gkj.lagu-gereja.com      
View : 120 kali
Download MP3 Music
Minggu, 16 Februari 2025
Minggu Biasa (Hijau)

TEMA PERAYAAN IMAN
Diberkatilah Orang Yang Mengandalkan Tuhan
 
TUJUAN
Umat terdorong untuk senantiasa mengandalkan Tuhan dalam berbagai keadaan atau situasi hidup, tidak hanya mengandalkan kekuatan dan kemampuannya sendiri
 
DAFTAR BACAAN
Bacaan I                    : Yeremia 17:5-10
Tanggapan                : Mazmur 1
Bacaan II                    : I Korintus 15:12-20  
Bacaan Injil                : Lukas 6:17-26  
 
DAFTAR AYAT LITURGIS
Berita Anugerah           : Yeremia 29:11
Petunjuk Hidup Baru     : Amsal 3: 5-6
Persembahan               : Mazmur 107: 21-22
 
DAFTAR NYANYIAN LITURGIS
Bahasa Indonesia
Nyanyian Pujian           : KJ 3: 1, 3
Nyanyian Penyesalan     : PKJ 37: 1, 2
Nyanyian Kesanggupan : PKJ 202  
Nyanyian Persembahan : KJ 298: 1 - Nyanyian Pengutusan     : KJ 412: 1, 3  
 
Bahasa Jawa
Kidung Pamuji               : KPJ 5: 1,2
Kidung Panelangsa          : KPJ 52:1, 2
Kidung Kesanggeman     : KPJ 106: 1, 2
Kidung Pisungsung      : KPJ 157: 1 - Kidung Pangutusan      : KPJ 426: 1,3
 
Pdt. Wiji Astuti (GKJ Salatiga)
DASAR PEMIKIRAN
Tema “mengandalkan Tuhan” bukan hal yang baru bagi orang beriman. “Mengandalkan Tuhan” terkait erat dengan iman atau percaya. Setiap orang yang mengaku percaya atau beriman kepada Tuhan seharusnya hidup dengan mengandalkan Tuhan. Sebab apa artinya iman atau percaya itu jika manusia hanya mengandalkan kekuatan dan pikirannya sendiri? Dalam kenyataan memang sering terjadi bahwa orang mengaku percaya kepada Tuhan, namun tidak mempercayakan hidup kepada Tuhan. Semua hal dalam hidup ini dikerjakan dengan kekuatannya sendiri. Bahkan ada orang yang merasa bisa melakukan segala sesuatu tanpa Tuhan.  Itu artinya, ia tidak mengandalkan Tuhan. Namun ketika mengalami kegagalan dan masalah, seringkali justru Tuhan yang disalahkan.  
 
Firman Tuhan dalam ibadah Minggu saat ini menegaskan bahwa setiap orang yang mengandalkan Tuhan akan diberkati hidupnya. Berkat di sini tidak identik dengan berkat jasmani, yaitu materi atau hal-hal lain yang bersifat duniawi semata. Sekalipun kehidupan tidak steril dari masalah, tantangan dan pergumulan, tetapi dengan mengandalkan Tuhan, maka Tuhan memberikan kasih dan kekuatan untuk terus bertahan. Bukankah itu berkat Tuhan? Orang yang mengandalkan Tuhan juga berarti tetap menaruh harapan kepada Tuhan. Itu artinya, sekalipun kenyataan hidup tidak selalu sesuai dengan keinginan, namun kita tidak akan pernah kehilangan harapan, Kita tidak akan mudah menyerah dan berputus asa. Apakah Tuhan layak diandalkan? Tentu saja iya. Bukankah iman Kristen meyakini bahwa Tuhan Yesus Kristus adalah Juruselamat yang bangkit dari kematian? Iman Kristen adalah iman yang hidup dan berpengharapan. Sebab kalau Yesus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah iman kita dan sia-sia pula kehidupan kita.
KETERANGAN BACAAN  
Yeremia 17:5-10  
Kitab Yeremia 17: 5-10 merupakan nasihat yang mengingatkan umat Israel agar mereka menjalani kehidupan sebagai orang percaya dengan sikap hidup mengandalkan Tuhan.  
 
Di ayat 5-6, nabi Yeremia mengingatkan Israel bahwa orang yang mengandalkan manusia adalah orang yang celaka atau terkutuk. Orang terkutuk bisa dikatakan sebagai orang yang sudah “terbuang” dari hadapan Allah. Mengandalkan manusia bisa berarti mengandalkan diri sendiri ataupun orang lain. Semua itu tidak ada artinya dan tidak bisa menyelamatkan (tidak mengalami keadaan baik -" ayat 6). Sebaliknya, orang yang mengandalkan Tuhan dikatakan sebagai orang yang diberkati (ayat 7).
 
Kehidupan Yeremia sebagai nabi memperlihatkan bagaimana cara hidup seseorang yang mengandalkan Tuhan. Hal ini bisa kita perhatikan dari ayat-ayat selanjutnya. Saat itu, orang-orang meninggalkan Tuhan, tetapi dia tidak. Dia tahu Tuhan adalah sumber air yang hidup (17:13). Kepada Tuhan dia mencari kesembuhan, keselamatan dan perlindungan (17:14). Dia mengatakan kepada Tuhan, "Engkaulah perlindunganku pada hari malapetaka" (17:17). Dia tidak mencari perlindungan pada raja-raja bangsa lain. Dia tidak mengandalkan kekuatannya. Pengharapannya hanya pada Tuhan, yang disebutnya sebagai Pengharapan Israel (17:13). Berangkat dari keyakinan dan pengalaman hidupnya, di ayat 7 tadi Yeremia menyerukan firman Tuhan, “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!” Mengandalkan Tuhan dan menaruh harapannya pada Tuhan adalah perbuatan yang mencerminkan diri sebagai orang percaya.  Dalam bahasa aslinya
(Ibrani), frase “mengandalkan Tuhan” dan “menaruh harapan” akar     katanya     sama     yaitu     percaya  (https://alkitab.sabda.org/passage.php?passage=yer%2017:7-
8&tab=grkheb). Dengan kata lain yang diberkati itu adalah orang yang percaya kepada Tuhan dan yang kepercayaannya adalah Tuhan. Atau orang yang percaya kepada Tuhan dan yang selalu mempercayakan diri kepada Tuhan. Kata percaya ini diulang karena yang sering terjadi adalah banyak orang mengaku percaya kepada Tuhan tetapi tidak sungguh-sungguh mempercayakan diri kepada Tuhan. Orang lebih sering mengandalkan kekuatan dan kemampuannya sendiri dan sering meninggalkan Tuhan. Selajutnya, dikiaskan dalam ayat 8 bahwa orang yang mengandalkan Tuhan dan menaruh harapan kepada Tuhan itu adalah seperti pohon yang ditanam di tepi air. Itu artinya pohon yang mendapat cukup makanan dan minuman. Bagaimana keadaannya? Tentu ia akan tetap segar. Begitulah orang yang mempercayakan diri kepada Tuhan, hidupnya akan tetap terpelihara dalam berkat Tuhan. Tetapi “berkat” di sini tidak identik dengan berkat jasmani, yaitu materi atau hal-hal lain yang bersifat duniawi semata. Sekalipun kehidupan tidak steril dari masalah, tantangan dan pergumulan, dengan mengandalkan Tuhan, maka Tuhan memberikan kasih dan kekuatan untuk terus bertahan. Inilah berkat Tuhan yang membuat kehidupan kita tetap bertumbuh segar dan berpengharapan.
 
Di ayat 9-10, nabi Yeremia menyatakan bahwa kehidupan seseorang itu akan mengandalkan manusia atau mengandalkan Tuhan ternyata tergantung dari hatinya. Hati manusia memegang peranan penting dalam memutuskan sesuatu termasuk akan mengandalkan manusia atau mengandalkan Tuhan.
 
Mazmur 1  
Mazmur 1:1-6 ini merupakan pendahuluan kitab Mazmur. Mazmur ini membandingkan antara kelompok orang saleh atau orang benar, dan kelompok orang fasik. Orang saleh atau orang benar adalah orang yang kesukaannya adalah Taurat Tuhan dan merenungkan Taurat itu siang dan malam (ayat 2). Mereka akan berusaha untuk menaati kehendak Allah dari hati yang sungguhsungguh senang akan jalan dan perintah Tuhan, sehingga mereka akan menjauhi perbuatan-perbuatan dosa. Mereka inilah yang disebut berbahagia (are blessed = diberkati). Digambarkan bahwa keadaan mereka akan seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya, apa saja yang diperbuatnya berhasil (ayat 3). Orang yang hidup benar seturut kehendak dan perintah Tuhan, hidupnya akan terus dialiri kekuatan dari Tuhan, sehingga tidak mudah “layu”, Itulah berkat atau kebahagiaan orang yang hidup benar dan terus mengandalkan Tuhan. Sebaliknya orang fasik melukiskan orang berdosa yang tidak mau bertobat. Jalan hidup mereka akan menuju pada kebinasaan (ayat 6).  
 
1 Korintus 15:12-20
Dalam 1 Korintus 15: 12-20 Paulus menegaskan tentang pentingnya kebangkitan Kristus bagi kehidupan orang percaya. Penegasan Paulus ini awalnya dalam rangka menjawab keraguraguan sekelompok orang di tengah jemaat Korintus yang mempertanyakan kebenaran kebangkitan orang mati, termasuk di dalamnya kebangkitan Yesus. Paulus perlu untuk memberi penjelasan agar keragu-raguan mereka itu tidak menyebar, menular ke mana-mana dan menggoyahkan iman jemaat Tuhan. Ia mengatakan bahwa kebangkitan Kristus sungguh terjadi sebab ada banyak saksi mata.  Yesus Kristus yang bangkit itu telah menampakkan diri kepada Kefas (Petrus), kedua belas muridNya, 500 orang sekaligus, Yakobus, semua rasul dan akhirnya kepada Paulus sendiri.  Sebagian saksi mata itu masih hidup saat Paulus menuliskan suratnya.  Itu artinya fakta kebangkitan Yesus itu masih bisa dikonfirmasi. Jadi Paulus menegaskan bahwa kebangkitan Kristus benar-benar terjadi, dan bahkan membawa pengaruh yang besar dalam hidupnya. Bahkan kuasa kebangkitan Yesus mampu mengubah hidupnya. Ia menjadi seorang rasul yang berani memberitakan Injil apapun konsekuensinya. Semboyannya adalah “hidup bagiku adalah Kristus dan mati adalah keuntungan”. Untuk itulah, Paulus mengingatkan jemaat Korintus dan jemaat Tuhan saat ini agar mengingat dan menghayati betapa pentingnya kebangkitan Yesus itu.  Dalam I Korintus 15:14 dinyatakan “Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.” Selain itu, Paulus melanjutkan: kalau benar Yesus tidak bangkit, berarti ia berdusta kepada Allah yang diberitakannya telah membangkitkan Yesus.  Kemudian ada lagi konsekuensi logis lainnya bila Kristus tidak bangkit, yaitu:
•    Pertama, sia-sia juga kepercayaan kita akan adanya penebusan dosa dan kita masih tetap hidup dalam dosa kita (ay. 17).
•    Kedua, tidak ada kebangkitan orang mati.  Orang-orang yang percaya kepada Kristus tidak akan pernah bangkit, semua akan mengalami kebinasaan dan tidak terselamatkan (ay. 18).
•    Ketiga, kita adalah orang yang paling malang di antara umat manusia karena kita telah mengimani suatu kebohongan dan berharap pada harapan yang kosong  (ay. 19).
 
Di ayat 20, Paulus menegaskan, “Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal.  Itu artinya, kebangkitan Yesus dipahami adalah tanda dimulainya kebangkitan orang-orang percaya. Kebangkitan Yesus menjadi jaminan bahwa orang-orang percaya pun nanti akan dibangkitkan. Dengan demikian, kebangkitan Yesus sungguh-sungguh membawa pengharapan bagi orang percaya. Kehidupan orang percaya, tidak berakhir pada kematian yang sia-sia. Hidup orang percaya menuju pada hari esok yang penuh harapan.
Lukas 6:17-26
Lukas 6: 17-26 terdiri dari 2 perikop. Perikop pertama, yaitu ayat 17-19 berbicara tentang Yesus yang mengajar dan menyembuhkan banyak orang. Kemanapun Tuhan Yesus pergi, tampaknya tidak pernah lepas dari kerumunan orang-orang sakit dan lain-lain yang membutuhkan pertolonganNya. Bukan hanya penyakit secara jasmaniah, tetapi ada juga orang-orang yang kerasukan setan (ay. 18). Semua orang yang membutuhkan kesembuhan itu memang semua mengalami kesembuhan (ay.19). Tidak ada yang ditolak. Tuhan Yesus tahu bahwa mereka membutuhkan pertolongan. Dan keyakinan yang luar biasa terhadap kuasa Yesus, sungguh sangat menolong mereka sehingga tetap berusaha untuk menjamah Dia atau merasakan kuasaNya yang memberi kesembuhan.  
 
Perikop kedua, yaitu ayat 20-26 berisi tentang ucapan bahagia dan peringatan. Di sini Yesus berbicara tentang siapa orang yang disebut berbahagia dan siapa yang disebut celaka. Menarik untuk kita perhatikan, bahwa Yesus menyapa dan menyampaikan ucapan bahagia kepada mereka yang justru kondisi secara fisik berlawanan dengan kata “bahagia” itu. Kalau Matius mencatat ada 9 ucapan bahagia (Matius 5: 1-12), Lukas hanya menekankan 4 ucapan bahagia. Ucapan bahagia itu Yesus sampaikan kepada kamu yang miskin, kamu yang lapar, kamu yang sekarang menangis, kamu yang dibenci karena Anak Manusia. Kepada mereka inilah Yesus menyebut sebagai orang yang berbahagia! Apa arti berbahagia di sini? Bahasa Yunani dari kata berbahagialah adalah Makarios. Makarios memiliki makna yang lebih dalam daripada sekedar happy. Kata makarios juga mengandung makna: kaya, mampu, beruntung, terberkati. Bayangkan Yesus mengucapkan kata-kata bahagia itu ditujukan kepada mereka yang benar-benar miskin, lapar, berduka dan dibenci. Yesus berbicara kepada mereka yang terbiasa memandang ke bawah karena malu dan tidak punya harapan; para perempuan, orang sakit, orang miskin, orang Yahudi campuran kelas dua, mereka yang hidupnya hancur karena telah salah mengambil keputusan. Kepada mereka yang tertindas karena ketidak-adilan, Yesus juga menyampaikan ucapan bahagia itu. Kadang mereka akan menerima penganiayaan karena mempertahankan prinsip termasuk keberpihakan kepada Yesus. Derita dan aniaya itu mungkin saja akan mereka tanggung. Bisa saja mereka akan kehilangan nyawa. Tapi mereka disebut berbahagia, oleh karena komitmen kesetiaan mereka dalam mengikut Yesus akan berbuah manis. Dengan komitmen kesetiaan kepada Yesus itu, mereka akan hidup terus dalam persekutuan dengan Kristus. Sebaliknya, Yesus menyebut celaka bagi orang yang kaya, kenyang, tertawa dan menerima pujian. Dalam hal ini Yesus tidak sedang berkata bahwa kita tidak boleh kaya, tidak boleh kenyang, tidak boleh tertawa dan tidak boleh menerima pujian. Kita harus behati-hati memahami perkataan Yesus ini. Apa yang digambarkan oleh Yesus tersebut adalah orang yang merasa berpuas diri, dengan memusatkan hidup pada materi, merasa sudah bisa mencukupi segala kebutuhan, mengenyangkan segala keinginan, merasa diri cukup hebat karena banyak dipuji, lalu dengan itu ia merasa  tidak butuh Tuhan, dan hidup dengan tidak mengandalkan Tuhan lagi, Orang-orang itulah yang disebut celaka. Orang seperti itu mungkin merasa bahagia secara duniawi, tetapi itu sorga palsu, bukan sorga yang sesungguhnya.
 
POKOK DAN ARAH PEWARTAAN  
Tema “Diberkatilah Orang Yang Mengandalkan Tuhan” adalah kalimat kutipan dari firman Tuhan yang tertulis di Yeremia 17: 7. Makna “mengandalkan Tuhan” ini terkait erat dengan “menaruh harapan kepada Tuhan”. Keduanya berbicara tentang iman atau percaya. Namun iman tidak sekedar percaya. Mazmur 1 menegaskan bahwa orang yang beriman dan mengandalkan Tuhan maka ia pun melakukan Taurat Tuhan. Artinya orang yang mengandalkan Tuhan adalah orang yang taat pada kehendak Tuhan. Sedangkan makna “diberkati” digambarkan keadaanya seperti pohon yang ditanam di tepi air (Yer. 17: 8, Mazmur 1: 3). Ia akan tetap segar karena hidupnya senantiasa terpelihara dalam kasih, kuasa dan berkat Tuhan. Yesus pun menegaskan hal ini, sebab setiap orang yang terus menggantungkan hidup kepada Tuhan, mengandalkan kasih dan kuasa Tuhan, tidak memusatkan diri pada materi duniawi, yang terus menjaga komitmen kesetiaannya kepada Yesus, ia disebut berbahagia atau terberkati. Berkat di sini tidak identik dengan berkat-berkat jasmani. Orang yang mengandalkan Tuhan akan menerima berkat kekuatan, kedamaian, bahkan keselamatan dan hidup yang kekal, yang dijamin oleh Yesus yang bangkit. Melalui bacaan leksionari Minggu ini, pengkhotbah bisa mengarahkan jemaat untuk tidak ragu mengandalkan Tuhan.
 
KHOTBAH JANGKEP BAHASA INDONESIA
 
DIBERKATILAH ORANG YANG MENGANDALKAN TUHAN
 
(Untuk mengawali khotbah ini, pengkhotbah bisa menampilkan video animasi singkat tentang perjalanan seseorang di padang pasir yang kehabisan air minum. Video bisa diunduh di https://www.youtube.com/watch?v=PGYJEg991PE. Jika tidak memungkinkan untuk menampilkan video tersebut, pengkhotbah bisa menceritakan isi video tersebut kepada jemaat)
 
Ya! mungkin ada yang sudah pernah melihat video singkat tadi. Memang hanya semacam film kartun, mungkin ada yang berpikir bahwa itu cocok untuk anak-anak. Tetapi sebenarnya video singkat tadi memberikan pengajaran penting bagi kita, terutama soal mengandalkan Tuhan.
Jika kita perhatikan, orang dalam video tadi berada dalam masalah. Ia kehausan dan kehabisan air. Dia butuh air. Apa yang dia lakukan? awalnya memang ia berdoa, mohon pertolongan Tuhan. Sepertinya mengandalkan Tuhan, namun ketika Tuhan memberikan petunjuk untuk memenuhi kebutuhannya, ia malah berkali-kali menolak. Dia hanya mengandalkan pemikiran dan kehebatannya sendiri, yang ia yakini lebih baik daripada petunjuk Tuhan. Padahal jika ia betul-betul mengandalkan Tuhan dan mengikuti petunjuk Tuhan, hasilnya bukan hanya setetes air yang ia dapatkan, tetapi sebuah danau dengan air yang segar plus ada wanita cantik. Artinya, jika kita benar-benar mengandalkan Tuhan, tunduk pada kehendak-Nya, meskipun harus melewati jalan yang nampak sulit dan tidak kita sukai, Tuhan akan membawa kita pada rencana-Nya yang terbaik. Hidup kita pasti terberkati.
 
Firman Tuhan di dalam Yeremia 17 ayat 7 menyebutkan: “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!” Mengandalkan Tuhan dan menaruh harapannya pada Tuhan adalah perbuatan yang mencerminkan diri sebagai orang percaya.  Dalam bahasa aslinya (Ibrani), frase “mengandalkan Tuhan” dan “menaruh harapan” akar katanya sama yaitu percaya. Dengan kata lain yang diberkati itu adalah orang yang percaya kepada Tuhan dan yang kepercayaannya adalah Tuhan. Atau orang yang percaya kepada Tuhan dan yang selalu mempercayakan diri kepada Tuhan. Kata percaya ini diulang karena yang sering terjadi adalah banyak orang mengaku percaya kepada Tuhan tetapi tidak sungguh-sungguh mempercayakan diri kepada Tuhan. Orang lebih sering mengandalkan kekuatan dan kemampuannya sendiri dan sering meninggalkan Tuhan. Selajutnya, dikiaskan dalam ayat 8 bahwa orang yang mengandalkan Tuhan dan menaruh harapan kepada Tuhan itu adalah seperti pohon yang ditanam di tepi air. Itu artinya pohon yang mendapat cukup makanan dan minuman. Bagaimana keadaannya? Tentu ia akan tetap segar. Begitulah orang yang mempercayakan diri kepada Tuhan, hidupnya akan tetap terpelihara dalam berkat Tuhan. Tetapi jangan salah mengerti.  “Berkat” di sini tidak identik dengan berkat jasmani, yaitu materi atau hal-hal lain yang bersifat duniawi semata. Sekalipun kehidupan tidak steril dari masalah, tantangan dan pergumulan, dengan mengandalkan Tuhan, maka Tuhan memberikan kasih dan kekuatan untuk terus bertahan. Inilah berkat Tuhan yang membuat kehidupan kita tetap bertumbuh segar dan berpengharapan. Berkat seperti itulah yang menjadi kebahagiaan bagi orang percaya.
 
Dengan bahasa yang berbeda, Yesus menyebut orang yang berbahagia adalah kamu yang miskin, kamu yang lapar, kamu yang sekarang menangis, kamu yang dibenci karena Anak Manusia. Kepada mereka inilah Yesus menyebut sebagai orang yang berbahagia! Apa arti berbahagia di sini?  
 
Bahasa Yunani dari kata berbahagialah adalah Makarios. Makarios memiliki makna yang lebih dalam daripada sekedar happy. Kata makarios juga mengandung makna: kaya, mampu, beruntung, terberkati. Bayangkan Yesus mengucapkan kata-kata bahagia itu ditujukan kepada mereka yang benar-benar miskin, lapar, berduka dan dibenci. Yesus berbicara kepada mereka yang terbiasa memandang ke bawah karena malu dan tidak punya harapan; para perempuan, orang sakit, orang miskin, orang Yahudi campuran kelas dua, mereka yang hidupnya hancur karena telah salah mengambil keputusan. Kepada mereka yang tertindas karena ketidak-adilan, Yesus juga menyampaikan ucapan bahagia itu. Kadang mereka akan menerima penganiayaan karena mempertahankan prinsip termasuk keberpihakan kepada Yesus. Derita dan aniaya itu mungkin saja akan mereka tanggung. Bisa saja mereka akan kehilangan nyawa. Tapi mereka disebut berbahagia, oleh karena komitmen kesetiaan mereka dalam mengikut Yesus akan berbuah manis. Dengan komitmen kesetiaan kepada Yesus itu, mereka akan hidup terus dalam persekutuan dengan Kristus.
 
Jika kita perhatikan, orang yang miskin, lapar, yang menangis dan dibenci adalah gambaran orang yang mengalami kelemahan dan kerapuhan. Apakah mungkin mereka yang mengalami kelemahan dan kerapuhan, justru merasa bahagia? Sangat mungkin sebab ketika kita menyadari bahwa kelemahan dan kerapuhan kita adalah ruang di mana kita sungguh-sunguh mengandalkan Allah, di situ kita berbahagia. Di situ kita justru akan merasakan kasih dan kuasa Allah yang bekerja dalam diri dan hidup kita. Dan kalau Allah bekerja dalam diri kita, hasilnya melebihi apa yang kita pikirkan. Berkat-Nya, damai-Nya, kekuatan-Nya dinyatakan kepada kita.  
 
Sebaliknya, Yesus menyebut celaka bagi orang yang kaya, kenyang, tertawa dan menerima pujian. Kalau begitu. apakah kita tidak boleh kaya, tidak boleh kenyang, tidak boleh tertawa dan tidak boleh menerima pujian? Tentu saja boleh. Hanya saja kita harus berhati-hati. Ketika kita merasa berpuas diri, dengan memusatkan hidup pada materi, merasa sudah bisa mencukupi segala kebutuhan, mengenyangkan segala keinginan, merasa diri cukup hebat karena banyak dipuji, lalu dengan itu kita merasa  tidak butuh Tuhan, dan hidup dengan tidak mengandalkan Tuhan lagi, di situ kita disebut celaka. Orang seperti itu mungkin merasa bahagia secara duniawi, tetapi itu sorga palsu, bukan sorga yang sesungguhnya. Ia merasa diberkati karena berbagai materi, namun kehilangan berkat sesungguhnya dari Tuhan. Surat 1 Korintus 15: 12-26 mengajak kita untuk memaknai pentingnya kebangkitan Kristus, Jika Kristus tidak bangkit, maka sia-sialah iman percaya kita, dan sia-sia juga hidup kita. Sebab jika Kristus tidak bangkit, maka hidup kita akan berakhir pada kematian atau kebinasaan. Keyakinan iman ini penting bagi kita, sebab meneguhkan kita bahwa Kristus yang bangkit itu layak untuk kita andalkan. Dengan mengandalkan Kristus yang bangkit dan menaruh harapan kepada-Nya, maka kita punya masa depan yang indah. Ada berkat Tuhan yang disediakan bagi kita melebihi segala berkat di dunia ini, yaitu keselamatan anugerah Tuhan. Jika kita setia sampai akhir kepada Kristus, maka kita sungguh-sungguh menjadi orang yang diberkati.  
 
Namun kita sadar, untuk menjaga kesetiaan mengikut Kristus, dan terus mengandalkan-Nya, bukanlah hal yang mudah. Rasa angkuh dan sombong selalu menggoda kita, sehingga seringkali kita hanya mengandalkan kekuatan dan kemampuan manusia. Saat menghadapi berbagai pergumulan hidup, seringkali kita menjadi tidak sabar, lalu meninggalkan ketaatan dan kesetiaan kepada Tuhan, mencari pertolongan di luar Tuhan, dan tidak lagi mengandalkan Tuhan. Mari menyadari bahwa kita adalah manusia yang terbatas. Namun saat kita mengalami kelemahan dan kerapuhan, jangan berkecil hati, Jadikan ketidaksempurnaan, kelemahan dan kerapuhan justru sebagai tempat atau ruang bagi kita untuk mengandalkan Tuhan. Ketika kita mengandalkan Tuhan, maka kita akan berserah pada tuntunan-Nya, taat pada kehendak-Nya, dan terus setia menjadi pengikut Kristus. Di situlah maka kasih dan kuasa Allah bekerja nyata dalam hidup kita, dan akan merasakan bahagia, sukacita dan diberkati Tuhan.
Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan! Amin  
 
 
 
 
 
KHOTBAH JANGKEP BAHASA JAWA
 
BINERKAHANA WONG KANG KUMANDEL MARANG GUSTI
 
(Kangge murwakani khotbahipun, pengkhotbah saged nayangaken video animasi cekak bab satunggaling tiyang ingkang lumampah ing padang pasir lan katelasan toya satemah rumaos ngorong. Video saged kapendhet saking Youtube kanthi link https://www.youtube.com/watch?v=PGYJEg991PE. Menawi pengkhotbah boten saged nayangaken video punika, pengkhotbah saged nyariosaken isining cariyos ing video punika dhateng pasamuwan)
 
Mbokbilih wonten ingkang sampun nate mirsani video cekak kalawau. Sianosa namung kados film kartun, video cekak wau paring piwulang ingkang wigati kangge kita, mirungganipun bab kumandel marang Gusti.
 
Menawi kita gatosaken, tiyang ingkang kacariyosaken wonten ing video kalawau saweg ing salebeting masalah. Piyambakipun ngorong lan katelasan toya. Piyambakipun saestu mbetahaken toya. Punapa ingkang katindakaken? Sewaunipun pancen ndedonga, nyuwun pitulunganipun Gusti. Ketingalipun kumandel dhateng Gusti.  Nanging nalika Gusti paring pitedah, piyambakipun malah makaping-kaping nampik. Piyambakipun namung ngendelaken pamikir saha kesagedipun piyambak ingkang dipunpitadosi langkung sae tinimbang pitedahipun Gusti. Kamangka menawi piyambakipun saestu kumandel dhateng Gusti lan manut dhateng pitedahipun Gusti, piyambakipun boten namun manggihaken saktetes toya, nanging satunggaling kolam ingkang luber-luber toyanipun. Punika ateges, menawi kita saestu kumandel dhateng Gusti lan gesang manut karsanipun Gusti, sinaosa kedah nglangkungi margi ingkang angel lan boten ngremenaken, Gusti badhe nuntun kita dhateng rancanganipun ingkang paling sae. Gesang kita mesthi badhe binerkahan.
 
Pangandikanipun Gusti ingkang sinerat ing Kitab Yeremia 17 mirungganipun ayat 17 nelakaken mekaten, “Binerkahan wong kang kumandel marang Sang Yehuwah, lan pangarep-arepe marang Sang Yehuwah!”. Kumandel lan nggadhahi pengajengajeng dhateng Gusti punika nelakaken tumindakipun tiyang pitados/beriman. Ing basa aslinipun (basa Ibrani), tembung “kumandel  marang Sang Yehuwah” lan “pengarep-arepe marang Sang Yehuwah” punika saking tembung ingkang sami, inggih punika pracaya. Kanthi tembung sanes, ingkang binerkahan inggih punika tiyang ingkang pitados dhateng Gusti Allah lan mitadosaken gesang namung dhateng Gusti Allah. Tembung “pracaya” punika kaginakaken ngantos ambal kaping kalih awit kathah tiyang ingkang ngaken minangka tiyang pitados nanging boten mitadosaken gesang sacara wetah dhateng Gusti. Tiyang langkung remen ngendelaken kekiyatan saha kesagedanipun piyambak, lan asring nglirwakaken Gusti. Salajengipun kagambaraken ing ayat 8 bilih tiyang ingkang kumandel dhateng Gusti lan pengajeng-ajengipun namung Gusti punika kadosdene wit ingkang katanem ing sapinggiring toya. Oyod-oyodipun wit wau mrambat ing pinggiring lepen. Kadaspundi kawontenanipun wit punika? Ayat 8 nelakaken bilih wit punika ronipun tetep ijem lan tanpa kendhat ngedalaken woh. Inggih mekaten punika kawontenanipun tiyang ingkang kumandel dhateng Gusti lan mitadosaken gesang dhateng Gusti. Gesangipun badhe tansah karimat wonten ing berkahipun Gusti. Nanging berkah ing ngriki boten winates berkah kajasmanen kemawon ingkang arupi bandha utawi prekawis kadonyan. Sinaosa gesang kita boten uwal saking mawarni-warni masalah lan pepalang, kanthi kumandel dhateng Gusti, kita badhe tansah kaparingan kekiyatan supados tatag tanggon nglampahi gesang punika. Punika berkahipun Gusti ingkang njalari gesang kita tetep tuwuh kanthi seger sarta boten kecalan pengajeng-ajeng. Berkah ingkang kados mekaten ingkang badhe nuntun kita dhateng karahayon peparingipun Gusti. Punika kabingahan ingkang sejati tumrap tiyang pitados
 
Ing waosan Injil Lukas 6: 17-26 Gusti Yesus paring piwulang bab kabingahan ingkang sejati. Ing ayat 20b-22 Gusti Yesus ngedika “Rahayu kowe kang padha mlarat….Rahayu kowe kang saiki padha kaluwen…. Rahayu kowe kang saiki nangis, …lan rahayu kowe, manawa marga saka Putraning Manungsa, padha disengiti ing wong, disingkang-singkang sarta diwewada apadene jenengmu dianggep ala lan diemohi.”.  
 
Tembung “rahayu” ing basa aslinipun (basa Yunani) inggih punika makarios, ingkang tegesipun happy -" bingah, utawi blessed- binerkahan. Lajeng kenging punapa Kitab Suci bahasa Jawi ngginakaken tembung rahayu? Kamangka rahayu punika saged nggadhahi teges: slamet, widada, raharja, wilujeng, lsp. Nah, ing ngriki tembung bahasa Jawi nggadhahi makna ingkang langkung lebet, bilih kabingahan saha berkah sejati punika sumberipun namung saking Gusti, sanes saking bab-bab kadonyan ingkang boten langgeng. Tiyang ingkang gesangipun saestu kumandel dhateng Gusti lan ngugemi punapa ingkang dados dhawuh lan kersanipun Gusti, saestu sinebat tiyang ingkang bingah, tiyang ingkang binerkahan, utawi tiyang ingkang rahayu.  
 
Lajeng menawi kita gandheng-cenengaken kaliyan pangandikanipun Gusti, tiyang ingkang miskin, ingkang sami keluwen, ingkang nangis lan dipunsengiti, punika gambaran tiyang ingkang ngalami karingkihan. Kenging punapa malah sinebat tiyang ingkang bingah, binerkahan lan rahayu? Punapa saged tiyang-tiyang ingkang sekeng lan ringkih punika rumaos bingah lan binerkahan? Temtu kemawon saged, awit nalika kita ngrumaosi karingkihan kita lajeng saestu kumandel dhateng Gusti Allah, kita badhe ngraosaken kabingahan, rumaos binerkahan lan rahayu. Kenging punapa saged mekaten? Awit kita badhe ngraosaken sih katresnan lan panguwaosipun Gusti Allah ingkang nyata ing gesang kita. Lan menawi Gusti Allah makarya ing gesang kita, kita badhe ngraosaken prekawis ingkang ngeramaken. Berkah, tentrem rahayu, kekiyatan saking Gusti badhe rumentah ing gesang kita.  
 
Kosokwangsulipun, Gusti Yesus mastani bilai tumrap tiyang ingkang sugih, tuwuk, gumujeng saha tiyang ingkang nampi pangalembana (ayat 24-26). Menawi mekaten, punapa kita boten pareng sugih, boteng pareng tuwuk, boten pareng gumujeng, saha boten pareng nampi pangalembana? Temtu kemawon pareng. Nanging kita kedah waspada. Nalika kita sampun rumaos marem kanthi ngeneraken gesang namung dhateng bab-bab utawi prekawis kadonyan, rumaos, sampun saged nyekapi kabetahan kanthi kekiyatan piyambak, saged nuwukaken sedaya pepinginan, rumaos dhiri hebat karana kathah pangalembana ingkang kita tampi, lajeng kita rumaos boten mbetahaken Gusti malih lan gesang boten ngendelaken Gusti, kita sinebat tiyang ingkang bilai. Gesang kita boten binerkahan nanging cilaka. Tiyang ingkang kados mekaten mbokbilih rumaos bingah sacara kadonyan, nanging punika kabingahan ingkang boten langgeng. Tiyang punika rumaos binerkahan awit maneka warni prekawis kadonyan ingkang saged kagayuh, nanging kecalan berkah ingkang sejatosipun, inggih punika karahayon saking Gusti. Serat I Korinta 15: 12-26 ugi ngemutaken dhateng kita, bilih namung Gusti Yesus Kristus ingkang saged dados andel-andeling gesang ingkang utami, awit Panjenenganipun wungu saking seda. Menawi Sang Kristus boten wungu saking seda, gesang kita badhe muspra, Menawi Sang Kristus boten wungu, gesang kita badhe tumuju dhateng karisakan utawi pepejah langgeng. Pramila bab punika mbereg kita supados gesang kanthi kumandel ingkang saestu dhateng Sang Kristus. Kanthi kumandel dhateng Sang Kristus lan mitadosaken gesang dhateng Panjenenganipun, kita nggadhahi masa depan ingkang endah. Wonten berkah ingkang kacawisaken dhateng kita nglangkungi berkah-berkah kadonyan punapa kemawon, inggih punika karahayon utawi kawilujengan peparingipun Gusti. Menawi kita setya ndherek Gusti dumugi pungkasan, kita badhe saestu sinebat tiyang ingkang binerkahan lan rahayu.
 
Nanging kita ngrumaosi bilih njagi kasetyan dhateng Gusti, tansah kumandel dhateng Panjenenganipun punika sanes prekawis ingkang gampil. Ing kasunyatan, kita asring namung ngendelaken kekiyatan lan kesagedan kita piyambak. Nalika ngadhepi mawarniwarni prekawising gesang, kita asring boten sabar, lajeng nilar kasetyan saha pambangun-turut dhateng Gusti, pados pitulungan ing sajawinipun Gusti. Kita boten malih kumandel dhateng Gusti. Sumangga kita ngrumaosi bilih kita punika manungsa ingkang ringkih lan sarwa winates. Nanging nalika kita ngalami karingkihan, sampun alit ing manah. Dadosna karingkihan lan kawontenan kita ingkang sarwa winates punika minangka wewengan kangge kita ngendelaken Gusti. Nalika kita ngendelaken Gusti, kita badhe pasrah dhateng panuntunipun Gusti, mbangun miturut dhateng karsanIpun, lan tansah setya dados pendherekIpun. Ing ngriku kita badhe ngraosaken bingah lan binerkahan, awit sih katresnan lan panguwaosipun Gusti saestu nyata. Binerkaha tiyang ingkang kumandel dhateng Gusti! Amin  Minggu, 23 Februari  2025












Selanjutnya:

Khotbah GKJ - Minggu, 23 Februari 2025 - Kasih Itu Mengampuni - 1 Korintus 15: 35-38, 42-50 - Minggu Biasa (Hijau)


Sebelum:

Khotbah GKJ Minggu, 9 Februari 2025 - Tebarkan Jalamu! - I Korintus 15:1-11 - Minggu Biasa (Hijau)




All Garis Besar:
MENU UTAMA:
Kidung Pasamuan Jawi (KPJ)(1)
Alkitab JAWA Prajanjian Lawas(1)
Bacaan Alkitab GKJW 2026(1)
Bacaan Leksionari GKJ 2025(8)
Bacaan Leksionari GKJ 2026(12)
Contoh Tata Ibadah GKJ(29)
Kalender GKJ 2017(7)
Kalender GKJ 2018(12)
Kalender GKJ 2019(12)
Kalender Liturgi GKJ 2023(12)
Khotbah GKJ 2016(1)
Khotbah GKJ 2025(21)
Khotbah GKJ 2026(5)
Khotbah GKJW 2026(7)
Kidung Pasamuwan Kristen (KPK)(8)
Kidung Pasamuwan Kristen Anyar (KPKA)(345)
Kidung Pasamuwan Kristen Lawas (KPKL)(171)
Kidung Ria GKJW(33)
Klasis Gereja Kristen Jawa (GKJ)(32)
NA(1)
Pembacaan Alkitab 2016(1)
Renungan GKJ 2022(29)
Renungan GKJ 2023(13)
Renungan GKJ 2024(1)
Renungan GKJW 2024(4)
Renungan GKJW 2026(3)
Tata Ibadah GKJ 2024(2)
Tentang GKJ(3)
xxx(4)

Arsip Khotbah GKJ 2025..


Register   Login  


Kalender Liturgi GKJ September 2023


Kostenlose Backlinks bei http://backl.pommernanzeiger.de Seitenpartner www.condor-bbs.com Rankingcloud.de - Hosting in der Cloud Suchmaschinenoptimierung Kostenloser Auto-Backlink von www.cheers2.de