gkj.lagu-gereja.com      
View : 91 kali
Download MP3 Music
Minggu, 2 Maret 2025
Minggu Transfigurasi (Putih)
 
TEMA
Dengarkanlah Dia!
 
TUJUAN  
Umat memiliki kepekaan untuk mendengarkan Sabda Kristus dalam kehidupannya, baik melalui pembacaan kitab suci, ibadatibadat, relasi dengan sesama, dan melalui aktivitas keseharian.
 
DAFTAR BACAAN
Bacaan I     : Keluaran 34:29-35
Tanggapan      : Mazmur 99
Bacaan II     : II Korintus 3:12 - 4:2
Bacaan Injil     : Lukas 9:28-36 (37-43a)
 
DAFTAR AYAT PENDUKUNG LITURGI:
Berita Anugerah     : Yesaya 1:18-19
Petunjuk Hidup Baru     : Amsal 1:32-33
Dasar Persembahan     : 2 Korintus 9:6-7
 
DAFTAR NYANYIAN PENDUKUNG LITURGI:
Bahasa Indonesia
Nyanyian Pujian     : KJ 4:1, 2, dan 6
Nyanyian Penyesalan     : KJ 29:1-3 Nyanyian Kesanggupan : KJ 53:1-2 Nyanyian Persembahan : PKJ 148:1-...
Nyanyian Pengutusan
 
Bahasa Jawa     : PKJ 184:1-2
Kidung Pamuji     : KPJ 14:1-2
Kidung Panelangsa     : KPJ 55:1-2
Kidung Kasanggeman     : KPJ 72:1 lan 4
Kidung Pisungsung     : KPJ 167:1-...
Kidung Pangutusan     : KPJ 441
 
Pdt. Johan Kristantara (GKJ Bekasi Timur)
DASAR PEMIKIRAN
•    Peristiwa pemuliaan Yesus di atas gunung (transfigurasi) merupakan sebuah perayaan agung -" yang tidak kalah nilainya dibandingkan Paskah, Natal, atau Pentakosta. Transfigurasi adalah perayaan iman yang memberikan konfirmasi kepada para pengikut Yesus, bahwa Ia adalah sungguh-sungguh sosok yang mulia, agung, dan patut dijunjung tinggi. Dengan pesan illahi, “Dengarkanlah Dia!”, para murid mendapatkan wawasan baru bahwa bukan hanya kitab Taurat (diwakili sosok Musa) dan kitab nabi-nabi (diwakili sosok Elia) yang perlu mereka dengarkan. Sabda Kristus pun juga perlu mereka dengarkan.
•    Mendengarkan adalah aktivitas sensorik dasar yang dimiliki oleh manusia sejak lahir. Gangguan atau disabilitas pendengaran tentu sangat mempengaruhi kemampuan seseorang beraktivitas sehari-hari. Banyak orang rela merogoh kocek ratusan ribu hingga jutaan Rupiah untuk menjalani terapi pendengaran dan/atau membeli alat bantu dengar. “Pendengaran batin”, yaitu kemampuan untuk memilah (discerning) apa yang baik dan seturut kehendak Allah, juga tidak kalah penting. Mendengarkan-melakukan adalah bagaikan dua sisi dari satu mata uang. Jadi, mendengarkan Sang Kristus berarti juga melakukan apa yang diajarkan dan diteladani-Nya.  
 
KETERANGAN BACAAN
Keluaran 34:29-35
Musa mengajar orang-orang Israel berdasarkan segala yang diilhamkan Allah kepadanya. Setiap kali Musa menerima perintah dari Allah, perintah itu segera ia sampaikan kepada umat. Dalam pada itu, setiap kali Musa usai menghadap Tuhan, ia pun “terpapar” cahaya kemuliaan Tuhan, yang menyebabkan mukanya bercahaya. Gambaran wajah Musa yang bercahaya ini sesungguhnya juga melukiskan betapa Allah ingin memperlihatkan kemuliaanNya kepada umat sekaligus membangun relasi yang baik dengan mereka melalui Musa, hamba-Nya, yang adalah pemimpin bangsa itu. Kalau di peristiwa sebelumnya, orang-orang Israel lebih senang mendengarkan asumsi dan kehendak pribadi mereka sendiri sehingga jatuh ke dalam penyembahan patung anak lembu emas, kini mereka telah berbalik/bertobat. Mereka telah siap mendengarkan perintah Allah melalui Musa, pemimpin mereka.  
 
Transfigurasi wajah Musa juga menghadirkan kepastian kepada umat bahwa Allah masih tetap berkenan hadir dan memimpin mereka. Dengan kepastian itu, mereka mau mendengarkan ketika Allah berbicara melalui pengajaran Musa. Kemuliaan Allah yang terpancar dari wajah Musa memang memunculkan rasa takut, namun sekaligus juga menghadirkan kehangatan, rasa dekat, dan kasih (“ajrih asih”) dalam diri orang-orang Israel. Dengan model perjumpaan yang seperti itu, terjalinlah relasi antara umat dengan Allah. Umat bersedia mendengarkan Musa dengan baik, karena kemuliaan Allah hadir melalui cahaya di wajah Musa. Ketika umat mendengarkan pengajaran Musa, mereka mendengarkan sabda Allah.
 
Mazmur 99
Pemazmur menggambarkan Tuhan sebagai Raja yang berkuasa, mulia, besar, tinggi, istimewa, serta menjunjung kebenaran dan keadilan. Satu hal yang menarik, Sang Raja yang demikian luhur dan berkuasa itu ternyata berkenan untuk menjalin relasi dengan umat-Nya. Nama Musa, Harun, dan Samuel disebut dalam mazmur ini sebagai perantara umat menjalin relasi dengan Allah. Penggambaran Musa yang berkomunikasi dengan Allah di balik tiang awan digambarkan pada ayat 7. Lebih jauh, Allah digambarkan sebagai sosok hakim yang berwelas asih, yang mengampuni kesalahan, tetapi juga membalas perbuatan-perbuatan-perbuatan umat-Nya. Dia adalah Allah yang tersembunyi, sekaligus Allah yang menyatakan diri. Allah yang tinggi, namun juga Allah yang hadir bagi manusia yang rendah. Demikian istimewanya sosok Allah bagi pemazmur, sehingga ia menyatakan, “Sebab Tuhan, Allah kita, kudus!”
 
II Korintus 3:12-4:2
Rasul Paulus memahami dipakainya selubung muka oleh Musa sebagai caranya menutupi cahaya kemuliaan Allah yang sementara dan bisa hilang atau pudar. Di sisi lain, sebenarnya, bisa juga selubung muka itu dipahami sebagai cara Musa menjaga komunikasi dengan orang-orang Israel, karena mereka takut memandang cahaya kemuliaan Allah. Perbedaan cara Paulus memahami fungsi selubung wajah Musa ini karena ia ingin menghubungkannya dengan “selubung” yang menghalangi orang-orang Yahudi untuk memahami Taurat dengan benar (ayat 14-15). Ketika seseorang percaya kepada Kristus, maka seolah-olah “selubung hati” itu diangkat atau diambil, sehingga melalui Kristus dan sabda-Nya, orangorang percaya jadi mengerti apa yang dikehendaki oleh Allah.  
 
Memahami kehendak Allah dengan mendengarkan Kristus adalah bagian dari spiritualitas Kristen. Ketika seseorang memahami (dan tentunya melakukan) kehendak Allah, Paulus menggambarkannya sebagai “mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung.” Dengan demikian, bukan hanya Musa dan Yesus yang mengalami transfigurasi, kita pun juga mengalaminya. Sebagaimana kata Paulus, “kita sedang diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.” Lukas 9:28-36
Ketiga Injil sinoptik (Matius, Markus, dan Lukas) memberitakan peristiwa transfigurasi Yesus di atas gunung, di mana Yesus berubah rupa -" wajah dan pakaiannya menjadi putih bersinar. Dalam pada itu, ada beberapa kesamaan dalam narasi ketiga Injil, yaitu: 1. Murid-murid yang ikut Yesus naik ke atas gunung adalah Petrus, Yakobus, dan Yohanes. Nama ketiganya kerap kali disebut di ketiga Injil, yang menandakan bahwa ketiga murid inilah yang boleh jadi merupakan murid yang paling dekat dengan Yesus dan paling dipercaya oleh-Nya untuk mendampingi-Nya di momen-momen khusus. Injil Matius dan Markus mencatat, mereka ini pula yang menemani Yesus berdoa di Taman Getsemani.
2.    Kedua sosok profetik yang muncul dan bercakap-cakap dengan Yesus ketika Ia mengalami transfigurasi adalah Musa dan Elia. Kedua orang ini merupakan sosok-sosok besar dalam sejarah agama Yahudi. Dalam Tanakh (kitab suci orang Yahudi), ada tiga bagian besar kitab, yang mana dua di antaranya adalah Torah (kitab-kitab Taurat) dan Nevi’im (kitab nabinabi). Dalam peristiwa transfigurasi di atas gunung ini, sabda Allah dalam kitab-kitab Taurat direpresentasikan oleh sosok Musa, sedangkan sabda-Nya dalam kitab nabi-nabi diwakili oleh sosok Elia -" salah satu nabi terbesar Israel.  
3.    Sementara Yesus bercakap-cakap dengan Musa dan Elia ada awan yang turun menaungi mereka, lalu terdengar suara dari dalam awan itu yang berkata, “Inilah Anak-Ku, pilihan-Ku”, kemudian diikuti perintah kepada para murid, “Dengarkanlah Dia!” Dengan adanya suara dari dalam awan itu, kita bisa menyimpulkan bahwa peristiwa transfigurasi sebagai momen pemuliaan Yesus ini bukan hanya bermakna bagi pribadi Yesus, melainkan lebih ditujukan kepada para murid, sebagai cara Allah mendidik dan memberdayakan mereka.
Kebersamaan ketiga murid yang menyaksikan peristiwa transfigurasi Yesus, sosok Musa dan Elia yang merepresentasikan kitab-kitab suci yang selama ini mereka imani, dan suara dari surga yang memerintahkan agar mereka mendengarkan Yesus, tentu bukanlah peristiwa kebetulan saja. Semua itu merupakan cara Allah untuk mengokohkan kepercayaan para murid untuk terus mengikut Yesus. Pemuliaan Yesus bersama dengan Musa dan Elia menunjukkan bahwa sosok Sang Guru yang mereka ikuti bukanlah sekadar pengajar agama biasa. Transfigurasi Yesus bersama kedua nabi besar dari masa lampau itu menunjukkan bahwa Yesus adalah sosok yang, paling tidak, setara dengan keduanya. Bahkan Yesus bisa dikatakan melampaui kedua nabi tersebut, karena penampakan itu diikuti suara dari surga yang mengatakan, “Dengarkanlah Dia!”
 
Sejak momen itu, para murid bisa jadi mengalami pencerahan bahwa mereka perlu lebih mendengarkan dan mencamkan setiap perkataan Yesus, serta merekamnya dalam ingatan mereka. Kini mereka sadar, perkataan Guru mereka ternyata sama pentingnya dengan apa yang Allah sabdakan di dalam kitab-kitab Tauran dan kitab-kitab nabi-nabi. Agaknya mulai saat itulah, para murid mulai menjadi pendokumentasi perkataan-perkataan Yesus yang memiliki nilai religius dan spiritual penting -" paling tidak dalam memori mereka. Dan tentunya bukan hanya mendengarkan dan mengingat perkataan Yesus, para murid juga melakukan apa yang Yesus ajarkan kepada mereka.
 
POKOK DAN ARAH PEWARTAAN
Peristiwa transfigurasi Yesus, yang ditandai dengan perubahan pada wajah dan pakaian-Nya yang menjadi berkilau-kilauan, serta kehadiran Musa dan Elia yang bercakap-cakap dengan-Nya, merupakan momen pemuliaan pribadi Yesus sekaligus pemberdayaan para murid untuk makin kenal siapa Guru mereka. Peristiwa ini berpuncak pada terdengarnya suara yang menegaskan Yesus sebagai pribadi pilihan Allah (baca: Mesias) dan yang memberi perintah kepada para murid Yesus untuk mendengarkan Dia.  
 
“Mendengarkan Dia” tentu bukan sekadar menangkap apa yang Yesus katakan, tetapi menanamkan kuat perkataan Yesus di dalam hati, dan melakukannya dalam kehidupan. Setiap orang yang beriman terpanggil untuk mendengarkan Sang Kristus dan menjadikan sabda-Nya sebagai pemandu kehidupan.
 
KHOTBAH JANGKEP BAHASA INDONESIA
 
DENGARKANLAH DIA!
 
Bapak, Ibu, dan Saudara terkasih di dalam Kristus,
Mendengar adalah aktivitas sensorik atau inderawi dasar yang dimiliki oleh manusia sejak lahir. Gangguan atau disabilitas pendengaran tentu sangat mempengaruhi kemampuan seseorang dalam beraktivitas sehari-hari, dan dalam menikmati kehidupan. Misalnya, karena pendengaran berkurang, penangkapan suara pun menurun, sehingga proses komunikasi jadi terkendala. Atau, ketika pendengaran berkurang, kita tidak lagi dapat menikmati hiburan lagu-lagu keroncong kesukaan atau menyimak podcast langganan kita.
 
Banyak orang sampai rela merogoh kocek ratusan ribu hingga jutaan Rupiah untuk menjalani terapi guna memperbaiki pendengaran dan/atau membeli alat bantu dengar. Toko yang menjual alat bantu dengar pun kini bisa dengan mudah dijumpai di berbagai daerah, baik di kota besar maupun kota kecil, bahkan mungkin juga di perdesaan. Teknologi alat bantu dengar pun makin canggih, bukan hanya bisa menolong telinga untuk menangkap suara lebih jelas, namun juga punya kemampuan untuk secara otomatis menyesuaikan volume suara yang masuk dengan kondisi ruangan (volume auto-adjust), bahkan mem-filter dan mengurangi kebisingan sekitar (noise-reduction). Dan semuanya itu kini bisa dikendalikan dari aplikasi di ponsel pintar!
 
Mendengarkan tentu berbeda dengan mendengar. Mendengarkan bukan sekadar mengenali gelombang suara sebagai suara omongan orang lain, suara musik dari perangkat audio, suara gonggongan anjing, suara tukang bakso yang lewat, atau suara piring pecah di rumah tetangga. Mendengarkan berarti juga mencamkan. Dan mencamkan berarti “memperhatikan dengan sungguh-sungguh” atau “meresapkan ke dalam pikiran dan hati”. Sejauh ini, tampaknya belum ada teknologi yang bisa membantu orang untuk mendengarkan atau mencamkan dengan lebih baik. Yang dibutuhkan untuk mendengarkan dengan lebih baik adalah minat, empati, dan respek terhadap lawan bicara dan apa yang dikatakannya.  
 
Bapak, Ibu, dan Saudara terkasih di dalam Kristus,
Hari ini kita memperingati satu peristiwa penting dalam kehidupan Yesus dan para murid-Nya. Peristiwa apa ya? Ada yang tahu, peristiwa apa itu, dan apa maknanya? (Beri kesempatan kepada 1-2 umat untuk menyampaikan pemahamannya) ... Ya, hari ini kita memperingati peristiwa pemuliaan Yesus di atas gunung, di mana ketika Yesus berdoa, wajah dan pakaiannya berubah menjadi putih berkilau-kilauan. Pada kalender liturgi, kita menyebut peristiwa ini sebagai transfigurasi Yesus Kristus. Peristiwa ini merupakan sebuah momen yang agung -" yang barangkali tidak kalah nilai teologisnya dibandingkan Paskah, Natal, atau Pentakosta. Ibadah pada Minggu Transfigurasi merupakan sebuah perayaan iman yang memberikan konfirmasi dan penguatan kepada kita, para pengikut Yesus, bahwa Dia adalah sungguh-sungguh sosok yang mulia, agung, dan patut dijunjung tinggi. Di samping itu, ada satu pemaknaan lain yang juga sangat penting, yaitu melalui peristiwa transfigurasi Sang Kristus, kita juga diajar untuk menjadi lebih tekun dan bersungguhsungguh mendengarkan sabda-Nya.
 
Di masa Perjanjian Lama, sebenarnya ada juga kondisi yang mirip dengan transfigurasi, yaitu ketika wajah Musa berubah menjadi bercahaya sesudah berjumpa dan bercakap-cakap langsung dengan Tuhan. Tentunya perubahan wajah Musa ini bukan seperti tampilan wajah banyak orang masa kini, hasil dari memakai produk skincare atau karena memakai filter beautify di kamera ponsel pintar. Wajah Musa yang bercahaya itu akibat ia “terpapar” cahaya kemuliaan Allah.
 
Sebagai pemimpin orang-orang Israel, setiap kali Musa menerima perintah dari Allah, perintah itu segera ia sampaikan kepada umat. Dalam pada itu, setiap kali Musa usai menghadap Tuhan, wajahnya terlihat bercahaya. Gambaran wajah Musa yang bercahaya ini sesungguhnya juga melukiskan betapa Allah ingin memperlihatkan kemuliaan-Nya kepada umat sekaligus membangun relasi yang baik dengan mereka. Sosok Allah, Sang Raja yang mulia, tinggi, dan kudus, namun berkenan berelasi dengan umat itu sebagaimana digemakan oleh pemazmur dalam bacaan tanggapan hari ini. Sang Raja yang demikian luhur dan berkuasa itu ternyata berkenan untuk menjalin relasi dengan umat-Nya. Dia adalah Allah yang tersembunyi, sekaligus Allah yang menyatakan diri. Allah yang tinggi, namun juga Allah yang hadir bagi manusia yang rendah.
Kemuliaan Allah yang terpancar dari wajah Musa memang memunculkan rasa takut, namun sekaligus juga menghadirkan kehangatan, rasa dekat, dan kasih (“ajrih asih”) dalam diri orangorang Israel. Dengan model perjumpaan yang seperti itu, terjalinlah relasi antara umat dengan Allah. Ketika umat mendengarkan pengajaran Musa, mereka mendengarkan sabda Allah. Walau demikian, karena umat takut memandang wajahnya, Musa pun menyelubungi wajahnya yang bercahaya.
 
Rasul Paulus memahami dipakainya selubung muka oleh Musa sebagai caranya menutupi cahaya kemuliaan Allah yang sementara dan bisa hilang atau pudar. Pandangan Paulus terkait fungsi selubung wajah Musa itu adalah karena ia ingin menghubungkannya dengan “selubung” yang menghalangi orang-orang Yahudi untuk memahami Taurat dengan benar. Ketika seseorang percaya kepada Kristus, maka seolah-olah “selubung hati” itu diangkat atau diambil, sehingga melalui Kristus dan sabda-Nya, orang-orang percaya dimampukan untuk mengerti apa yang dikehendaki oleh
Allah.  
 
Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara yang saya kasihi,  
Dalam narasi transfigurasi di Injil Lukas, digambarkan perjumpaan Yesus dengan kedua sosok profetik besar dalam sejarah agama Yahudi, yaitu Musa dan Elia. Sosok Musa mewakili sabda Allah dalam kitab-kitab Taurat, sedangkan sosok Nabi Elia merepresentasikan sabda Allah yang disampaikan dalam kitab-kitab nabi-nabi. Sementara Yesus bercakap-cakap dengan Musa dan Elia, ada awan yang turun menaungi mereka, lalu terdengar suara dari dalam awan itu yang berkata, “Inilah Anak-Ku, pilihan-Ku”, kemudian diikuti perintah khusus kepada para murid, “Dengarkanlah Dia!” Dari apa yang disampaikan oleh suara dari dalam awan itu, kita bisa menyimpulkan bahwa peristiwa transfigurasi sebagai momen pemuliaan Yesus ini bukan hanya bermakna bagi pribadi Yesus, melainkan lebih ditujukan kepada para murid, sebagai cara Allah mendidik dan memberdayakan mereka.
 
Kebersamaan ketiga murid yang menyaksikan peristiwa transfigurasi Yesus, sosok Musa dan Elia yang merepresentasikan kitab-kitab suci yang selama ini mereka imani, dan suara dari surga yang memerintahkan agar mereka mendengarkan Yesus, tentu bukanlah peristiwa kebetulan saja. Semua itu merupakan cara Allah untuk mengokohkan kepercayaan para murid untuk terus mengikut Yesus. Pemuliaan Yesus bersama dengan Musa dan Elia menunjukkan bahwa sosok Sang Guru yang mereka ikuti bukanlah sekadar pengajar agama biasa. Transfigurasi Yesus bersama kedua nabi besar dari masa lampau itu menunjukkan bahwa Yesus adalah sosok yang, paling tidak, setara dengan keduanya. Bahkan Yesus bisa dikatakan melampaui kedua nabi tersebut, karena penampakan itu diikuti suara dari surga yang mengatakan,

“Dengarkanlah Dia!”
 
Sejak momen itu, para murid bisa jadi mengalami pencerahan bahwa mereka perlu lebih mendengarkan dan mencamkan setiap perkataan Yesus, serta merekamnya dalam ingatan mereka. Kini mereka sadar, perkataan Guru mereka ternyata sama pentingnya dengan apa yang Allah sabdakan di dalam kitab-kitab Taurat dan kitab-kitab nabi-nabi. Dan tentunya bukan hanya mendengarkan dan mencamkan perkataan Yesus, para murid juga melakukan apa yang Yesus ajarkan kepada mereka.
 
Saudara-saudara terkasih di dalam Kristus,
Memahami kehendak Allah dengan mendengarkan Kristus adalah bagian dari spiritualitas Kristen. Ketika seseorang mendengarkan kemudian memahami (dan tentunya melakukan) kehendak Allah, Paulus menggambarkannya sebagai “mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung.” Dengan demikian, bukan hanya Musa dan Yesus yang mengalami transfigurasi, kita pun juga mengalaminya. Sebagaimana kata Paulus, “kita sedang diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.”
 
Bukan hanya pendengaran melalui telinga kita saja yang penting. “Pendengaran batin”, yaitu kemampuan atau kepekaan untuk memilah (discerning) apa yang baik dan seturut kehendak Allah, juga tidak kalah penting. Mendengarkan perkataan Kristus dan melakukannya adalah bagaikan dua sisi dari satu mata uang. Jadi, mendengarkan Sang Kristus berarti juga melakukan apa yang diajarkan dan diteladani-Nya. Melalui perayaan Minggu Transfigurasi pada hari ini, kita diajak untuk memiliki kepekaan untuk mendengarkan Sabda Kristus dalam kehidupan sehari-hari, baik melalui pembacaan kitab suci harian, mengikuti ibadah-ibadah mingguan di gereja, juga melalui relasi dengan sesama di mana pun kita berada, maupun melalui aktivitas keseharian kita. Mari, dengarkanlah Dia, agar kehidupan kita selalu tertuntun, mengikuti kehendak Allah. Amin.
 
KHOTBAH JANGKEP BAHASA JAWA
 
PADHA ESTOKNA DHAWUHE!  
 
Pasamuan ingkang kinasih wonten ing Sang Kristus,
Mirengaken punika minangka aktivitas sensorik utawi pancadriya dhasar ingkang dipun gadhahi dening manungsa wiwit lair. Alangan utawi disabilitas pamireng temtu badhe mangaribawani kasagedanipun tiyang wonten ing tumindak padintenan, lan ing salebeting ngraosaken nikmating gesang. Kadasta, amargi pamirengipun kirang, swanten ingkang katampi suda, satemah dadosaken komunikasi ingkang katindakaken ugi wonten alangan. Utawi, nalika pamirengipun suda, kita mboten saged malih mirengaken nikmating tembang-tembang keroncong utawi podcast ingkang kita remeni.
 
Kathah tiyang ngantos purun nggrogoh kantong atusan ewu dumugi yutan rupiah namung kangge nindakaken terapi lan/ utawi tumbas alat bantu supados pamirengipun dados pulih. Toko ingkang nyade alat bantu pamireng, sapunika kathah kita panggihi wonten ing saben wilayah, sae wonten kitha ageng utawi kitha alit, malah mbokmenawi ugi ngantos ing dusundusun. Teknologi alat bantu pamireng punika sangsaya canggih, mboten namung saged mitulungi talingan nangkep swanten langkung cetha, nanging ugi saged sacara otomatis ngatur volume swanten ingkang mlebet (volume auto-adjust) malah nggadhahi filter ingkang saged ngirangi swanten bising wonten ing sakiwatengenipun (noise-reduction). Lan sadaya punika saged dipun kendhaleni saking aplikasi ponsel pinter (smartphone)!
 
Mirengaken temtu beda kaliyan mireng. Mirengaken mboten namung nepangi gelombang swanten minangka swantenipun tiyang sanes, swanten musik saking audio, swanten segawon ingkang njegog, swanten tukang bakso ingkang miyos ngajeng griya, utawi piring pecah wonten ing dapur. Mirengaken ateges “estu-estu nggatosaken” utawi “ngresepaken wonten ing salebeting pikiran lan manah.” Ngantos sapunika, ketingalipun  dereng wonten teknologi ingkang saged mbiyantu tiyang kangge mirengaken utawi estu-estu nggatosaken kanthi langkung sae. Ingkang dipun betahaken kangge mirengaken langkung sae inggih punika minat, empati lan respek dhateng lawan wicantenipun lan punapa ingkang dipun ngendikaken.   
Pasamuan ingkang kinasih wonten ing Sang Kristus,
Dinten punika kita mengeti satunggal lelampahan gesang ingkang wigati wonten sugengipun Yesus lan para sakabatipun. Lelampahan punika punika? Wonten ingkang pirsa, lan punapa tegesipun? (12 pasamuwan saged dipun paringi wekdal kangge nglairaken wangsulanipun). Dinten punika kita mengeti prastawa Yesus kamulyakaken wonten ing sainggiling redi, ing pundi wekdal semanten Yesus dedonga, pasuryan lan pangagemipun santunrupi dados pethak mancorong. Wonten ing kalender liturgi, kita nyebat lelampahan punika minangka trasfigurasi Yesus Kristus. Lelampahan punika minangka satunggaling wekdal mirunggan ingkang agung -" ingkang mbokmenawi makna teologinipun mboten kawon kaliyan Paskah, Natal, Pentakosta. Pangibadah Minggu Transfigurasi minangka satunggaling pahargyan iman utawi kapitadosan ingkang saged dados konfirmasi lan ngiyataken kita, para pandherekipun Yesus, bilih Panjenenganipun estu-estu satunggaling pribadi ingkang mulya, agung, lan pantes linuhuraken. Ing sisih sanes, wonten satunggaling makna sanes ingkang ugi wigati sanget, inggih punika lumantar lelampahan transfigurasi Sang Kristus, kita ugi kawulang supados sangsaya tumemen lan estu-estu mirengaken sabdanipun.
 
Wonten ing mangsa Prajanjian Lami. Yektosipun wonten ugi kondisi ingkang meh sami kaliyan transfigurasi, inggih punika nalika pasuryanipun Musa punika mboten kados pasuryanipun kathah tiyang wonten ing wekdal sapunika, amargi ngginakaken produk skincare utawi amargi ngginakaken filter beautify wonten ing kamera ponser pinter. Pasuryanipun Musa ingkang mencorong punika amargi nampi utawi kenging cahya kamulyanipun Allah.  
 
Minangka pamimpining tiyang-tiyang Israel, saben-saben Musa nampi dhawuh saking Allah, dhawuh punika badhe enggal dipun lajengaken dhateng umat. Wonten ing wekdal niku, saben-saben Musa sowan Gusti Allah, pasuryanipun ketingal mencorong. Gegambaraning pasuryanipun Musa ingkang mencorong punika estunipun ugi nggambaraken saestu Allah badhe ngetingalaken kamulyanipun dhateng umat ugi mbangun sesambetan ingkang sae dhateng tiyang-tiyang punika. Allah, Sang Ratu ingkang mulya, luhur lan suci nanging kersa mbangun sesambetan kaliyan umat kados ingkang kawartosaken dening Juru Mazmur wonten ing waosa tanggepan dinten punika. Sang Ratu ingkang saestu luhur lan kagungan panguwaos estu-estu kersa sesambaten kaliyan umatipun. Panjenenganipun minangka Allah ingkang kineker nanging ugi Allah ingkang mbabaraken dhiri. Allah ingkang luhur, nanging ugi Allah ingkang rawuh kangge manungsa ingkang asor.
 
Kamulyanipun Allah ingkang mencorong saking pasuryanipun Musa saestu nuwuhaken raos ajrih, nanging ugi ndhatengaken raos anget, celak, lan tresna (“ajrih asih’) wonten ing dhirinipun tiyang-tiyang Israel.  Kanthi pepanggihan kados mekaten, lajeng tuwuh sesambetan ing antawisipun umat kaliyan Allah. Nalika umat mirengaken piwulangipun Musa, tiyang-tiyang punika mirengaken sabdaning Allah, Sinaosa kadosmekaten, amargi umat ajrih ningali pasuryanipun, Musa nutupi pasuryanipun ingkang mencorong.
 
Musa nutupi pasuryanipun minangka caranipun nutupi cahya kamulyanipun Allah ingkang sawetawis wekdal lan saged ical. Paulus mirsani ginanipun tutup pasuryanipun Musa inggih punika piyambakipun badhe nyambetaken kaliyan “tutup” ingkang ngalangalangi tiyang Yahudi mangertosi Toret kanthi leres. Nalika satunggaling  tiyang pitados dhateng Kristus,  mila kados-kados “tutuping manah” punika kaangkat utawi kapendhet, satemah lumantar Kristus dan sabdanipun, tiyang-tiyang pitados dipun sagedaken mangertosi punapa ingkang dipun kersakaken dening
Allah.  
Pasamuan ingkang kinasih wonten ing Sang Kristus,
Wonten ing cariyos transfigurasi ing Injil Lukas, dipun gambaraken pepanggihanipun Yesus kaliyan kalih nabi ageng wonten ing sujarahipun agama Yahudi, inggih punika Musa lan Elia. Musa asring dipun sambetaken kaliyan sabdaning Allah wonten ing kitab-kitab Toret, lan Elia dipun sambetaken kaliyan sabdaning Allah ingkang dipun wartosaken wonten ing kitab nabi-nabi. Nalika Yesus imbal pangandika kaliyan Musa lan Elia, wonten mega ingkang mandhap ngayomi, lan lajeng kapireng swanten saking mega punika wonten pangandika “iki PutraningSun kang Sunpilih,”, lajeng dipun sarengi dhawuh mirunggan kangge para sakabat, “padha estokna dhawuhe!” Saking punapa ingkang dipun wartosaken lumantar swanten saking salebeting mega punika, kita saged namtokaken bilih transfigurasi punika minangka wekdal Yesus kamulyakaken mboten namung  nggadhahi makna kagem priadinipun Yesus, nanging langkung katujokaken kangge para sakabat, minangka caraning Allah nggulawentah lan ngutus sakabat.  
 
Lelampahan transfigurasi ingkang dipun tingali dening tiga sakabatipun Yesus, Musa lan Elia ingkang dipun sambetakane kaliyan kitab-kitab suci ingkang dipun pitadosi ngantos sapunika lan swanten saking swarga ingkang ndhawuhi supados ngestokaken Yesus, temtu mboten lelampahan ingkang namung keleresan kemawon. Sadaya punika dados caranipun Allah ngiyataken kapitadosan para murid supados tansah ndherek Yesus. Kamulyanipun Yesus ingkang kababar sesarengan Musa lan Elia nedahaken bilih Sang Guru (Yesus) mboten namung pamulang agami limrah. Transfigurasi Yesus sesarengan kaliyan kalih nabi ageng saking mangsa kapengker ngetingalek bilih Yesus minangka pribadi ingkang paling mboten jejer utawi sejajar kaliyan kekalihipun. Malah, Yesus nglangkungi saking kalih nabi kasebat, amargi tetingalan punika dipun sarengi swanten saking swarga ingkang ngendika, “Padha estokna dhawuhe!”
Wiwit lelampahan punika, para sakabat dados nampi pepadhang bilih piyambakipun kedah langkung ngestokaken lan nggatosaken kanthi tumemen pangandikanipun Yesus, sarta nyatet wonten pikiranipun. Sapunika piyambakipun sami rumaos, pangandika Gurunipun nyatanipun sami-sami wigati kaliyan punapa ingkang Allah ngendikakan wonten ing kitab-kitab Toret lan kitab nabinabi. Lan temtunipun mboten namung mirengaken lan nggatosaken kanthi tumemen pangandikanipun Yesus, para murid ugi nindakaken punapa ingkang Yesus wucalaken dhateng piyambakipun.
 
Pasamuan ingkang kinasih wonten ing Sang Kristus,
Mangertosi karsanipun Allah kanthi ngestokaken Kristus minangka perangan saking spritualitas  Kristen. Nalika satunggaling tiyang ngestokaken lajeng mangertosi (lan temtunipun nindakaken) karsanipun Allah. Paulus nggambaraken sadaya punika minangka "ngatonaken kamulyane Gusti kalawan rai kang ora katutupan.” Kanthi mekaten, mboten namung Musa lan Yesus ingkang ngraosaken transfigurasi, kita ugi ngraosaken. Kadosdene pangandikane Paulus, “kaya ana ing pangilon sarta pada kasalinan rupa madhani pasamone iku kalawan kamulyan kang mundhak-mundhak.”
 
Mboten namung pamireng lumantar talingan kita kemawon ingkang wigati . “Pamirenging  batos”, inggih punika kasagedan kangge milah (discerning) punap ingkang sae lan cundhuk karsaning Allah, ugi wigati. Mirengaken pangandikanipun Kristus lan nindakaken kados kalih sisih saking satunggaling arta koin. Dados, mirengaken Sang Kristus ateges ugi nindakaken punapa ingkang  dipun wulangaken lan dipun tuladhakaken.  Lumantar pahargyan Minggu Transfigurasi dinten punika, kita kaajak kangge nggadhahi tanggap raos mirengaken Sabdaning Kristus wonten gesang padintenan, sae lumantar pamaosing kitab suci padintenan, ndherek pangibadah-pangibadah minggu wonten ing greja, ugi lumantar sesambetan kaliyan sesami wonten ing pundi kemawon kita wonten, lan  lumantar tumindak padintenan kita. Sumangga, samia ngestokaken dhawuhipun, supados gesang kita tansah kinanthi, ndherek karsanipun Allah. Amin.
Hari     Tanggal     Perayaan & Warna Liturgi
Rabu     5 Maret 2025      Rabu Abu (Hitam)
Minggu     9 Maret 2025      Minggu Pra-Paskah I (Ungu)
Minggu     16 Maret 2025      Minggu Pra-Paskah II (Ungu)
Minggu     23 Maret 2025      Minggu Pra-Paskah III (Ungu)
Minggu     30 Maret 2025      Minggu Pra-Paskah IV (Ungu)
 











Selanjutnya:

Khotbah GKJ Minggu, 16 Maret 2025 - Filipi 3:17-4:1


Sebelum:

Khotbah GKJ - Minggu, 23 Februari 2025 - Kasih Itu Mengampuni - 1 Korintus 15: 35-38, 42-50 - Minggu Biasa (Hijau)




All Garis Besar:
MENU UTAMA:
Kidung Pasamuan Jawi (KPJ)(1)
Alkitab JAWA Prajanjian Lawas(1)
Bacaan Alkitab GKJW 2026(1)
Bacaan Leksionari GKJ 2025(8)
Bacaan Leksionari GKJ 2026(12)
Contoh Tata Ibadah GKJ(29)
Kalender GKJ 2017(7)
Kalender GKJ 2018(12)
Kalender GKJ 2019(12)
Kalender Liturgi GKJ 2023(12)
Khotbah GKJ 2016(1)
Khotbah GKJ 2025(21)
Khotbah GKJ 2026(5)
Khotbah GKJW 2026(7)
Kidung Pasamuwan Kristen (KPK)(8)
Kidung Pasamuwan Kristen Anyar (KPKA)(345)
Kidung Pasamuwan Kristen Lawas (KPKL)(171)
Kidung Ria GKJW(33)
Klasis Gereja Kristen Jawa (GKJ)(32)
NA(1)
Pembacaan Alkitab 2016(1)
Renungan GKJ 2022(29)
Renungan GKJ 2023(13)
Renungan GKJ 2024(1)
Renungan GKJW 2024(4)
Renungan GKJW 2026(3)
Tata Ibadah GKJ 2024(2)
Tentang GKJ(3)
xxx(4)

Arsip Khotbah GKJ 2025..


Register   Login  


Kalender Liturgi GKJ September 2023


Kostenlose Backlinks bei http://backl.pommernanzeiger.de Seitenpartner www.condor-bbs.com Rankingcloud.de - Hosting in der Cloud Suchmaschinenoptimierung Kostenloser Auto-Backlink von www.cheers2.de