| gkj.lagu-gereja.com |
![]() |
Download MP3 Music Khotbah GKJ 2025 Minggu, 2 Februari 2025 Minggu, 2 Februari 2025 Khtobah GKJ Minggu, 2 Februari 2025 - Ajarku Mengenal-Mu - 1 Korintus 13:1-13 - Minggu Biasa (Hijau)Minggu Biasa (Hijau) TEMA PERAYAAN IMAN Ajarku Mengenal-Mu TUJUAN 1. Umat menyadari keterbatasannya dalam mengenal dirinya, sesama, dan Tuhan. 2. Umat bersedia taat berproses dalam upaya mengenal Allah DAFTAR BACAAN Bacaan I : Yeremia 1:4-10 Tanggapan : Mazmur 71:1-6 Bacaan II : 1 Korintus 13:1-13 Bacaan Injil : Lukas 4:21-30 DAFTAR AYAT LITURGIS Berita Anugerah : Mazmur 9:11 Petunjuk Hidup Baru : Yesaya 55:6-9 Persembahan : 1 Tawarikh 29:14 DAFTAR NYANYIAN LITURGIS Bahasa Indonesia Nyanyian Pujian : PKJ 3 (diulang secukupnya) Nyanyian Penyesalan : PKJ 37:1-2 Nyanyian Kesanggupan : PKJ 200 (diulang secukupnya) Nyanyian Persembahan : PKJ 146:1-… Nyanyian Pengutusan : PKJ 281:1-3 Bahasa Jawa Kidung Pamuji : KPJ 3:1, 3, 4 Kidung Panelangsa : KPJ 47:1-3 Kidung Kesanggeman : KPJ 65 : 1 Kidung Pisungsung : KPJ 179:1-… Kidung Pangutusan : KPJ 426:1-3 Pdt. Marya Sri Hartati (GKJ Joglo) DASAR PEMIKIRAN Dalam bukunya, Institutes of Christian Religion I., John Calvin mengatakan bahwa “Hampir semua hikmat yang kita miliki, yakni hikmat yang benar, terdiri dari dua hal: pengenalan akan Allah dan pengenalan akan diri sendiri”. Pernyataan Calvin ini sejalan dengan kesaksian Paulus dalam 1 Timotius 1:12-20. Dalam suratnya tersebut, Paulus menyampaikan dengan baik pengenalannya tentang dirinya sendiri. Dalam refleksinya, pengenalan itu ia peroleh karena Allah yang memampukannya. Dapat kita katakan, mengenal Allah sangat erat kaitannya dengan mengenal diri sendiri. Jalan menuju pada pengenalan itu ada di hadapan kita setiap hari, sebagaimana Sokrates mengatakan, “Hidup yang tidak direfleksikan, tidak layak untuk dijalani”. Artinya, kita perlu senantiasa menelaah diri kita sendiri agar dapat semakin mengenal diri dan Tuhan. Tantangan yang kita hadapi adalah kecenderungan kita dalam memandang hidup secara fragmentaris atau parsial. Hal ini membuat kita kurang dapat melihat segala sesuatu dalam keterhubungannya dengan yang lain. Inilah keterbatasan manusiawi kita. Sekalipun pengenalan manusia akan Allah tidak sempurna, namun bagi orang Kristen kita memiliki jaminan bahwa Allah di dalam kasih-Nya sangat mengenal kita. Di dalam kasih-Nya, ia memilih kita untuk menjadi umat-Nya. Ia mengenali kita sebagai dombadomba-Nya (Yohanes 10:14). Sebagai responsnya, kita pun perlu senantiasa mengupayakan pengenalan akan Allah. KETERANGAN BACAAN Yeremia 1:4-10 Yeremia dipanggil Tuhan pada masa muda. Ia berasal dari Anatot, lebih kurang 3 km di sebelah timur laut Yerusalem. Ia keturunan Imam Abyatar, seorang imam kepala pada zaman Raja Daud (1 Sam. 22:20, 2 Sam. 20:25). Ketika Salomo, anak Daud, naik tahta, ia mengusir Abyatar ke Anatot karena Abyatar mendukung Adonia sebagai raja menggantikan Daud (1 Raj. 2:26-27). Mungkin, dari sinilah dapat kita telusuri kritik keras Yeremia terhadap raja-raja keturunan Daud. Yeremia dipanggil pada tahun ke-13 pemerintahan Raja Yosia, tahun 626 SM (Yer. 1:2, 25:3). Tuhan telah merancangkan panggilan itu sejak ia berada dalam kandungan ibunya. Tuhan mengatakan dalam Yeremia 1:5 (TB2), “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa”. Tuhan mengenal Yeremia, tetapi tidak demikian dengan Yeremia sendiri. Jika Tuhan memandang Yeremia sangat layak untuk menjadi nabinya, sebaliknya, Yeremia merasa sangat tidak layak. Ia berkata dalam ayat 6 (TB2), “Ah, Tuhan Allah, sesungguhnya aku tidak pandai bicara, sebab aku masih muda”. Tuhan yang jauh mengenal Yeremia menguatkannya dengan 4 langkah: 1. Memotivasi; usia muda bukan alasan untuk menghindar dari panggilan. Yeremia didorong untuk melakukan apa pun yang Tuhan perintahkan dan pergi ke mana pun Tuhan mengutus. (ay.7) 2. Menghibur; Yeremia tidak boleh takut, karena Tuhan pasti akan melepaskannya dari musuh-musuhnya dan menyertainya. (ay.8) 3. Melengkapi; Tuhan menaruh perkataan-perkataan-Nya di dalam mulut Yeremia. Tuhan melengkapinya dalam tugas pelayanannya dengan diberi kemampuan berbicara (menyampaikan gagasan dan mempersuasi orang lain). (ay.9) 4. Meneguhkan; Tuhan meneguhkan Yeremia bahwa pada saat itu juga, di hari ia dipanggil, Tuhan mengangkatnya atas segala bangsa. Ia berkuasa untuk segalanya. (ay.10) Mazmur 71:1-6 Mazmur ini termasuk dalam mazmur permohonan perseorangan (Marie Claire Barth & B.A. Pareira, Tafsiran Alkitab: Kitab Mazmur 172, Jakarta: BPK GM, 2001, hlm. 59). Sang Pemazmur memohon perlindungan dan keadilan di masa tua, sebagaimana dituliskan dalam ayat 9. Doa ini dinaikkan ketika pemazmur menghadapi ancaman musuh yang ia sebut dengan orang fasik, lalim, dan kejam. Mereka dengan sengaja hendak mendatangkan kecelakaan bagi sang pemazmur. Namun, pemazmur memiliki relasi yang kuat dengan Allah. Ia mempercayakan dirinya kepada Allah. Bahkan, ia meyakini, sejak di dalam kandungan ibunya, Tuhan telah menentukannya untuk memiliki harapan masa depan yang baik. Tuhan adalah penopangnya. Melalui doa yang dipanjatkan, tampak Pemazmur mengenal Allah dengan baik, sehingga mazmur yang ia tuliskan adalah sebuah mazmur yang optimistik dan berpengharapan. 1 Korintus 13:1-13 Sebagian penafsir mengatakan bahwa perikop ini merupakan suatu syair yang disisipkan di antara 1 Kor. 12:31 dan 14:1. Surat 1 Korintus 12:31b (TB2) berbunyi, “Namun, aku menunjukkan kepadamu jalan yang lebih utama lagi”. Kalimat ini merupakan kelanjutan dari bagian sebelumnya, di mana Paulus mengkritik pandangan orang Korintus pada umumnya yang membanggakan karunia-karunia yang mereka miliki. Satu sama lain memandang, karunianya adalah yang terpenting/utama. Namun, bagi Paulus, semua karunia itu tidak ada artinya jika tidak dijalani di dalam kasih. Bagi Paulus, itulah “jalan yang lebih utama”. Kata “jalan” yang dimaksudkan bukan berarti “menuju”, melainkan “jalan dalam” kasih. Paulus menekankan keragaman karunia sebagai kekayaan yang mesti digunakan bagi kepentingan bersama, dengan kerendahan hati di dalam pelayanan penuh kasih kepada orang lain. Pengetahuan dan hikmat yang dimiliki oleh umat tidak semestinya menjadi alasan seseorang untuk menyombongkan diri, sebab itu semua tidak ada artinya jika tanpa kasih. Ia menuliskan dalam ayat 1-2 (TB2) demikian, “Sekalipun aku dapat berbicara dalam semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan simbal yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna”. Dengan gaya bahasa menyangatkan, Paulus hendak menegaskan bahwa semua yang dianggap penting atau utama oleh manusia, akan siasia jika tidak disertai dengan kasih. Bahkan, andai ia memiliki iman yang sempurna sekalipun, jika tidak memiliki kasih, tidak akan ada gunanya. Paulus mengatakan hal ini bukan berarti ia merasa memiliki iman yang sempurna, sebaliknya justru ia merasa imannya belum sempurna. Dengan rendah hati, ia mengakui pengenalannya tentang Allah masih samar-samar (Yun.= ainigma= αινιγμα= teka-teki), seperti melihat pantulan wajah kita di muka cermin (ctt.: kebanyakan cermin di dunia kuno terbuat dari logam atau batu dan kualitas gambar yang dipantulkan tidak seperti cermin pada masyarakat modern saat ini). Paulus berkata demikian, untuk mengingatkan umat agar jangan merasa sangat mengenal Allah, karena pada bagian lain suratnya, yaitu 1 Timotius 1:12-20 dapat kita ketahui bahwa sesungguhnya Paulus mengenal Allah dengan baik. Lukas 4:21-30 Bagian bacaan ini merupakan satu rangkaian dalam perikop yang berjudul “Yesus di tolak di Nazaret”. Setting peristiwa terjadi paska Yesus dibaptis oleh Yohanes, kemudian dicobai oleh Iblis di padang gurun. Setelah itu, Yesus datang ke Galilea, kemudian ke Nazaret, tempat IA dibesarkan. Di sana, Yesus masuk ke Bait Allah dan mendapatkan giliran menjadi lektor, membaca bagian Kitab Suci, yaitu Yesaya 61:1-2 seperti ditulus dalam Lukas 4:1819 (TB2), “Roh Tuhan ada pada-Ku, karena Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin. Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan”. Lukas menarasikan adegan pembacaan itu dengan dramatis, seperti ditulis dalam ayat 20. Kemudian, Yesus berkata, “Pada hari ini genaplah nas ini ketika kamu mendengarkannya” (ayat 21, TB2). Dengan perkataan itu, Yesus hendak menegaskan bahwa IA diurapi oleh Tuhan dan IA-lah Sang Mesias yang dinantikan. Ayat 22 menceritakan respons “semua orang” yang membenarkan perkataan Yesus. Namun, ketika Yesus menyinggung tentang janda Sarfat yang mendapatkan berkat dibandingkan janda Israel (1 Raj. 17:1, 8-16), dan Naaman orang Siria yang mendapatkan kesembuhan dari sakit kulit yang menular (TB2, TB1= kusta) dibandingkan orang Israel (2 Raj. 5:1-14), orang banyak itu menjadi marah dan mengusir Yesus. Perubahan sikap “semua orang” dari semula membenarkan perkataan Yesus menjadi menolak Yesus, memberi petunjuk kepada kita bahwa rupanya fanatisme kesukuan yang ekstrem menjadikan orang Israel berpikir dan bertindak eksklusif. Mereka berpikir orang Sarfat dan Siria semestinya tidak mendapatkan berkat, yang berhak adalah orang-orang keturunan Abraham (Yahudi). Hal tersebut juga menggambarkan bahwa orang banyak itu belum mengenal Allah yang menyediakan keselamatan bagi semua orang. POKOK DAN ARAH PEWARTAAN Manusia cenderung memiliki sudut pandang secara parsial. Sulit bagi manusia untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang luas. Itulah sebabnya, manusia memiliki keterbatasan untuk mengenal Allah. Karena keterbatasannya, manusia perlu mengupayakan pengenalan itu melalui sikap, yaitu: 1. Rendah hati, seperti Paulus yang mengakui keterbatasannya, dalam pengenalan akan Allah. 2. Taat, seperti Yeremia, sekalipun dalam ketidaktahuannya, ia melakukan tugas perutusannya. 3. Inklusif, sikap yang meyakini bahwa Allah juga berkenan kepada semua orang. 4. Kolaboratif, setiap karunia yang Tuhan berikan hendaknya digunakan untuk kepentingan bersama, di dalam kasih. KHOTBAH JANGKEP BAHASA INDONESIA AJARKU MENGENALMU Saudara yang terkasih, ada sebuah ilustrasi, mungkin Saudara pernah mendengarnya. Ilustrasi tersebut tentang seorang pria yang baru pertama kali naik pesawat. Di dalam pesawat, ia duduk di sebuah kursi, hingga seorang perempuan cantik mendekatinya dan berkata, “Bapak, mohon maaf, boleh saya melihat tiket Bapak?” Bapak itu mengeluarkan secarik kertas dari sakunya. Perempuan cantik itu pun berkata, “Mohon maaf Pak, kursi ini sudah ada yang memiliki. Bapak dipersilakan untuk menempati kursi Bapak di bagian belakang.” Mendengar itu, Bapak tersebut marah dan bertanya, “Anda siapa? Berani menyuruh saya?”, “Saya pramugari yang bertanggung jawab menjaga keselamatan dan kenyamanan penumpang pesawat Pak.” “Oh…. satpam. Ah, cuma satpam saja berani memerintah saya.” Pramugari itu pun terdiam dan meninggalkan Bapak tersebut. Ia melaporkan ke co-pilot tentang problem Bapak tadi. Co-pilot pun menghampiri bapak tersebut dan berkata, “Bapak, mohon maaf, demi keamanan dan keselamatan bersama, Bapak dipersilakan untuk duduk di kursi bagian belakang”. Sontak Bapak tersebut marah dan berkata, “Anda siapa, berani memerintah saya?” “Saya co-pilot pesawat ini pak.” “Apa itu co-pilot?” “Saya membantu pilot menerbangkan pesawat ini Pak.” “Owalah, cuma pembantu aja berani beraninya menyuruh saya pindah kursi. Tidak, saya tetap di sini!” Keributan pun terjadi dan menarik perhatian seorang penumpang lain yang duduk di bagian belakang. Penumpang itu mendekati Bapak yang sedang marah-marah. Lalu bertanya, “Maaf Pak, Bapak mau turun di mana?” Dengan lantang, bapak tersebut menjawab, “Banyumas.” “Oh, Bapak turun bersama saya. Jurusan Banyumas duduk di belakang Pak.” “Ah, nggak bilang dari tadi…. Kalau bilang gitu kan jelas… Ya sudah, saya pindah ke belakang.” Saudara yang dikasihi Tuhan, ilustrasi tentang seorang pria Banyumas ini sebenarnya menggambarkan kebanyakan dari diri kita. Sering kali kita merasa paling tahu, paling mengenal diri kita sendiri. Kita menganggap, orang lain keliru. Kitalah yang paling benar. Padahal kenyataannya, pria itulah yang sebenarnya tidak tahu apa-apa. Bukankah semua orang dalam satu pesawat akan turun bersama-sama di bandara yang sama, entah ia akan pergi ke Banyumas ataupun Purbalingga? Orang-orang di Korintus juga merasa demikian. Mereka merasa paling berhikmat, memiliki banyak pengetahuan, hingga mereka berlomba-lomba, siapa yang paling berhikmat di antara mereka. Hal itu menimbulkan perpecahan dalam jemaat. Namun, Paulus mengkritik sikap mereka. Ia berkata bahwa semua yang mereka anggap hikmat dan penting, tidak ada artinya apa-apa jika mereka tidak menjalaninya di dalam kasih. Mereka merasa mengenal Allah melalui pengetahuan yang mereka miliki, namun sebenarnya mereka tidak mengenal Allah. Dengan demikian, mereka juga tidak mengenal diri mereka sendiri. Dengan mengkritik orang Korintus, bukan berarti Paulus merasa diri paling baik dan sangat mengenal Allah. Dengan rendah hati, ia mengakui pengenalannya tentang Allah masih samar-samar/tekateki. Paulus mengumpamakan seperti melihat pantulan wajah di muka cermin. Kebanyakan cermin di dunia kuno terbuat dari logam atau batu dan kualitas gambar yang dipantulkan tidak seperti cermin pada masyarakat modern saat ini, yang dapat memantulkan wajah kita hampir sama persis. Cermin pada masa itu tidak serta merta memantulkan wajah yang identik, sebaliknya yang tampak adalah wajah yang samar dan tidak jelas. Demikian Paulus menggambarkan penggenalannya tentang Allah dan dirinya, juga tidak jelas. John Calvin mengatakan dalam sebuah bukunya bahwa “Hampir semua hikmat yang kita miliki, yakni hikmat yang benar, terdiri dari dua hal: pengenalan akan Allah dan pengenalan akan diri sendiri”. Dapat kita katakan, mengenal Allah sangat erat kaitannya dengan mengenal diri sendiri. Jalan menuju pada pengenalan itu ada di hadapan kita setiap hari, sebagaimana Sokrates mengatakan, “Hidup yang tidak direfleksikan, tidak layak untuk dijalani”. Artinya, kita perlu senantiasa menelaah diri kita sendiri agar dapat semakin mengenal diri dan Tuhan. Jangan kita merasa sudah maksimal dalam mengenal diri, namun teruslah berproses untuk senantiasa mengenal diri dan Tuhan. Tantangan yang kita hadapi adalah kecenderungan kita dalam memandang hidup secara fragmentaris atau parsial. Hal ini membuat kita kurang dapat melihat segala sesuatu dalam keterhubungannya dengan yang lain. Inilah keterbatasan manusiawi kita. Sama seperti orang-orang Yahudi dalam Lukas 4:21-30, mereka mengamini Firman Tuhan yang dibaca oleh Yesus. Namun, mereka sulit menerima kenyataan bahwa Allah pun memberikan berkat-berkatNya kepada orang bukan Yahudi. Yang mereka tahu, Allah hanya mengasihi mereka sebagai bangsa pilihan. Padahal, Allah juga mengasihi segala bangsa. Sekalipun pengenalan manusia akan Allah tidak sempurna, namun bagi orang Kristen kita memiliki jaminan bahwa Allah di dalam kasih-Nya sangat mengenal kita. Di dalam kasih-Nya, ia memilih kita untuk menjadi umat-Nya. Ia mengenali kita sebagai dombadomba-Nya (Yohanes 10:14). IA-lah yang membentuk dan menentukan kita sejak kita berada di dalam kandungan ibu kita. Sebagai responsnya, kita pun perlu senantiasa mengupayakan pengenalan akan Allah, melalui sikap: 1. Rendah hati, seperti Paulus yang mengakui keterbatasannya. Karunia-karunia yang ia miliki tidak berarti apa-apa jika tidak dia lakukan di dalam kasih. Ungkapan bahwa ia belum mengenal Allah adalah wujud sikapnya yang merendah. Sebab, dalam 1 Timotius 1:12-20, Paulus menyampaikan dengan baik pengenalannya tentang dirinya sendiri. Dalam refleksinya, pengenalan itu ia peroleh karena Allah yang memampukannya. 2. Taat, seperti Yeremia, sekalipun dalam ketidaktahuannya, ia melakukan tugas perutusannya, karena Tuhan 3. Inklusif, sikap yang meyakini bahwa Allah juga berkenan kepada semua orang. 4. Kolaboratif, setiap karunia yang Tuhan berikan hendaknya digunakan untuk kepentingan bersama, di dalam kasih. Empat hal ini dapat kita lakukan sebagai upaya kita untuk mengenal Allah dan mengenal diri kita secara lebih dalam. Amin. KHOTBAH JANGKEP BAHASA JAWA KAWULA KASAGEDNA NYUMURUPI PADUKA Para Sadherek ingkang kinasih, wonten satunggaling ilustrasi, mbokbilih panjenengan sadaya sampun nate mireng. Ilustrasi punika bab salah satunggaling bapak ingkang nembe sepisan nitih pesawat terbang. Ing lebet pesawat, piyambakipun lenggah ing kursi, ngantos wonten pawestri ayu ingkang nyelaki lan nyuwun pirsa, "Bapak, nuwun sewu, punapa kepareng kula ninggali tiketipun Bapak?" Bapak kala wau lajeng ngedalaken kertas saking kanthongipun. Pawestri kala wau ninggali kertas sekedap, lajeng matur, "Nuwun sewu Bapak, kursi punika sampun wonten ingkang manggeni. Bapak kaaturan pindah wonten ing kursi wingking." Mireng kados punika Bapak kala wau duka, "Panjenengan sinten nggih, kok mrentah-mrentah kula?", "Kula pramugari ingkang tanggeljawab njagi kawilujenganipun penumpang pesawat." "Oh..... satpam. Ah, mung satpam wae wani-wanine mrentah aku." Pramugari kala wau lajeng mendel kemawon lan nilar bapak kala wau. Piyambakipun lajeng lapor dhateng copilot bab prakawis bapak kala wau. Copilot lajeng nyelaki bapak kala wau lan ngendika, "Bapak, nuwun sewu, kagem kawilujenganipun sadaya, sumangga Bapak kaaturan pindah ing kursi wingking." Bapak kala wau lajeng duka lan ngendika, "Panjenengan sinten nggih, kok wantun mrentah kula?" "Kula copilot pesawat punika pak, ingkang mbiyantu pilot ngendarakaken pesawat punika." "Halah, gur pembantu lho, kok wani-wanine mrentah aku. Kula tetap ing kursi punika." Padudon ing antawisipun bapak kala wau, copilot lan pramugari ndadosaken kawigatosanipun tiyang kathah. Ngantos, wonten salah satunggaling penumpang ingkang lenggah ing sisih wingking, ngadeg lan nyelaki bapak wau. Piyambakipun nyuwun pirsa, "Nuwun sewu Pak, Bapak badhe tindak pundi?" "Kula badhe dhateng Banyumas." "Oh, Bapak mandap sareng kula. Jurusan Banyumas lengah wonten kursi wingking Pak." "Oalah, ora omong ket mau. Nek ngendika kados ngoten kan cetha... Nggih pun, kula tak pindah wingking." Sadharek ingkang kinasih, ilustrasi bab priyantun kakung saking Banyumas punika sayektosipun nggambaraken kita. Asring kita rumaos paling ngertos, paling nyumurupi dhiri kita piyambak. Kita nganggep, tiyang sanes klentu. Kita ingkang paling leres. Kamangka kasunyatanipun, priyantun kakung punika mboten pirsa punapa-napa. Ingkang leres, sadaya tiyang ingkang nitih pesawat ingkang sami, nggih badhe mandhap ing bandara ingkang sami, inggih tiyang ingkang badhe tindak Banyumas, punapa dene Purbalingga. Semanten ugi tiyang kathah ing Korinta. Kathah tiyang Korinta ingkang rumaos paling wicaksana, paling pinter, ngantos tiyangtiyang Korinta sami padu bab sinten ingkang ngadahi kawicaksanan ingkang paling utami. Ananging, Rasul Paul nyaruwe tumindakipun tiyang-tiyang punika. Piyambakipun ngendika bilih sadaya samukawis ingkang kaangep utami dening tiyang Korinta, mboten wonten ajinipun menawi mboten dilampahi ing salebeting raos welas asih. Kanthi nyaruwe tiyang Korinta, mboten ateges Rasul Paul rumaos dhiri paling sae lan saestu sampun nyumurupi Gusti. Kanthi andap asoring manah, piyambakipun ngakeni bilih dereng saged saestu nyumurupi Gusti. Teolog John Calvin nyerat ing salah satunggaling bukunipun, “Sadaya kawicaksanan ingkang kita gadhani, inggih punika kawicaksanan ingkang leres, wonten kalih jenisipun, inggih punika nyumurupi bab Gusti lan nyumurupi bab dhiri pribadi”. Kalih perkawis punika tansah kedah dipun asah. Menawi miturut Sokrates, filsuf Yunani, “Gesang punika kedah tansah dipun refleksikaken saben dinten, menawi mboten, gesang mboten wonten ajinipun.” Wosipun, kita prelu tansah manah-manah bab jati dhiri kita lan sesambetan kita kaliyan Gusti. Sampun ngantos kita rumaos sampun mentok anggenipun nyumurupi dhiri lan Gusti. Tantangan kita inggih punika, kita condong ninggali gesang sacara fragmentaris utawi parsial. Prekawis punika ndadosaken kita kirang saged ninggali samukawis ing sesambetanipun kalian asanes. Punika nelakaken dhiri kita ingkang winates. Kados dene tiyang-tiyang Yahudi ing Lukas 4:21-30 ingkang sarujuk kalian pangandikanipun Gusti, ananging awrat anggenipun nglenggana bilih Gusti ugi nyawisaken kawilujengan kagem tiyang sanes, amargi Gusti tresna sadaya bangsa. Sinaosa kita mboten jangkep anggenipun nyumurupi Gusti, ananging kita saged yakin kanthi saestu bilih Gusti Allah pirsa kita. Kadosdene keyakinanipun Yeremia lan Sang Pemazmur, ingkang yakin bilih Gusti Allah sampun milih piyambakipun wiwit wonten ing saklebeting guwa-garba ibunipun. Pramila, kita kedah atur panuwun awit dhumateng Gusti, kanthi cara: 1. Ngadahi manah ingkang andap asor, kadosdene Rasul Paulus ngakeni kawinatesanipun. 2. Tansah mbangun-turut dhateng Gusti. Nindakaken punapa ingkang dipun kersakaken Gusti sinaosa kita dereng ngertos kanthi cetha. 3. Ngadhahi tumindak ingkang saged nampi asanes minangka sadherek, awit Gusti tresna dhateng sadaya tiyang. 4. Saged makarya sesarengan kaliyan asanes utawi saged kolaborasi. Awit sadaya karunia utawi ganjaran ingkang Gusti paringaken dhateng kita, tujuanipun supados saged dipun ginakaken sesarengan. Sekawan perkawis punika kita lampahi minangka cara kita saged nyumurupi Gusti lan dhiri kita piyambak. Amin.
Nama Bayi Katolik Terlengkap, Tahun Liturgi Dalam Katolik, Kalender Liturgi Katolik 2026, Renungan Katolik 2025, | Selanjutnya: Khotbah GKJ Minggu, 9 Februari 2025 - Tebarkan Jalamu! - I Korintus 15:1-11 - Minggu Biasa (Hijau)All Garis Besar:
Nyanyian Ibadah Gereja: MENU UTAMA:Lagu Koor Gereja, JB (Pujian Sekolah Minggu), KMM, KJ, PKJ, GB, NKB, Kidung Ceria, NR, NR TORAJA, PKJ TORAJA, NKB TORAJA, NJNE, PENANIAN MASALLO', Pa'pudian, Mazmur Genewa, Nyanyian Jemaat GPM, LIRIK LAGU ROHANI SUNDA, Kidung Kabungahan KKB, KPKL, KPKA, Kidung RIA GKJW, Buku Ende, BN (Buku Nyanyian HKBP), Suplemen Buku Ende, MNR1 (Mazmur dan Nyanyian Buku 1), MNR2 (Mazmur dan Nyanyian Buku 2), Nafiri Rohani, MAZMUR MP3 GKI, NP (Nyanyian Pujian), Lagu Tiberias, Nafiri Kemenangan, Lagu GMS, PPK, PPPR, KPPK, NKI, NRM, Buku Lagu Perkantas, KPJ, KRI, KPRI, KLIK, NNBT, DSL, LS, Doding Haleluya, LKEE, Suara Gembira, , Puji Syukur, Madah Bakti, Kidung Pasamuan Jawi (KPJ)(1) Alkitab JAWA Prajanjian Lawas(1) Bacaan Alkitab GKJW 2026(1) Bacaan Leksionari GKJ 2025(8) Bacaan Leksionari GKJ 2026(12) Contoh Tata Ibadah GKJ(29) Kalender GKJ 2017(7) Kalender GKJ 2018(12) Kalender GKJ 2019(12) Kalender Liturgi GKJ 2023(12) Khotbah GKJ 2016(1) Khotbah GKJ 2025(21) Khotbah GKJ 2026(5) Khotbah GKJW 2026(7) Kidung Pasamuwan Kristen (KPK)(8) Kidung Pasamuwan Kristen Anyar (KPKA)(345) Kidung Pasamuwan Kristen Lawas (KPKL)(171) Kidung Ria GKJW(33) Klasis Gereja Kristen Jawa (GKJ)(32) NA(1) Pembacaan Alkitab 2016(1) Renungan GKJ 2022(29) Renungan GKJ 2023(13) Renungan GKJ 2024(1) Renungan GKJW 2024(4) Renungan GKJW 2026(3) Tata Ibadah GKJ 2024(2) Tentang GKJ(3) xxx(4) | Register Login
Links:
lagu-gereja.com,
bible.,
perkantas,
gbi,
GKII,
gkj,
HKBP,
MISA, GMIM, GPM, toraja, gmit, gkp, gkps, gbkp, Hillsong, PlanetShakers, JPCC Worship, Symphony Worship, Bethany Nginden, Christian Song, Lagu Rohani, ORIENTAL WORSHIP, Lagu Persekutuan, NJNE, Nyanyian Jemaat GPM, Kalender Liturgi GKJ September 2023 Minggu, 26 Juni 2022 Renungan GKJ Minggu, 26 Juni 2022 - II Raja-raja 2:1-2,6-14 - Minggu Biasa VIII Minggu ke-3 setelah Pentakosta (Hijau) Minggu, 19 Juni 2022 Renungan GKJ Minggu, 19 Juni 2022 - I Raja-raja 19:1-4,(5-7),8-15a - Minggu Biasa VII Minggu ke-2 setelah Pentakosta (Hijau) Minggu, 12 Juni 2022 Renungan GKJ Minggu, 12 Juni 2022 - Amsal 8:1-4,22-31 - Minggu Trinitas (Putih) Minggu, 5 Juni 2022 Renungan GKJ Minggu, 5 Juni 2022 - Kisah Para Rasul 2:1-21 - Petakosta (Merah) Minggu, 15 Mei 2022 Renungan GKJ Minggu, 15 Mei 2022 - Saling Mengasihi - Kisah Para Rasul 11:1-18 - Minggu Paskah V (Putih) |
| popular pages | login | e-mail: admin@lagu-gereja.com © 2012 . All Rights Reserved. |