| gkj.lagu-gereja.com |
![]() |
Download MP3 Music Khotbah GKJ 2026 Minggu, 18 Oktober 2026Minggu, 18 Oktober 2026 Khotbah GKJ Minggu, 18 Oktober 2026 - Keluarga Yang Mengakui Kedaulatan Tuhan atas Segala Sesuatu - Matius 22:15-22Minggu Biasa (HIJAU) Yesaya 45:1-7 Mazmur 96:1-9, (10-13) 1 Tesalonika 1:1-10 Matius 22:15-22 Keluarga Yang Mengakui Kedaulatan Tuhan atas Segala Sesuatu Matius 22:15-22 Tentang membayar pajak kepada Kaisar 22:15-22 (Mrk. 12:13-17; Luk. 20:20-26) 15Kemudian pergilah orang-orang Farisi; mereka berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan. 16Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama orang-orang Herodian bertanya kepada-Nya: ”Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. 17Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” 18Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata: ”Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik? 19Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu.” Mereka membawa suatu dinar kepada-Nya. 20Maka Ia bertanya kepada mereka: ”Gambar dan tulisan siapakah ini?” 21Jawab mereka: ”Gambar dan tulisan Kaisar.” Lalu kata Yesus kepada mereka: ”Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” 22Mendengar itu heranlah mereka dan meninggalkan Yesus lalu pergi. Penjelasan: 1. PENDAHULUAN Jemaat Tuhan yang dikasihi Tuhan Yesus, Kalau kita membaca Matius 22:15-22, kita menemukan sebuah percakapan yang sangat menarik. Orang-orang Farisi dan orang-orang Herodian datang kepada Yesus. Tetapi mereka sebenarnya bukan datang untuk belajar. Mereka datang untuk mencobai Yesus. Pertanyaannya kelihatan sederhana: “Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” Kelihatannya pertanyaan tentang pajak. Tetapi sebenarnya ini adalah pertanyaan jebakan. Kalau Yesus menjawab: “Bayarlah pajak kepada Kaisar,” mereka bisa mengatakan: “Berarti Yesus tidak membela bangsa Israel!” Tetapi kalau Yesus menjawab: “Jangan bayar pajak kepada Kaisar,” mereka bisa membawa Yesus kepada pemerintah Romawi dengan tuduhan menghasut rakyat. Jadi mereka membuat Yesus seperti orang yang sedang berdiri di tengah jalan: maju salah, mundur salah, ke kiri salah, ke kanan juga salah. Tetapi mereka lupa satu hal: Mereka sedang berhadapan dengan Yesus! Yesus tidak masuk ke dalam jebakan mereka. Yesus justru meminta mereka menunjukkan sekeping uang. Kemudian Yesus bertanya: “Gambar dan tulisan siapakah ini?” Mereka menjawab: “Gambar dan tulisan Kaisar.” Lalu Yesus memberikan jawaban yang sangat terkenal: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” Jemaat yang dikasihi Tuhan, Jawaban Yesus bukan sekadar berbicara tentang pajak. Yesus sedang mengajarkan sesuatu yang jauh lebih dalam: Siapa sebenarnya yang menjadi Tuhan dalam hidup kita? Dan kalau kita bawa ke dalam kehidupan keluarga, pertanyaannya menjadi: Apakah keluarga kita benar-benar mengakui bahwa Tuhan adalah Penguasa atas seluruh kehidupan kita? 2. KELUARGA HARUS MENYADARI: SEGALA SESUATU ADALAH MILIK TUHAN Jemaat Tuhan, Perhatikan perkataan Yesus: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” Ada sesuatu yang sangat menarik. Yesus membedakan antara apa yang menjadi kewajiban kepada pemerintah dan apa yang menjadi kewajiban kepada Allah. Pajak adalah kewajiban kepada negara. Tetapi kehidupan kita adalah milik Allah. Kita bekerja. Kita memperoleh penghasilan. Kita mempunyai rumah. Kita mempunyai kendaraan. Kita mempunyai usaha. Kita mempunyai pendidikan. Kita mempunyai keluarga. Tetapi jangan lupa: Semua itu akhirnya berada di bawah kedaulatan Tuhan. Kita sering berkata: “Ini uang saya.” “Ini rumah saya.” “Ini usaha saya.” “Ini anak saya.” “Ini keberhasilan saya.” Padahal kalau Tuhan mengambil napas kita selama beberapa detik saja, kita tidak bisa berkata apa-apa lagi. Karena itu, keluarga Kristen perlu belajar mengatakan: “Tuhan, semuanya berasal dari-Mu dan semuanya berada di bawah kuasa-Mu.” 3. UANG BUKAN TUHAN Jemaat yang dikasihi Tuhan, Dalam kehidupan keluarga, salah satu tantangan terbesar adalah uang. Uang memang penting. Kita membutuhkan uang untuk makan. Untuk membayar listrik. Untuk sekolah anak. Untuk transportasi. Untuk kesehatan. Untuk kebutuhan rumah tangga. Tetapi masalah muncul ketika uang bukan lagi menjadi alat, melainkan menjadi tuan. Ada orang yang mengatakan: “Kalau saya punya banyak uang, saya pasti bahagia.” Belum tentu. Ada juga yang mengatakan: “Kalau uang saya sudah cukup, saya baru bisa tenang.” Masalahnya: Berapa ukuran “cukup”? Seratus ribu? Satu juta? Sepuluh juta? Seratus juta? Kadang-kadang manusia itu unik. Gaji naik, kebutuhan ikut naik. Dulu naik motor sudah senang. Kemudian ingin mobil. Sudah punya mobil, ingin mobil yang lebih besar. Sudah punya rumah, ingin rumah lebih besar. Sudah punya rumah besar, bingung membersihkannya! Akhirnya rumahnya besar, tetapi waktu bersama keluarga malah kecil. he he Karena itu keluarga Kristen harus belajar: Uang boleh berada di tangan kita, tetapi jangan sampai uang menguasai hati kita. Tuhanlah yang harus menjadi Tuhan. 4. “BERIKAN KEPADA ALLAH APA YANG WAJIB KAMU BERIKAN” Jemaat yang dikasihi Tuhan, Pertanyaan pentingnya sekarang: Apa yang harus kita berikan kepada Allah? Apakah Allah membutuhkan uang kita? Tentu tidak. Allah adalah Pencipta segala sesuatu. Yang Allah kehendaki adalah hati dan kehidupan kita. Roma 12:1 mengatakan agar kita mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah. Artinya: Kita memberikan hidup kita kepada Tuhan. Kita memberikan waktu kita kepada Tuhan. Kita memberikan keluarga kita kepada Tuhan. Kita memberikan pekerjaan kita kepada Tuhan. Kita memberikan kemampuan kita kepada Tuhan. Kita memberikan harta kita untuk dipakai sesuai kehendak Tuhan. Jadi jangan sampai terjadi: Hari Minggu kita memberikan satu jam kepada Tuhan, tetapi Senin sampai Sabtu Tuhan dilupakan! Jangan sampai: “Tuhan, ini hari Minggu milik-Mu. Senin sampai Sabtu milik saya.” he he Tuhan bukan Tuhan hanya pada hari Minggu. Tuhan adalah Tuhan setiap hari. 5. KEDAULATAN TUHAN DIMULAI DARI DALAM KELUARGA Jemaat GKJ yang dikasihi Tuhan, Tema kita hari ini adalah: “Keluarga Yang Mengakui Kedaulatan Tuhan atas Segala Sesuatu.” Artinya, keluarga Kristen bukan hanya keluarga yang pergi ke gereja. Bukan hanya keluarga yang mempunyai Alkitab. Bukan hanya keluarga yang berdoa sebelum makan. Tetapi keluarga yang benar-benar berkata: “Tuhan, Engkaulah yang memimpin keluarga kami.” Ini sangat penting. Sebab keluarga adalah tempat pertama anak-anak belajar tentang Tuhan. Anak belajar bukan hanya dari khotbah pendeta. Anak belajar dari orang tua. Anak memperhatikan bagaimana ayah memperlakukan ibu. Anak memperhatikan bagaimana ibu memperlakukan ayah. Anak memperhatikan bagaimana orang tua berbicara ketika sedang marah. Anak memperhatikan bagaimana keluarga menggunakan uang. Anak memperhatikan apakah orang tua jujur. Anak memperhatikan apakah orang tua mau meminta maaf. Anak memperhatikan apakah orang tua berdoa hanya ketika membutuhkan sesuatu. Kadang-kadang orang tua berkata: “Nak, kamu harus rajin berdoa.” Tetapi anak melihat ayahnya: “Nanti saja doanya, Ayah lagi sibuk.” Anak bisa berpikir: “Oh, ternyata Tuhan bisa ditunda kalau pekerjaan lebih penting.” Itulah sebabnya pendidikan iman yang paling kuat sebenarnya terjadi di rumah. 6. JANGAN SAMPAI ANAK HANYA DIAJARI MENGEJAR DUNIA Jemaat yang dikasihi Tuhan, Kita tentu ingin anak-anak kita sukses. Kita ingin mereka sekolah tinggi. Kita ingin mereka mempunyai pekerjaan yang baik. Kita ingin mereka mempunyai masa depan. Itu semua baik. Tetapi jangan sampai kita hanya berkata: “Nak, jadilah orang sukses.” Tetapi tidak pernah berkata: “Nak, jadilah orang yang takut akan Tuhan.” Jangan hanya mengajarkan: “Cari pekerjaan yang gajinya besar.” Tetapi juga: “Carilah pekerjaan yang membuat hidupmu menjadi berkat.” Jangan hanya mengajarkan: “Jangan kalah dari orang lain.” Tetapi ajarkan: “Jadilah orang yang setia kepada Tuhan.” Karena ukuran keberhasilan menurut dunia dan menurut Tuhan tidak selalu sama. Dunia bertanya: “Berapa banyak yang kamu punya?” Tuhan bertanya: “Untuk apa yang kamu punya itu kamu gunakan?” Dunia bertanya: “Seberapa tinggi jabatanmu?” Tuhan bertanya: “Apakah hidupmu menjadi berkat?” Dunia bertanya: “Berapa banyak uangmu?” Tuhan bertanya: “Apakah hatimu masih menjadi milik-Ku?” 7. KELUARGA KRISTEN HARUS BELAJAR MEMBEDAKAN HAK DAN KEWAJIBAN Matius 22 juga mengajarkan tentang tanggung jawab. Yesus tidak berkata: “Karena kamu milik Tuhan, kamu tidak perlu memikirkan negara.” Tidak. Yesus justru mengatakan: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar.” Artinya orang percaya tetap mempunyai tanggung jawab sebagai warga negara. Kita harus menjadi warga negara yang baik. Kita membayar kewajiban sesuai aturan. Kita menaati hukum. Kita tidak merusak fasilitas umum. Kita tidak menipu. Kita tidak melakukan korupsi. Kita tidak menggunakan jabatan untuk kepentingan pribadi. Kita tidak berkata: “Saya orang Kristen, jadi aturan tidak berlaku bagi saya.” Tidak! Justru karena kita orang Kristen, kita harus menjadi orang yang bertanggung jawab. Tetapi pada saat yang sama, Yesus mengatakan: “Berikan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” Artinya: Negara mempunyai otoritas, tetapi negara bukan Tuhan. Pekerjaan penting, tetapi pekerjaan bukan Tuhan. Uang penting, tetapi uang bukan Tuhan. Jabatan penting, tetapi jabatan bukan Tuhan. Keluarga penting, tetapi keluarga juga berada di bawah Tuhan. Hanya Allah yang mempunyai kedaulatan tertinggi. 8. JANGAN MENJADIKAN ANAK SEBAGAI “INVESTASI” Jemaat yang dikasihi Tuhan, Ada satu hal yang kadang terjadi dalam keluarga. Orang tua bekerja keras untuk anak. Itu baik. Tetapi jangan sampai anak dianggap sebagai investasi. Misalnya: “Papa sudah menyekolahkan kamu mahal-mahal. Nanti kamu harus membalas!” Tentu anak perlu menghormati orang tua. Tetapi anak bukan mesin ATM masa depan! he he Anak adalah titipan Tuhan. Karena itu orang tua bukan pemilik mutlak anak. Kita adalah penatalayan. Tuhan mempercayakan anak kepada kita supaya kita membimbing mereka mengenal Tuhan. Jadi tugas orang tua bukan hanya membuat anak: pintar, kaya, sukses dan terkenal. Tetapi juga: jujur, rendah hati, bertanggung jawab, mengasihi sesama dan takut akan Tuhan. 9. KELUARGA YANG MENGAKUI KEDAULATAN TUHAN AKAN BELAJAR BERSYUKUR Jemaat yang dikasihi Tuhan, Kalau kita menyadari bahwa Tuhan berdaulat, kita akan belajar bersyukur. Ketika punya banyak, kita bersyukur. Ketika sedang sedikit, kita tetap percaya. Ketika berhasil, kita tidak sombong. Ketika gagal, kita tidak putus asa. Kita berkata: “Tuhan tetap memegang hidup kami.” Keluarga seperti ini tidak mudah hancur hanya karena keadaan ekonomi berubah. Karena fondasinya bukan uang. Fondasinya adalah Tuhan. Ada keluarga yang rumahnya besar tetapi tidak bahagia. Ada keluarga yang rumahnya sederhana tetapi penuh sukacita. Ada keluarga yang makan di restoran mahal tetapi tidak pernah berbicara dari hati ke hati. Ada keluarga yang makan sederhana di meja makan, tetapi bisa tertawa bersama. Jadi kebahagiaan keluarga bukan terutama ditentukan oleh: berapa besar rumahnya, tetapi: seberapa besar Tuhan hadir di dalam rumah itu. 10. KELUARGA YANG MENGAKUI TUHAN AKAN MENGAMBIL KEPUTUSAN BERSAMA TUHAN Jemaat Tuhan, Ada banyak keputusan keluarga: Anak sekolah di mana? Pindah pekerjaan atau tidak? Membeli rumah atau tidak? Membeli kendaraan atau tidak? Memulai usaha atau tidak? Menikah atau tidak? Mengambil utang atau tidak? Dalam semua keputusan itu, jangan hanya bertanya: “Untungnya berapa?” Tetapi tanyakan: “Tuhan, apakah keputusan ini sesuai dengan kehendak-Mu?” Jangan hanya menghitung: untung-rugi. Tetapi juga hitung: benar-salah. Karena sesuatu bisa menguntungkan secara ekonomi tetapi merugikan secara rohani. Sesuatu bisa membuat kita kaya tetapi kehilangan keluarga. Sesuatu bisa membuat kita terkenal tetapi kehilangan integritas. Sesuatu bisa membuat kita naik jabatan tetapi menjauh dari Tuhan. Karena itu: Keluarga Kristen bukan hanya mencari keputusan yang menguntungkan, tetapi keputusan yang berkenan kepada Tuhan. 11. ADA SATU HAL YANG TIDAK BOLEH KITA BERIKAN KEPADA SIAPA PUN: HATI KITA Jemaat yang dikasihi Tuhan, Kita boleh memberikan pajak kepada negara. Kita memberikan tenaga kepada pekerjaan. Kita memberikan waktu kepada keluarga. Kita memberikan pelayanan kepada gereja. Tetapi ada satu hal yang tidak boleh kita serahkan kepada dunia: Hati kita. Hati kita adalah milik Tuhan. Karena itu jangan sampai: uang menguasai hati, jabatan menguasai hati, popularitas menguasai hati, kekhawatiran menguasai hati, kebencian menguasai hati, atau keinginan dunia menguasai hati. Biarlah Tuhan yang menjadi Raja dalam hati kita. 12. HUMOR: SIAPA YANG SEBENARNYA MENJADI TUHAN DI RUMAH? Jemaat yang dikasihi Tuhan, Kadang-kadang kita berkata: “Di rumah kami, Tuhan adalah kepala keluarga.” Bagus! Tetapi praktiknya kadang berbeda. Ayah berkata: “Saya kepala keluarga.” Ibu berkata: “Iya, silakan jadi kepala.” Tetapi ternyata yang menentukan semuanya adalah ibu. he he Ayah merasa menjadi kepala. Ibu yang menjadi “GPS”. Anak menjadi “komandan anggaran”. Dan kartu ATM menjadi “pusat pemerintahan”. he he Tetapi firman Tuhan mengingatkan kita: Yang menjadi Kepala keluarga sesungguhnya adalah Tuhan. Suami bukan Tuhan. Istri bukan Tuhan. Anak bukan Tuhan. Uang bukan Tuhan. Pekerjaan bukan Tuhan. Jabatan bukan Tuhan. Kristuslah Tuhan atas keluarga kita. 13. PRAKTIK SEDERHANA: BAGAIMANA MENGAKUI KEDAULATAN TUHAN DI RUMAH? Jemaat yang dikasihi Tuhan, Kita bisa memulainya dengan hal-hal sederhana. Pertama: Berdoalah bersama. Tidak harus panjang. Yang penting sungguh-sungguh. Misalnya sebelum tidur: “Tuhan, terima kasih untuk hari ini. Pimpin keluarga kami. Ampuni kesalahan kami dan berikan kami hati yang mau melakukan kehendak-Mu.” Sederhana, tetapi kuat. Kedua: Bacalah firman Tuhan. Tidak harus langsung satu pasal panjang. Satu bagian pendek pun tidak apa-apa. Yang penting dilakukan dengan konsisten. Ketiga: Belajar jujur dalam keluarga. Kalau salah, katakan: “Maaf.” Kalau tidak tahu, katakan: “Saya tidak tahu.” Kalau salah mengambil keputusan: “Saya keliru.” Kalimat-kalimat sederhana ini justru menunjukkan kerendahan hati di hadapan Tuhan. Keempat: Kelola uang dengan bijaksana. Bedakan kebutuhan dan keinginan. Jangan hidup hanya untuk mengejar gengsi. Jangan sampai penghasilan bertambah tetapi utang juga bertambah. Kelima: Jadikan rumah sebagai tempat kasih. Jangan sampai gereja mengajarkan kasih, tetapi di rumah semua orang saling marah. Rumah Kristen harus menjadi tempat: orang bisa didengar, orang bisa diterima, orang bisa meminta maaf, dan orang bisa belajar mengampuni. 14. PENUTUP: MILIK SIAPA HIDUP KITA? Jemaat Tuhan yang dikasihi Tuhan Yesus, Matius 22:15-22 mengajak kita kembali kepada pertanyaan paling mendasar: Milik siapa hidup kita? Uang bisa menjadi milik kita secara hukum. Rumah bisa menjadi milik kita secara administrasi. Kendaraan bisa atas nama kita. Jabatan bisa melekat pada nama kita. Tetapi kehidupan kita? Kehidupan kita adalah milik Tuhan. Kita datang ke dunia tanpa membawa apa-apa. Dan ketika waktunya tiba, kita juga tidak membawa apa-apa. Karena itu jangan habiskan hidup hanya untuk mengumpulkan sesuatu yang akhirnya kita tinggalkan. Kumpulkanlah sesuatu yang bernilai di hadapan Tuhan: iman, kasih, kejujuran, kesetiaan, pengampunan, pelayanan, dan kehidupan yang menjadi berkat. 15. AJAKAN UNTUK KELUARGA Jemaat yang dikasihi Tuhan, Mari kita pulang dengan satu keputusan. Mari kita berkata: “Mulai hari ini, keluarga kami bukan hanya ingin menjadi keluarga yang sukses, tetapi keluarga yang dipimpin Tuhan.” Ketika punya uang: Tuhan tetap nomor satu. Ketika sedang kekurangan: Tuhan tetap nomor satu. Ketika berhasil: Tuhan tetap nomor satu. Ketika gagal: Tuhan tetap nomor satu. Ketika anak-anak berhasil: Tuhan tetap nomor satu. Ketika keluarga menghadapi masalah: Tuhan tetap nomor satu. Karena kita percaya: Tuhan bukan hanya Tuhan di gereja. Tuhan adalah Tuhan di rumah. Tuhan adalah Tuhan di tempat kerja. Tuhan adalah Tuhan atas ekonomi keluarga. Tuhan adalah Tuhan atas masa depan anak-anak kita. Tuhan adalah Tuhan atas seluruh kehidupan kita. KESIMPULAN Matius 22:21 berkata: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” Maka sebagai keluarga Kristen, mari kita memberikan kepada dunia apa yang menjadi tanggung jawab kita. Tetapi kepada Tuhan, mari kita berikan seluruh hidup kita. Sebab pada akhirnya bukan hanya uang yang harus kita pertanggungjawabkan. Bukan hanya jabatan. Bukan hanya pekerjaan. Tetapi: bagaimana kita menggunakan seluruh kehidupan yang Tuhan percayakan kepada kita. Kiranya keluarga kita menjadi keluarga yang berkata: “Tuhan, Engkaulah Pemilik hidup kami. Pimpin rumah tangga kami. Pimpin pekerjaan kami. Pimpin anak-anak kami. Pimpin keputusan kami. Dan biarlah seluruh kehidupan kami memuliakan nama-Mu.” Amin.
Nama Bayi Katolik Terlengkap, Tahun Liturgi Dalam Katolik, Kalender Liturgi Katolik 2026, Renungan Katolik 2025, | Khotbah GKJ Minggu, 22 Februari 2026 - Daya Tahan ImanAll Garis Besar: Warning: include(htmArtikel/LISTGarisBesar.htm): failed to open stream: No such file or directory in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/gkj.lagu-gereja.com/baca10.php on line 86 Warning: include(htmArtikel/LISTGarisBesar.htm): failed to open stream: No such file or directory in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/gkj.lagu-gereja.com/baca10.php on line 86 Warning: include(): Failed opening 'htmArtikel/LISTGarisBesar.htm' for inclusion (include_path='.:/opt/plesk/php/5.6/share/pear') in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/gkj.lagu-gereja.com/baca10.php on line 86
Nyanyian Ibadah Gereja: MENU UTAMA:Lagu Koor Gereja, JB (Pujian Sekolah Minggu), KMM, KJ, PKJ, GB, NKB, Kidung Ceria, NR, NR TORAJA, PKJ TORAJA, NKB TORAJA, NJNE, PENANIAN MASALLO', Pa'pudian, Mazmur Genewa, Nyanyian Jemaat GPM, LIRIK LAGU ROHANI SUNDA, Kidung Kabungahan KKB, KPKL, KPKA, Kidung RIA GKJW, Buku Ende, BN (Buku Nyanyian HKBP), Suplemen Buku Ende, MNR1 (Mazmur dan Nyanyian Buku 1), MNR2 (Mazmur dan Nyanyian Buku 2), Nafiri Rohani, MAZMUR MP3 GKI, NP (Nyanyian Pujian), Lagu Tiberias, Nafiri Kemenangan, Lagu GMS, PPK, PPPR, KPPK, NKI, NRM, Buku Lagu Perkantas, KPJ, KRI, KPRI, KLIK, NNBT, DSL, LS, Doding Haleluya, LKEE, Suara Gembira, , Puji Syukur, Madah Bakti, Kidung Pasamuan Jawi (KPJ)(1) Alkitab JAWA Prajanjian Lawas(1) Bacaan Alkitab GKJW 2026(1) Bacaan Leksionari GKJ 2025(8) Bacaan Leksionari GKJ 2026(12) Contoh Tata Ibadah GKJ(29) Kalender GKJ 2017(7) Kalender GKJ 2018(12) Kalender GKJ 2019(12) Kalender Liturgi GKJ 2023(12) Khotbah GKJ 2016(1) Khotbah GKJ 2025(21) Khotbah GKJ 2026(6) Khotbah GKJW 2026(8) Kidung Pasamuwan Kristen (KPK)(8) Kidung Pasamuwan Kristen Anyar (KPKA)(345) Kidung Pasamuwan Kristen Lawas (KPKL)(171) Kidung Ria GKJW(33) Klasis Gereja Kristen Jawa (GKJ)(32) NA(1) Pembacaan Alkitab 2016(1) Renungan GKJ 2022(29) Renungan GKJ 2023(13) Renungan GKJ 2024(1) Renungan GKJW 2024(4) Renungan GKJW 2026(3) Tata Ibadah GKJ 2024(2) Tentang GKJ(3) xxx(4) | Register Login Warning: include(if_month_gkii.php): failed to open stream: No such file or directory in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/gkj.lagu-gereja.com/channel.php on line 2 Warning: include(if_month_gkii.php): failed to open stream: No such file or directory in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/gkj.lagu-gereja.com/channel.php on line 2 Warning: include(): Failed opening 'if_month_gkii.php' for inclusion (include_path='.:/opt/plesk/php/5.6/share/pear') in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/gkj.lagu-gereja.com/channel.php on line 2
Links:
lagu-gereja.com,
bible.,
perkantas,
gbi,
GKII,
gkj,
HKBP,
MISA, GMIM, GPM, toraja, gmit, gkp, gkps, gbkp, Hillsong, PlanetShakers, JPCC Worship, Symphony Worship, Bethany Nginden, Christian Song, Lagu Rohani, ORIENTAL WORSHIP, Lagu Persekutuan, NJNE, Nyanyian Jemaat GPM, Kalender Liturgi GKJ Oktober 2022 Minggu, 26 Juni 2022 Renungan GKJ Minggu, 26 Juni 2022 - II Raja-raja 2:1-2,6-14 - Minggu Biasa VIII Minggu ke-3 setelah Pentakosta (Hijau) Minggu, 19 Juni 2022 Renungan GKJ Minggu, 19 Juni 2022 - I Raja-raja 19:1-4,(5-7),8-15a - Minggu Biasa VII Minggu ke-2 setelah Pentakosta (Hijau) Minggu, 12 Juni 2022 Renungan GKJ Minggu, 12 Juni 2022 - Amsal 8:1-4,22-31 - Minggu Trinitas (Putih) Minggu, 5 Juni 2022 Renungan GKJ Minggu, 5 Juni 2022 - Kisah Para Rasul 2:1-21 - Petakosta (Merah) Minggu, 15 Mei 2022 Renungan GKJ Minggu, 15 Mei 2022 - Saling Mengasihi - Kisah Para Rasul 11:1-18 - Minggu Paskah V (Putih) |
| popular pages | login | e-mail: admin@lagu-gereja.com © 2012 . All Rights Reserved. |