nyanyian Jemaat GPM, LIRIK LAGU ROHANI SUNDA, Kidung Kabungahan KKB, KPKL, KPKA, Kidung RIA GKJW, Buku Ende, BN (Buku Nyanyian HKBP), Suplemen Buku Ende, MNR1 (Mazmur dan Nyanyian Buku 1), MNR2 (Mazmur dan Nyanyian Buku 2), Nafiri Rohani, MAZMUR MP3 GKI, NP (Nyanyian Pujian), Lagu Tiberias, Nafiri Kemenangan, Lagu GMS, PPK, PPPR, KPPK, NKI, NRM, Buku Lagu Perkantas, KPJ, KRI, KPRI, KLIK, NNBT, DSL, LS, Doding Haleluya, LKEE, Suara Gembira, , Puji Syukur, Madah Bakti, Kidung Pasamuan Jawi (KPJ)(1) Alkitab JAWA Prajanjian Lawas(1) Bacaan Alkitab GKJW 2026(1) Bacaan Leksionari GKJ 2025(8) Bacaan Leksionari GKJ 2026(12) Contoh Tata Ibadah GKJ(29) Kalender GKJ 2017(7) Kalender GKJ 2018(12) Kalender GKJ 2019(12) Kalender Liturgi GKJ 2023(12) Khotbah GKJ 2016(1) Khotbah GKJ 2025(21) Khotbah GKJ 2026(5) Khotbah GKJW 2026(7) Kidung Pasamuwan Kristen (KPK)(8) Kidung Pasamuwan Kristen Anyar (KPKA)(345) Kidung Pasamuwan Kristen Lawas (KPKL)(171) Kidung Ria GKJW(33) Klasis Gereja Kristen Jawa (GKJ)(32) NA(1) Pembacaan Alkitab 2016(1) Renungan GKJ 2022(29) Renungan GKJ 2023(13) Renungan GKJ 2024(1) Renungan GKJW 2024(4) Renungan GKJW 2026(3) Tata Ibadah GKJ 2024(2) Tentang GKJ(3) xxx(4) | Register Login
Links:
lagu-gereja.com,
bible.,
perkantas,
gbi,
GKII,
gkj,
HKBP,
MISA, GMIM, GPM, toraja, gmit, gkp, gkps, gbkp, Hillsong, PlanetShakers, JPCC Worship, Symphony Worship, Bethany Nginden, Christian Song, Lagu Rohani, ORIENTAL WORSHIP, Lagu Persekutuan, NJNE, Nyanyian Jemaat GPM, Kalender Liturgi GKJ September 2023 Minggu, 26 Juni 2022 Renungan GKJ Minggu, 26 Juni 2022 - II Raja-raja 2:1-2,6-14 - Minggu Biasa VIII Minggu ke-3 setelah Pentakosta (Hijau) Minggu, 19 Juni 2022 Renungan GKJ Minggu, 19 Juni 2022 - I Raja-raja 19:1-4,(5-7),8-15a - Minggu Biasa VII Minggu ke-2 setelah Pentakosta (Hijau) Minggu, 12 Juni 2022 Renungan GKJ Minggu, 12 Juni 2022 - Amsal 8:1-4,22-31 - Minggu Trinitas (Putih) Minggu, 5 Juni 2022 Renungan GKJ Minggu, 5 Juni 2022 - Kisah Para Rasul 2:1-21 - Petakosta (Merah) Minggu, 15 Mei 2022 Renungan GKJ Minggu, 15 Mei 2022 - Saling Mengasihi - Kisah Para Rasul 11:1-18 - Minggu Paskah V (Putih) |
| popular pages | login | e-mail: admin@lagu-gereja.com © 2012 . All Rights Reserved. |