gkj.lagu-gereja.com      
View : 25 kali
Download MP3 Music
Bacaan:
Yesaya 45:1-7
Mazmur 96:1-9
1 Tesalonika 1:1-10
Matius 22:15-22

Tema Liturgis: Merawat Persaudaraan Sejati
Tema Khotbah: Kembali kepada Allah, Kembali Bersaudara

Matius 22:15-22

Tentang membayar pajak kepada Kaisar
22:15-22
(Mrk. 12:13-17; Luk. 20:20-26)
15Kemudian pergilah orang-orang Farisi; mereka berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan. 16Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama orang-orang Herodian bertanya kepada-Nya: ”Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. 17Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” 18Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata: ”Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik? 19Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu.” Mereka membawa suatu dinar kepada-Nya. 20Maka Ia bertanya kepada mereka: ”Gambar dan tulisan siapakah ini?” 21Jawab mereka: ”Gambar dan tulisan Kaisar.” Lalu kata Yesus kepada mereka: ”Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” 22Mendengar itu heranlah mereka dan meninggalkan Yesus lalu pergi.

Penjelasan:


Jemaat yang dikasihi Tuhan,

Hari ini kita berada dalam suasana Bulan Ekumene, suasana yang mengingatkan kita bahwa orang percaya dipanggil untuk hidup sebagai saudara.

Tetapi mari kita jujur.

Bicara tentang persaudaraan itu mudah.
Menjaga persaudaraan itu yang kadang-kadang sulit.

Kita bisa berkata:

"Kita semua bersaudara."

Tetapi begitu saudara kita berbeda pendapat dengan kita, kita mulai berkata dalam hati:

"Ya... saudara sih saudara, tapi jangan terlalu dekat-dekat juga."

Kadang-kadang kita lebih mudah mengasihi saudara yang sepemikiran, daripada saudara yang seiman tetapi tidak sepemikiran.

Di keluarga juga begitu.

Suami berkata, "Saya sudah mengalah."

Istri berkata, "Mengalah dari mana? Dari tadi saya yang mengalah!"

Akhirnya dua-duanya merasa paling mengalah.

Ini menunjukkan satu hal: persaudaraan bukan sekadar masalah tinggal bersama, tetapi masalah hati.

Karena itu tema kita hari ini sangat dalam:
"Kembali kepada Allah, Kembali Bersaudara."

Mengapa harus kembali kepada Allah dahulu?

Karena ketika manusia kembali kepada Allah, manusia akan menemukan kembali siapa dirinya dan siapa sesamanya.

1. KETIKA KITA TAHU TUHAN MEMEGANG SEJARAH, KITA TIDAK MUDAH TAKUT

Dalam Yesaya 45, bangsa Israel sedang berada dalam situasi yang sangat sulit.

Mereka berada di pembuangan Babel.

Tanah mereka hilang.
Bait Allah hancur.
Kerajaan mereka tidak berdaya.

Mereka mungkin bertanya:
"Tuhan, apakah Engkau masih bekerja?"

Lalu muncul seorang bernama Koresh, raja Persia.

Yang menarik adalah Tuhan berkata bahwa Koresh dipakai oleh-Nya.

Padahal Koresh bukan orang Israel.

Koresh bahkan tidak mengenal Tuhan.

Tetapi Tuhan berkata:

"Aku memanggil engkau dengan namamu, sekalipun engkau tidak mengenal Aku."

Ini luar biasa.

Artinya, Tuhan dapat memakai siapa saja untuk menggenapi rencana-Nya.

Kadang-kadang kita berpikir Tuhan hanya bisa bekerja melalui orang yang seperti kita.

Tetapi Tuhan berkata:
"Jangan batasi pekerjaan-Ku menurut ukuranmu."

Tuhan dapat memakai orang yang kita tidak duga.

Tuhan dapat memakai keadaan yang tidak kita sukai.

Tuhan bahkan dapat memakai orang yang selama ini tidak kita perhitungkan.

Jadi, jangan terlalu cepat berkata:
"Orang itu tidak mungkin dipakai Tuhan."

Bisa jadi justru orang yang kita remehkan sedang dipakai Tuhan untuk mengajarkan sesuatu kepada kita.

Jemaat yang dikasihi Tuhan,

Israel merasa sejarah mereka sedang dikendalikan Babel.

Tetapi Tuhan berkata:

"Bukan Babel yang memegang sejarah. Aku yang memegang sejarah."

Ini penting bagi kehidupan kita.

Ketika ekonomi sulit, Tuhan tetap memegang sejarah.

Ketika politik berubah, Tuhan tetap memegang sejarah.

Ketika keluarga menghadapi persoalan, Tuhan tetap memegang sejarah.

Ketika masa depan kelihatan tidak jelas, Tuhan tetap memegang sejarah.

Dan kalau kita sungguh percaya bahwa Tuhan memegang sejarah, kita tidak perlu hidup dalam ketakutan.

Sebab orang yang terlalu takut biasanya mudah curiga.

Dan orang yang terlalu curiga biasanya mudah bertengkar.

Karena itu:

Kalau Tuhan memegang sejarah, kita tidak perlu memegang saudara kita dengan kecurigaan.

2. PERSAUDARAAN DIMULAI DARI IDENTITAS KITA DI DALAM ALLAH

Sekarang kita melihat 1 Tesalonika 1.

Paulus memuji jemaat di Tesalonika.

Jemaat ini masih muda.

Mereka hidup di tengah masyarakat yang penuh tekanan, budaya, agama, dan berbagai pengaruh.

Tetapi iman mereka bertumbuh.

Paulus menyebut mereka sebagai jemaat:

"di dalam Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus."

Perhatikan.

Paulus tidak hanya mengatakan:

"Jemaat di Tesalonika."

Tetapi:

"Jemaat di dalam Allah."

Ini sangat penting.

Sebab identitas mereka bukan pertama-tama ditentukan oleh kota tempat mereka tinggal.

Bukan oleh status sosial.

Bukan oleh kekayaan.

Bukan oleh kelompok.

Bukan oleh organisasi.

Identitas mereka adalah:
Mereka milik Allah.

Dan ini juga identitas kita.

Sebelum kita berkata:
"Saya orang GKJW."

"Saya orang Jawa."

"Saya orang Batak."

"Saya orang Indonesia."

"Saya orang kaya."

"Saya orang sederhana."

"Saya pejabat."

"Saya pensiunan."

"Saya pengusaha."

Kita harus lebih dahulu berkata:

"Saya adalah milik Allah."

Kalau identitas utama kita adalah Allah, kita tidak perlu merasa lebih tinggi daripada orang lain.

Karena orang yang duduk di sebelah kita juga milik Allah.

Orang yang berbeda pendapat dengan kita juga milik Allah.

Orang yang berbeda gereja dengan kita juga milik Allah.

Bahkan orang yang kadang membuat kita kesal pun tetap manusia yang diciptakan Allah.

Ini yang sulit!

Karena biasanya kita berkata:

"Saya mengasihi semua orang."

Lalu ada tambahan kecil:
"Kecuali dia."

Jemaat tertawa.

Padahal justru orang yang paling sulit kita kasihi sering menjadi latihan rohani kita yang paling besar.

3. IMAN YANG SEJATI AKAN TERLIHAT DALAM CARA KITA MEMPERLAKUKAN ORANG LAIN


Jemaat Tesalonika bukan hanya pandai berbicara tentang iman.

Iman mereka terlihat dalam kehidupan.

Paulus mengatakan bahwa mereka menjadi teladan.

Artinya, Injil bukan hanya sesuatu yang mereka dengar.

Injil menjadi sesuatu yang mereka hidupi.

Ini penting.

Sebab gereja tidak hanya membutuhkan orang yang pintar berbicara tentang kasih.

Gereja membutuhkan orang yang mau mempraktikkan kasih.

Mudah berkata:
"Kasihilah sesamamu."

Yang sulit adalah ketika sesama itu parkir motornya menghalangi motor kita.

Kita langsung berkata:

"Tuhan, berikan saya kesabaran."

Tetapi sambil berkata begitu, tangan kita sudah mencari kunci motor untuk mengetuk-ngetuk motornya.

Jemaat tertawa.

Kadang-kadang kita berdoa:

"Tuhan, jadikan saya orang yang sabar."

Lalu Tuhan mengirimkan orang yang menyebalkan.

Kita malah berkata:

"Tuhan, bukan orang itu yang saya maksud!"

Padahal mungkin justru orang itu sedang menjadi sekolah kesabaran yang Tuhan kirimkan kepada kita.

Persaudaraan tidak diuji ketika semuanya menyenangkan.

Persaudaraan diuji ketika kita berbeda.

Ketika pendapat berbeda.

Ketika kepentingan berbeda.

Ketika karakter berbeda.

Ketika kita merasa tidak dihargai.

Di situlah Injil harus terlihat.

4. "BERIKAN KEPADA KAISAR APA YANG WAJIB KAMU BERIKAN..."

Sekarang kita masuk ke Injil Matius 22.

Orang Farisi datang kepada Yesus bersama orang-orang Herodian.

Menarik sekali.

Farisi dan Herodian sebenarnya berbeda kelompok.

Tetapi sekarang mereka bekerja sama.

Mengapa?

Karena mereka mempunyai satu tujuan:

Menjebak Yesus.

Mereka bertanya:

"Bolehkah membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?"

Ini pertanyaan jebakan.

Kalau Yesus berkata:

"Boleh."

Mereka bisa menuduh Yesus berpihak kepada Roma.

Kalau Yesus berkata:

"Tidak boleh."

Mereka bisa menuduh Yesus melawan pemerintah Roma.

Jadi mereka berpikir:

"Nah, sekarang Yesus pasti masuk perangkap."

Tetapi Yesus tidak terjebak.

Yesus berkata:

"Tunjukkan kepada-Ku mata uang untuk pajak itu."

Mereka menunjukkan koin.

Kemudian Yesus bertanya:

"Gambar dan tulisan siapakah ini?"

Mereka menjawab:

"Kaisar."

Lalu Yesus berkata:
"Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah."

Jawaban Yesus sangat dalam.

Koin memiliki gambar Kaisar.

Tetapi manusia memiliki gambar Allah.

Karena itu, persoalannya bukan hanya soal pajak.

Persoalannya adalah:

"Siapa pemilik hidup kita?"

5. KITA ADALAH MILIK ALLAH


Jemaat yang dikasihi Tuhan,

Kalau koin bergambar Kaisar dikembalikan kepada Kaisar, maka manusia yang diciptakan menurut gambar Allah harus kembali kepada Allah.

Ini inti khotbah kita.

Kita harus kembali kepada Allah.

Karena kita milik Allah.

Hidup kita milik Allah.

Keluarga kita milik Allah.

Pekerjaan kita milik Allah.

Talenta kita milik Allah.

Waktu kita milik Allah.

Bahkan kehidupan gereja kita juga milik Allah.

Maka jangan sampai kita rajin mengembalikan uang kepada Kaisar, tetapi lupa mengembalikan hati kepada Allah.

Jangan sampai kita taat membayar kewajiban duniawi, tetapi lupa kewajiban kasih kepada sesama.

Jangan sampai kita rajin datang ke gereja, tetapi hati kita masih penuh dendam.

Jangan sampai mulut kita menyanyikan:

"Kasih-Mu tiada berkesudahan..."

Tetapi lima menit kemudian kita berkata kepada saudara:

"Saya tidak mau bicara lagi dengan dia!"

Jemaat tertawa.

Ini yang harus kita koreksi.

Kembali kepada Allah bukan hanya datang ke gereja.

Kembali kepada Allah berarti mengembalikan seluruh kehidupan kita kepada-Nya.

6. KALAU KITA SAMA-SAMA MILIK ALLAH, MENGAPA HARUS SALING MEMUSUHI?

Sekarang kita sampai kepada inti tema:

Kembali kepada Allah, kembali bersaudara.

Mengapa?

Karena kalau saya milik Allah dan saudara saya juga milik Allah, maka saya harus belajar melihat saudara saya sebagai milik Allah.

Saya mungkin tidak setuju dengan pendapatnya.

Tetapi saya tidak boleh kehilangan kasih.

Saya mungkin berbeda tradisi.

Tetapi saya tidak boleh kehilangan persaudaraan.

Saya mungkin berbeda pilihan.

Tetapi saya tidak boleh menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk membenci.

Kita sering mengatakan:

"Kita berbeda, tetapi tetap satu."

Itu bagus.

Tetapi persatuan bukan berarti semua orang harus berpikir sama.

Kalau semua orang berpikir sama, rapat gereja bisa selesai dalam lima menit.

Jemaat tertawa.

Tetapi justru karena kita berbeda, kita belajar mendengar.

Kita belajar menghargai.

Kita belajar mengalah.

Kita belajar meminta maaf.

Kita belajar berkata:

"Mungkin saya juga salah."

Kalimat itu sederhana, tetapi kadang-kadang paling sulit keluar dari mulut kita.

Ada orang yang lebih mudah berkata:

"Saya salah."

daripada berkata:

"Kamu benar."

Karena mengakui kesalahan membutuhkan kerendahan hati.

7. EKUMENE BUKAN SEKADAR PROGRAM, TETAPI CARA HIDUP

Jemaat yang dikasihi Tuhan,

Bulan Ekumene mengingatkan kita bahwa persaudaraan tidak boleh berhenti pada kegiatan bersama.

Bukan hanya:

"Mari kita foto bersama."

Bukan hanya:

"Mari kita membuat acara bersama."

Bukan hanya:

"Mari kita duduk bersama."

Tetapi:

Apakah kita sungguh-sungguh mau hidup sebagai saudara?

Ekumene bukan sekadar kerja sama antarorganisasi gereja.

Ekumene adalah kesadaran bahwa kita semua kembali kepada Allah yang sama.

Kalau kita kembali kepada Allah, kita menemukan kembali saudara kita.

Kalau kita kembali kepada Allah, kita belajar mengampuni.

Kalau kita kembali kepada Allah, kita tidak mudah menghina.

Kalau kita kembali kepada Allah, kita tidak mudah memecah-belah.

Kalau kita kembali kepada Allah, kita tidak perlu selalu menang dalam perdebatan.

Karena tujuan hidup orang percaya bukan:

"Saya harus menang."

Tetapi:

"Kristus harus dimuliakan."

8. TIGA PERTANYAAN UNTUK KITA BAWA PULANG

Jemaat yang dikasihi Tuhan,

Mari kita membawa pulang tiga pertanyaan dari firman Tuhan hari ini.

Pertama:

Apakah saya percaya bahwa Tuhan masih memegang sejarah hidup saya?

Kalau iya, jangan hidup dalam ketakutan.

Kedua:

Di manakah saya menempatkan identitas saya?

Apakah saya lebih bangga menjadi bagian dari kelompok tertentu daripada menjadi milik Allah?

Ketiga:

Apakah hidup saya benar-benar sudah saya kembalikan kepada Allah?

Bukan hanya hari Minggu.

Tetapi Senin.

Selasa.

Rabu.

Kamis.

Jumat.

Sabtu.

Sebab Tuhan tidak hanya menjadi Tuhan kita selama satu setengah jam di gereja.

Tuhan adalah Tuhan atas seluruh hidup kita.

PENUTUP

Jemaat yang dikasihi Tuhan,

Hari ini kita belajar:

Tuhan memegang sejarah.

Karena itu kita tidak perlu hidup dalam ketakutan.

Kita adalah milik Allah.

Karena itu kita tidak perlu hidup dalam kesombongan dan sekat-sekat kelompok.

Hidup kita harus dikembalikan kepada Allah.

Karena itu kita dipanggil untuk hidup dalam kasih dan persaudaraan.

Bulan Ekumene boleh berakhir.

Program boleh selesai.

Spanduk boleh diturunkan.

Acara boleh ditutup.

Tetapi persaudaraan tidak boleh ikut ditutup.

Persaudaraan harus terus hidup.

Mulai dari rumah.

Mulai dari keluarga.

Mulai dari gereja.

Mulai dari lingkungan.

Mulai dari orang yang paling dekat dengan kita.

Dan mungkin yang paling penting:

mulai dari orang yang paling sulit kita kasihi.

Sebab bisa jadi Tuhan sedang berkata kepada kita:

"Jangan hanya kembali kepada-Ku. Kembalilah juga kepada saudaramu."

Maka marilah kita kembali kepada Allah.

Dan ketika kita kembali kepada Allah, kita akan menemukan bahwa di sana sudah ada saudara-saudara kita yang juga sedang berjalan pulang.

Kembali kepada Allah.

Kembali kepada kasih.

Kembali kepada persaudaraan.

Kiranya Tuhan menolong kita untuk tidak hanya menjadi orang yang pandai berbicara tentang persaudaraan, tetapi menjadi orang yang benar-benar merawat persaudaraan.

Tuhan memberkati kita semua.

Amin.








Sebelum:

Khotbah GKJW Minggu 7 Juni 2026 - Satu Rumah, Satu Perjuangan - Bacaan 3: Matius 9:9-13, 18-26




All Garis Besar:

Warning: include(htmArtikel/LISTGarisBesar.htm): failed to open stream: No such file or directory in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/gkj.lagu-gereja.com/baca10.php on line 86

Warning: include(htmArtikel/LISTGarisBesar.htm): failed to open stream: No such file or directory in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/gkj.lagu-gereja.com/baca10.php on line 86

Warning: include(): Failed opening 'htmArtikel/LISTGarisBesar.htm' for inclusion (include_path='.:/opt/plesk/php/5.6/share/pear') in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/gkj.lagu-gereja.com/baca10.php on line 86
MENU UTAMA:
Kidung Pasamuan Jawi (KPJ)(1)
Alkitab JAWA Prajanjian Lawas(1)
Bacaan Alkitab GKJW 2026(1)
Bacaan Leksionari GKJ 2025(8)
Bacaan Leksionari GKJ 2026(12)
Contoh Tata Ibadah GKJ(29)
Kalender GKJ 2017(7)
Kalender GKJ 2018(12)
Kalender GKJ 2019(12)
Kalender Liturgi GKJ 2023(12)
Khotbah GKJ 2016(1)
Khotbah GKJ 2025(21)
Khotbah GKJ 2026(6)
Khotbah GKJW 2026(8)
Kidung Pasamuwan Kristen (KPK)(8)
Kidung Pasamuwan Kristen Anyar (KPKA)(345)
Kidung Pasamuwan Kristen Lawas (KPKL)(171)
Kidung Ria GKJW(33)
Klasis Gereja Kristen Jawa (GKJ)(32)
NA(1)
Pembacaan Alkitab 2016(1)
Renungan GKJ 2022(29)
Renungan GKJ 2023(13)
Renungan GKJ 2024(1)
Renungan GKJW 2024(4)
Renungan GKJW 2026(3)
Tata Ibadah GKJ 2024(2)
Tentang GKJ(3)
xxx(4)

Arsip Khotbah GKJW 2026..


Register   Login  


Warning: include(if_month_gkii.php): failed to open stream: No such file or directory in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/gkj.lagu-gereja.com/channel.php on line 2

Warning: include(if_month_gkii.php): failed to open stream: No such file or directory in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/gkj.lagu-gereja.com/channel.php on line 2

Warning: include(): Failed opening 'if_month_gkii.php' for inclusion (include_path='.:/opt/plesk/php/5.6/share/pear') in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/gkj.lagu-gereja.com/channel.php on line 2

Kalender Liturgi GKJ Oktober 2022


Kostenlose Backlinks bei http://backl.pommernanzeiger.de Seitenpartner www.condor-bbs.com Rankingcloud.de - Hosting in der Cloud Suchmaschinenoptimierung Kostenloser Auto-Backlink von www.cheers2.de