| gkj.lagu-gereja.com |
Download MP3 Music Siap Sedia dalam Pelayanan bersama Tuhan Yesus Khotbah Minggu 18 Agustus 2024 Minggu Biasa - Bulan Pembangunan Gkjw Stola Hijau Bacaan 1: Amsal 9 : 1 -" 6 Mazmur: Mazmur 34 : 9 -" 15 Bacaan 2: Efesus 5 : 15 -" 20 Bacaan 3: Yohanes 6 : 51 -" 58 Tema Liturgis: GKJW Bersatu Membangun Perdamaian dan Keadilan Sosial Tema Khotbah: Siap Sedia dalam Pelayanan bersama Tuhan Yesus Penjelasan Teks Bacaan: (Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah) Amsal 9 : 1 -" 6 Amsal 9 : 1 -" 6 berisi pengajaran hikmat bagi orang Israel. Pengajaran ini berasal dari zaman sesudah pembuangan. Di kehidupan bangsa Israel saat itu, khususnya pada kaum muda, mereka sedang menghadapi godaan atau ancaman degradasi moral yang menghancurkan hidup mereka. Untuk menghadapinya, pengajaran hikmat dikemas dalam bentuk khotbah dan instruksi. Pengajaran hikmat ini dimaksudkan untuk menuntun, mendidik, menyerukan, mengundang serta mendorong bangsa Israel untuk hidup sesuai dengan karakter moral yang diajarkan hikmat itu sendiri, yakni karakter moral yang benar, baik, dan tepat. Mereka menerima dan hidup sesuai dengan pengajaran hikmat. Ayat 1 -" 2 menceritakan gambaran perumpamaan tentang perjamuan di suatu pesta. Gambaran peranan ini dimulai dari hal yang mendasar, yakni membangun rumah dan mempersiapkan hidangan pesta. Rumah yang dibangun berkonstruksi 7 tiang. Di sini rumah memiliki arti tempat pendidikan anggota keluarga/orang lain, konstruksi digunakan sebagai penyediaan tempat untuk pendidikan, angka 7 merupakan konsep yang suci, sempurna, menyenangkan. Ini semua bertujuan untuk pendidikan, khususnya pengajaran hikmat. Rumah dipakai sebagai tempat pengajaran hikmat, agar tercipta hidup yang dibangun, diberkati, dan menyenangkan. Hikmat menyuguhkan makanan/minuman dan mengadakan perjamuan demi kesehatan dan tenaga yang sangat dibutuhkan guna menopang kelancaran dan kesuksesan pengajaran hikmat. Ayat 3 -" 5 berisi undangan makan roti dan minum anggur, maksudnya di sini bukan dalam arti makan dan minum anggur sungguhan, melainkan makanan rohani, yakni pengajaran moral dari hikmat yang adalah kehidupan. Undangan ini ditujukan kepada orang yang belum berpengalaman dan tak berakal budi. Yang belum berpengalaman adalah orang yang belum memperoleh pendidikan yang cukup. Maka undangan disampaikan agar setiap orang memperoleh pengetahuan, kepandaian, dan kecerdasan, baik dalam hal teknis, praktis, khususnya moral dan kerohanian. Orang yang tak berakal budi adalah orang yang tidak baik karakter moralnya, maka undangan ini disampaikan agar mereka belajar pada hikmat sehingga mereka menjadi orang yang baik karakter moralnya. Ayat 6 merupakan sebuah kesimpulan bahwa pengajaran hikmat berupa dorongan untuk membuang kebodohan dan ketidakpedulian, menuju pada pengajaran karakter moral, hikmat dan pengertian, yaitu hidup yang berkelimpahan jasmani dan rohani. Efesus 5 : 15 -" 20 Pada pasal ini ada empat nasihat untuk hidup, yang demikian: Pertama, perhatikan dengan seksama bagaimana kamu hidup. Paulus menuliskan, “Karena itu, perhatikanlah dengan seksama, bagaimana kamu hidup, jangan seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif.” (Ay. 15). Kata “seksama” yang digunakan adalah “akribos”, yang mengandung arti benar, akurat, konsisten, dan sempurna. Jadi, hidup dalam waktu Tuhan janganlah sembrono seperti orang bebal, melainkan hiduplah dengan benar dan baik secara konsisten. Kedua, pergunakan waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Pada saat Paulus menulis, “pergunakanlah waktu yang ada” (Ay. 16a), kata “waktu” yang dipakai adalah “kairos”. Sebenarnya ada kata lain yang menunjukkan konsep waktu, yaitu “kronos”. Kata kronos berarti rentang waktu, yang ditandai dengan tahun, bulan, hari, jam, menit dan seterusnya. Sedangkan kata kairos merupakan suatu bagian dari waktu dalam kehidupan, yang ditandai dengan terjadi atau tidak terjadinya suatu peristiwa yang penting. Itulah sebabnya kairos disebut juga sebagai moment atau kesempatan. Jadi, di dalam menjalani hidup, orang-orang percaya harus menggunakan setiap kesempatan dengan baik. Ketiga, berusahalah untuk mengerti kehendak Tuhan (Ay. 17). Hidup di dalam waktu Tuhan, diusahakan dengan mengerti kehendak Tuhan di dalam menjalani hari-hari. Jangan menjadi bodoh dengan menyia-nyiakan waktu yang ada. Keempat, hidup dipimpin oleh Roh Allah (Ay. 18-21). Janganlah bermabuk-mabukan, sebab kebiasaan itu mendatangkan banyak kejahatan, tetapi hendaklah dipenuhi Roh Allah dan dipimpin oleh-Nya. Setiap waktu atau kesempatan yang ada diisi dengan banyak membicarakan perihal Tuhan, mengutip mazmur serta puji-pujian, dan menyanyikan lagu-lagu rohani dengan tulus hati. Senantiasa mengucap syukur kepada Allah dan Bapa dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus, serta menghormati Kristus dengan hidup yang saling melayani. Yohanes 6 : 51 -" 58 Dalam ayat 51a dikatakan “Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga”. “Roti hidup” ini sejajar dengan “air hidup” yang Yesus tawarkan kepada perempuan Samaria (4:10). “Barangsiapa makan ( fag ) roti ini, ia akan hidup selama-lamanya” (Ay. 51b). Phage adalah aorist dari esthio (makan), dengan demikian mewakili tindakan satu kali. Makan roti ini, dalam konteks ini, berarti tindakan menerima atau percaya kepada Kristus untuk selamanya. Yesus tidak mundur dari kata-kata yang menyinggung, namun malah menambahkannya dengan penyebutan daging (Ay. 51c). Pada ayat 52, Frasa “orang Yahudi” ini mengacu pada para pemimpin agama Yahudi, yang dalam banyak kasus adalah penentang Yesus. “Daging” adalah kata yang provokatif, menimbulkan momok kanibalisme. Hal ini sangat provokatif dalam budaya yang membedakan dengan tepat antara daging bersih dan daging haram serta menekankan kepatuhan ketat terhadap hukum pola makan. Pertimbangan pertama bagi setiap orang Yahudi, ketika hendak memakan daging apapun adalah apakah daging itu diperbolehkan atau dilarang. Tidak ada orang Yahudi yang taat, yang mempertimbangkan untuk memakan daging manusia. Kata-kata dalam ayat 53 menekankan gelar yang digunakan Yesus untuk diri-Nya sebagai Anak Manusia. Orang-orang berharap Sang Mesias akan mengumpulkan pasukan, mengusir tentara Romawi, dan membangun kembali kerajaan besar Daud, namun ternyata mendapatkan pemahaman yang berbeda. Mereka tidak mempunyai pengharapan seperti itu terhadap Anak Manusia. Persoalan penting di sini adalah apakah kata-kata Yesus bersifat ke arah Perjamuan Tuhan atau pengorbanan. Di ayat 54-55, ada sebuah janji yang berisi janji tentang kehidupan kekal dan janji tentang kebangkitan. Daging dan darah Yesus adalah makanan dan minuman sejati, yang memberi kita rezeki pada tingkat terdalam dari keberadaan kita, yang berbeda dengan Manna, yang hanya memberi makan tubuh jasmani saja. Yohanes menyebutkan dalam ayat 58, para pendengar Yesuslah yang pertama kali menyebut Manna, dan menyebutnya sebagai “roti dari sorga” yang diberikan oleh Musa (Ay. 31). Yesus mengoreksi mereka. Bukan Musa yang memberi mereka roti, tetapi Tuhan Allah. Manna bukanlah roti yang benar dari sorga, tetapi hanyalah sebuah tipe (sebuah gambaran) dari roti yang benar dari surga. Yesus mengidentifikasi diri-Nya sebagai Roti Hidup (Ay. 35, 51). Yesus menjanjikan kehidupan kekal (Ay. 54), sebuah kualitas kehidupan rohani yang dapat kita nikmati sekarang, dan bukan melanjutkan kehidupan fisik kita hingga tak terhingga. Benang Merah Tiga Bacaan: Kehidupan ini harus diisi dengan hikmat yang berasal dari Tuhan. Setiap orang yang menerima undangan untuk menerima roti dan anggur dituntun untuk menata kehidupan menjadi lebih baik. Tuhan Yesus adalah Roti Hidup, Ia mengajak setiap orang yang menerima penebusan-Nya untuk memakai waktu pemberian Tuhan dengan baik, dan selalu mencari kehendak Tuhan dalam setiap laku kehidupannya, sehingga kasatuan dengan Kristus akan menghadirkan kedamaian dan keadilan sosial di dunia ini dan di kehidupan kekal. Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia (Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing) Pendahuluan Makan merupakan salah satu aktivitas penting dalam menjaga keberlangsungan hidup manusia. Ketika melahap makanan, tubuh mendapatkan asupan gizi, nutrisi, dan zat-zat lainnya yang berguna untuk menjaga tubuh tetap hidup serta mampu melakukan aktivitas. Tanpa asupan tersebut, tubuh bisa mengalami malnutrisi, kekurangan gizi, bahkan bisa menyebabkan kematian. Namun di balik pentingnya melahap makanan demi menyambung hidup, timbul pertanyaan yang menyoal perkara tersebut, “Apakah hidup kita hanya untuk makan? Ataukah makan untuk bisa hidup? Atau adakah makna lain didalamnya?” Isi Pada masa Yesus, roti merupakan makanan pokok. Roti berasal dari sari gandum, hasil kerja keras para petani. Yesus tentu sangat memahami perjuangan para petani gandum dan masyarakat pada masa-Nya yang mencari rezeki untuk mempertahankan hidup. Yesus juga selalu berbelarasa dengan mereka yang miskin dan menderita lapar akibat ketiadaan makanan. Tanpa roti, tanpa rezeki, hidup manusia terancam mati. Tanpa makanan, manusia tidak dapat bertahan hidup. Selain petani gandum, juga ada petani anggur. Anggur menjadi minuman sehari-hari pada masa itu. Dari wilayah Galilea inilah, bangsa Yahudi menikmati kemakmuran, kesejahteraan, dan pemeliharaan hidup. Mereka hidup karena kelimpahan hasil bumi dan air yang mengalir tiada henti di wilayah yang gersang. Dan dari situasi kehidupan inilah, Yesus mewartakan dan menawarkan Roti Hidup yang memberi kesegaran dan kehidupan serta mengungkapkan pemeliharaan Allah yang luar biasa mengagumkan. Tidak lagi dengan makan roti yang biasa itu, tetapi Diri-Nya sendiri sebagai Roti Hidup. Yesus dalam Injil hari ini, menyatakan Diri-Nya sebagai Roti Hidup. Ia sungguh-sungguh adalah Roti Hidup. Roti yang tidak hanya memberikan kehidupan selama di dunia ini, tetapi juga menjadi jaminan akan kehidupan di akhirat nanti, yang tidak hanya sebatas memenuhi kelaparan jasmani, tetapi juga memenuhi kebutuhan jiwa, yang tidak didapatkan dengan uang, tetapi diperoleh dengan cuma-cuma dan dimakan oleh siapapun. Roti itu adalah Yesus sendiri, Roti Hidup yang turun dari surga, Tubuh Kristus yang diberikan untuk jaminan hidup kekal. Melalui Diri-Nya, Tuhan Yesus memberikan daya kekuatan pemeliharaan Allah bagi hidup umat-Nya. Melalui Tubuh-Nya yang diremukkan di atas salib, yang harus mati mengenaskan, dikuburkan, dan bangkit, memberi daya hidup bagi manusia yang percaya dan yang menyambut-Nya. Yesus menjadikan Diri-Nya Roti Hidup, “Akulah roti hidup yang telah turun dari surga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.” (Ay. 51). Tubuh dan Darah Kristus, Roti Hidup dan Darah Keselamatan di dalam Sakramen Perjamuan Kudus adalah sumber kehidupan, puncak dan jaminan tertinggi kehidupan kita. Memang manusia membutuhkan roti (makanan) untuk hidup di dunia ini. Namun jangan sampai motivasi kita mencari Tuhan hanya untuk mengejar roti saja atau berkat-berkat jasmani saja, lalu kita melupakan Tuhan Pemberi berkat itu sendiri. Ingat, apapun yang menjadi kebutuhan kita, Tuhan Yesus dapat memenuhinya. Segala persoalan hidup kita dapat diatasi di dalam Dia. Tidak hanya persoalan-persoalan yang berkenaan dengan kebutuhan jasmani kita, tetapi juga hal-hal yang jauh lebih utama, yaitu pengampunan dosa dan keselamatan kekal. Dalam bacaan kedua, khususnya di Efesus 6:16 dikatakan bahwa setiap orang harus mempergunakan waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Ketika kesempatan dari Tuhan Yesus diberikan kepada kita untuk menerima Dia, tinggal dalam kehidupan kita, maka setiap orang harus mempergunakan kesempatan tersebut sebaik-baiknya. Janganlah sampai seperti orang bodoh, tetapi supaya kita selalu mengerti apa yang menjadi kehendak Tuhan dalam setiap karya-Nya di dunia ini. Penutup Maka makna terdalam dari sebuah makanan adalah supaya kehidupan dapat terpelihara dengan baik. Terkhusus ketika kita menerima Roti Hidup yang adalah Kristus sendiri. Menjadi pertanyaan bagi kita, sudah sejauh mana kita mengusahakan, merindukan, dan menyambut Sang Roti Hidup, Tubuh dan Darah Kristus itu? Apakah balasan kita atas seluruh pengorbanan dan pemberian Diri-Nya bagi kita? Pada masa ini, menjadi pribadi yang berhikmat dan berpengetahuan akan Kristus patutlah kita miliki. Kita bisa menyambut-Nya dalam kerinduan hati yang mendalam. Kesatuan kita dengan Kristus akan membawa perdamaian dan keadilan sosial yang dapat dirasakan dalam kehidupan ini. Kiranya dengan kesatuan bersama Kristus menjadikan kita selalu bersyukur atas anugerah santapan Ilahi yang diberikan Tuhan melalui pengorbanan-Nya, sehingga kita menyatu dengan Dia. Semoga kita pun berani menjadi seperti Yesus yang membawa berkat bagi yang lain melalui pengabdian dan pelayanan kita. Tuhan Yesus memberkati. Amin. [FNS]. Pujian: KJ. 464 Tuhan, Pecahkanlah Roti Hayat Rancangan Khotbah: Basa Jawi (Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak) Pambuka Nedha punika salah satunggaling prekawis ingkang wigati kangge njagi kelajenganan gesangipun manungsa. Nalika kita nedha tetedhan, badan kita pikantuk asupan gizi, nutrisi, lan zat-zat sanesipun ingkang migunani kangge njagi badan punika tetap kiyat nindakaken ayahan sadinten-dinten. Tanpa tetedhan punika, badan saged sakit, kekirangan gizi malah saged pejah. Saking gatinipun bab nedha tetedhan kangge kelajengan gesang punika, wonten pitakenan bab punika, “Punapa gesang kita punika namung kangge nedha kemawon? Punapa kita nedha punika supados saged gesang? Punapa wonten teges sanesipun saking bab nedha tetedhan punika?” Isi Ing jamanipun Gusti Yesus, roti punika dados tetedhan pokok. Roti punika kadamel saking sari gandum, asil panyambut damelipun para tani. Gusti Yesus tamtu nggatosaken anggenipun para tani gandum lan masyarakat nalika semanten sami merjuang pados rejeki kangge kelajengan gesangipun. Gusti Yesus ndherek ngraosaken punapa ingkang dipun alami kaliyan tiyang mlarat, ingkang asring nandhang kakirangan lan keluwen awit mboten wonten tetetdhan ingkang dipun tedha. Tanpa nggadhahi roti, tanpa wonten rejeki, gesangipun manungsa kaancem pati. Awit tanpa nedha, manungsa mboten saged nglajengaken gesangipun. Sanesipun para tani Gandum, ugi wonten para tani Anggur. Anggur ing jaman semanten dados unjukan sadinten-dinten. Saking daerah Galilea punika, bangsa Yahudi saged ngraosaken gesang ingkang makmur, santosa sarta gesangipun rinimatan. Bangsa Yahudi saged gesang awit kathahipun asil bumi lan toya ingkang tansah mili ing papan ingkang garing punika. Ing kahanan ingkang kados mekaten punika, Gusti Yesus martosaken pakaryan-Ipun. Panjenenganipun ngaturi tawaran bab “Roti Panguripan” ingkang saged nuwuhaken kasegeran, pigesangan lan pangrimatan-Ipun Gusti Allah ingkang edap-edapi. Mboten sarana nedha roti ingkang biasa, nanging Panjenenganipun piyambak minangka Roti Panguripan punika. Gusti Yesus wonten ing waosan Injil dinten punika, nyatakaken Sariranipun minangka Roti Panguripan. Panjenenganipun saestu Roti Panguripan. Roti ingkang mboten namung kangge gesang ing donya kemawon, nanging Roti ingkang dados jaminan gesang ing akherat benjing. Roti ingkang mboten kawates supados mboten keluwen sacara jasmani kemawon, nanging roti ingkang kangge kabetahan jiwa, ingkang pikantukipun mboten srana ngangge arta, nanging kaparingaken sacara gratis lan saged dipun tedha kaliyan sinten kemawon. Roti punika Gusti Yesus piyambak. Roti Panguripan ingkang mandhap saking Surga, inggih punika Sariranipun Sang Kristus ingkang dipun paringaken dhateng manungsa kangge jaminan gesang langgeng. Lumantar Sariranipun, Gusti Yesus maringi daya kakiyatan pangrimatanipun Allah kangge gesang umat-Ipun. Lumantar Sariran-Ipun ingkang dipun remukaken ing salib, Panjenenganipun kedah seda, dipun kubur lan wungu, saperlu maringi daya gesang kangge manungsa ingkang sami pitados lan nyambeti Panjenenganipun. Gusti Yesus piyambak ingkang dadosaken Sariranipun dados Roti Panguripan, “Aku iki roti kang urip, kang wus tumurun saka ing swarga. Manawa wong mangan roti iki, bakal urip ing salawas-lawase. Anadene roti bakal paweweh-Ku, yaiku daging-Ku, kang bakal Dakwenehake kanggo uripe jagad.” (Yok. 6:51). Sarira lan Rahipun Sang Kristus, Roti Panguripan lan Rah Kawilujengan ing Sakramen Bujana Suci punika saestu sumber pigesangan, puncak lan jaminan kangge pigesangan kita. Manungsa gesang pancen mbetahaken roti/tetedhan kangge gesang ing donya punika. Nanging sampun ngantos motivasi kita ndherek Gusti punika namung supados pikantuk roti utawi berkah-berkah jasmani kemawon, lajeng kita kesupen kaliyan Gusti Allah ingkang paring berkah punika. Sami engeta, punapa ingkang dados kabetahan gesang kita, Gusti Yesus saged nyekapi. Sedaya werni masalah gesang kita, saged dipun atasi ing Gusti Yesus. Mboten namung masalah-masalah bab kabetahan jasmani kemawon, nanging ugi bab-bab ingkang langkung utami, inggih punika pangapuntening dosa sarta kaslametan langgeng. Ing waosan kalih, Efesus 6:16 dipun sebataken bilih saben tiyang kedah migunakaken wekdalipun kanthi prayogi, awit dinten-dinten punika jahat. Gusti Yesus sampun maringi kesempatan kita, supados kita ngaturi Gusti Yesus nunggil gesang kita. Karana punika, kita kedah migunakaken kesempatan punika kanthi sae. Sampun ngantos kita kados tiyang bodho, nanging kita kedah mangertos punapa ingkang dados karsa-Nipun Gusti Allah salebeting pakaryan-Ipun ing donya punika. Panutup Salebeting tetedhan punika nggadhah pangertosan ingkang lebet, inggih punika supados gesang kita punika karimat kanthi sae. Khususipun nalika kita nampi Roti Panguripan inggih punika Sang Kristus piyambak. Ingkang dados pitakenan kangge kita, “Kados pundi anggen kita ngupaya lan nyambeti Sang Roti Panguripan, Sarira lan Rahipun Sang Kristus kangge kita?” Ing mangsa punika, kita kedah dados pribadi ingkang wicaksana lan kagungan pangertosan bab Sang Kristus. Kita saged nyambut Sang Kristus srana manah ingkang ngarah dhumateng Gusti. Patunggilan kita kaliyan Sang Kristus badhe mbeta katentreman lan kaadilan sosial ingkang saged dipun raosaken ing gesang punika. Mugi srana patunggilan kita kaliyan Sang Kristus dadosaken kita tansah saos sukur tumrap sih rahmatipun Gusti ingkang kaparingaken dhateng kita lumantar pangorbanan-Ipun, saengga kita saged nyatunggil kaliyan Panjenenganipun. Mugi kita wantun kados Gusti Yesus ingkang mbeta berkah kangge tiyang sanes lumantar pangabdi lan paladosan kita. Gusti Yesus mberkahi kita. Amin. [Terj. AR]. Pamuji: KPJ. 147 : 1, 2 Yesus Roti Panguripan Yosua 24 : 1 -" 2a, 14 -" 18 Bagian perikop saat ini, Yosua 24 menceritakan tentang pidato perpisahan Yosua dengan bangsa Israel. Yosua mengetahui bangsa Israel diperhadapkan pada pilihan kepada siapa mereka akan beribadah. Di satu sisi, ada ilah-ilah yang pernah disembah oleh nenek moyang mereka di seberang sungai Efrat atau ilah-ilah bangsa lain yang ada di sekitar mereka. Di sisi yang lain, ada Tuhan Allah yang telah membawa mereka keluar dari tanah perbudakan Mesir masuk ke Tanah Perjanjian Kanaan. Beribadah kepada ilah-ilah lain adalah pilihan yang menggoda bagi bangsa Israel. Tetapi Tuhan Allah tidak berkenan bangsa Israel menyembah ilah-ilah tersebut. Tuhan Allah adalah Allah yang cemburu, Allah yang menginginkan umat-Nya senantiasa setia hanya berbakti dan menyembah kepada-Nya. Dalam hal ini, bangsa Israel harus memilih dengan tegas. Yosua menyadari bahwa bangsa Israel akan menjalani kehidupan mereka yang baru di tanah Perjanjian, karena itu Yosua menantang bangsa Israel untuk memilih tetap setia beribadah dan menyembah Tuhan Allah ataukah beribadah dan menyembah ilah-ilah lain. Tantangan Yosua ini dijawab dengan komitmen bangsa Israel untuk setia kepada Allah. Mereka berjanji tidak akan meninggalkan Allah (Ay. 16). Yosua menegaskan kembali bahwa mereka adalah umat pilihan, umat Allah dan itu merupakan anugerah Allah kepada mereka. (Ay. 19). Karena itu, mereka harus terus berharap dan percaya hanya kepada Allahlah yang mampu menolong dan menyelamatkan mereka, bukan kepada ilah lain. Efesus 6 : 10 -" 20 Rasul Paulus yang hidup pada zaman kekuasaan Romawi tahu dan mengenal perlengkapan seorang prajurit Romawi. Dengan kiasan perlengkapan seorang prajurit Romawi inilah, Paulus menasihatkan Jemaat Efesus untuk mempergunakan seluruh perlengkapan senjata Allah dalam menghadapi musuh yang tidak kelihatan oleh mata (Ay. 11, 13). Karena itu, Paulus mengajarkan agar Jemaat Efesus kuat di dalam Tuhan. Mereka harus mengandalkan kuasa Tuhan agar mampu bertahan melawan segala tipu muslihat, serangan Iblis, dan ajaran sesat. Kuasa-kuasa jahat yang tak tampak ini akan berusaha merusak persekutuan umat Tuhan, dan manusia tidak akan mampu melawan hanya dengan kekuatannya sendiri. Karena itu, Paulus menasihatkan agar Jemaat Efesus senantiasa bergantung sepenuhnya pada kuasa Allah (Ay. 10). Hanya dengan kuasa Allah sajalah, kuasa maut dan kuasa Iblis dapat dikalahkan melalui pengorbanan Yesus. Karena itu, sebagai orang percaya, mereka harus mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah (Ay. 13). Paulus menyebutkan ada 6 perlengkapan senjata Allah, yaitu: (1) Ikat pinggang kebenaran, (2) Baju Zirah keadilan, (3) Kasut kerelaan memberitakan Injil damai sejahtera, (4) Perisai iman, (5) Ketopong keselamatan, dan (6) Pedang Roh, yaitu Firman Allah (Ay. 14 -" 17). Paulus mengingatkan Jemaat Efesus untuk selalu siap sedia dan berdiri tegap, hidup benar dan adil, sehingga Iblis tidak mendapat kesempatan untuk menjatuhkan mereka. Sebagai umat Allah, mereka harus mewartakan kabar keselamatan dan pendamaian agar orang lain mengenal Yesus Kristus dan merasakan damai sejahtera dalam hidup mereka. Mereka harus menggunakan perisai iman agar mampu bertahan menghadapi serangan Iblis, serta mengenakan ketopong keselamatan agar tipu daya Iblis tidak mempengaruhi pikiran mereka. Dengan ketopong keselamatan itu, mereka akan dijauhkan dari pikiran yang sia-sia dan jahat. Karena itu, Jemaat Efesus harus hidup di dalam Tuhan, mengandalkan Firman-Nya agar mampu memenangkan peperangan rohani melawan kuasa Iblis dan kuasa jahat. Yohanes 6 : 56 -" 69 Pada waktu itu banyak orang yang mendengarkan ajaran Yesus, salah satunya adalah ajaran tentang hidup kekal melalui makan daging dan minum darah Yesus. Ajaran Yesus tentang hal ini menimbulkan berbagai respons, ada yang menolak lalu mengundurkan diri, dan ada yang menerimanya lalu semakin percaya kepada-Nya. Orang-orang yang menolak dan mengundurkan diri adalah mereka yang mengikut Yesus diluar kedua belas murid Yesus. Dimana Yesus mengajar, mereka selalu mengikuti Yesus. Akan tetapi setelah mendengarkan pengajaran Yesus, yang mereka sebut sebagai perkataan yang “keras”, satu per satu dari mereka mengundurkan diri. Nyatanya mereka tidak sungguh-sungguh percaya kepada Yesus sebagai Mesias. Bagi mereka ajaran Yesus terlalu berat. Padahal sebenarnya mereka tidak suka dengan apa yang mereka dengar. Yesus tahu apa yang ada dalam hati mereka. Mereka tidak dapat menangkap makna rohani dari pengajaran-Nya yang dipandang “keras” tersebut. Sebaliknya kelompok yang menerima dan semakin percaya kepada Yesus adalah keduabelas murid Yesus yang selama ini mendampingi pelayanan Yesus. Yesus tidak mengkhawatirkan orang banyak yang mengundurkan diri tersebut, sebab Yesus mencari murid yang sejati. Pengajaran Yesus tentang makan daging dan minum darah-Nya memang mengguncang orang banyak, tetapi Yesus menegaskan bahwa itu tidak sebanding dengan peristiwa kebangkitan dan kenaikan-Nya ke Surga (Ay. 61-62), serta pentakosta (Ay. 63). Dari peristiwa orang-orang yang mengundurkan diri ini, Yesus ingin menguji iman keduabelas murid-Nya. Petrus mewakili para murid yang lain mengatakan bahwa tidak ada pribadi lain yang ia percayai selain Yesus. Petrus percaya perkataan Yesus adalah perkataan dari Allah, “Perkataan-Mu adalah perkataan hidup kekal.” (Ay. 68), Yesus adalah pribadi Allah (Ay. 69). Dan Yesus mengetahui bahwa pengakuan Petrus ini berasal dari Allah (Ay. 65, 70). Benang Merah Tiga Bacaan: Mengikut Yesus atau menjadi murid Yesus tidaklah selalu mudah jalannya. Ada berbagai tantangan, ujian, cobaan, dan masalah yang harus dihadapi untuk menjadi murid yang sejati. Dibutuhkan komitmen yang kuat dan sungguh, kesetiaan yang murni, serta kerelaan untuk hidup seturut dengan kehendak Tuhan. Komitmen mengikut Tuhan inilah yang tampak dalam kehidupan bangsa Israel saat mereka memasuki dan tinggal di Tanah Perjanjian. Mereka berjanji hanya beribadah dan setia kepada Allah saja. Rasul Paulus juga mengingatkan komitmen Jemaat Efesus untuk setia kepada Tuhan Yesus Kristus. Jemaat Efesus harus berani berjuang mempertahankan iman dan kesetiaan mereka dengan cara mengenakan perlengkapan senjata Allah untuk bertahan menghadapi serangan tipu daya dan kuasa Iblis. Yang terakhir, untuk menjadi murid yang sejati Petrus berkomitmen: teguh dalam iman dan tetap setia kepada Yesus Kristus, sekalipun ada banyak orang yang mengundurkan diri, meninggalkan Tuhan Yesus. Komitmen Petrus ini ditunjukkan dengan pengakuannya setia mengikut Tuhan Yesus hingga akhir hidupnya. Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia (Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing) Pendahuluan Kata komitmen berasal dari bahasa latin, yaitu “Commiter” yang memiliki arti menyatukan, mengerjakan, menggabungkan, dan mempercayai. Komitmen sendiri dapat diartikan sikap setia untuk bertanggungjawab terhadap sesuatu, baik itu berkaitan dengan diri sendiri, pekerjaan, organisasi, hubungan, maupun hal lainnya. Atas dasar inilah seseorang yang sudah berkomitmen akan senantiasa memenuhi apa yang menjadi kewajibannya. Di dalam praktik keseharian, kita dapat mengetahui wujud komitmen itu dalam berbagai hal. Misalnya dalam kehidupan perkawinan/ keluarga. Seseorang yang melangsungkan perkawinan dengan pasangannya, mereka diikat komitmen untuk setia terhadap pasangannya hingga maut memisahkan. Dalam perkawinan Kristen, janji perkawinan kedua mempelai menjadi awal komitmen untuk membangun kehidupan keluarga berdasarkan kasih Kristus, dimana mereka senantiasa setia dalam suka dan duka, keberhasilan maupun kegagalan, sehat atau sakit. Dalam lingkup pekerjaan, seseorang harus memiliki komitmen untuk disiplin dan bertanggung jawab atas tugas pekerjaan yang diembannya. Semakin tinggi jabatan seseorang, maka semakin besar pula tanggung jawab dan komitmen pada dirinya untuk menyelesaikan setiap tugas yang dipercayakan padanya. Di lingkungan gereja atau jemaat, setiap warga jemaat memiliki komitmen untuk setia kepada Yesus Kristus, saling melayani, dan saling mengasihi. Komitmen setia itu dinyatakan manakala kita berjanji di hadapan Tuhan dan warga jemaat. Sebagai orang tua yang membaptiskan anak, maka kita berkomitmen menjadi orang tua yang baik, yang menjadi teladan bagi anak-anak kita, serta mendidik mereka dalam iman dan terang kasih Kristus. Saat angkat sidi, kita berjanji setia menjadi pengikut Kristus dan menjadi warga dewasa yang bertanggung jawab. Demikian saat kita menerima pemberkatan perkawinan, kita dan pasangan kita berkomitmen untuk saling setia hingga maut memisahkan. Terlebih manakala kita sebagai warga jemaat terpilih dan dipercaya sebagai anggota Majelis Jemaat, maka kita harus komitmen penuh kepada Tuhan dan jemaat untuk setia dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab kita sebagai Majelis Jemaat. Orang yang setia dengan komitmen awal saat dia menyatakan janji atau komitmennya, maka dia akan dipercaya oleh orang lain dan akan diberikan tanggung jawab yang lebih besar. Isi Bacaan pertama: Yosua 24 menceritakan komitmen bangsa Israel untuk senantiasa beribadah dan menyembah hanya kepada Tuhan Allah. Yosua yang menjadi pemimpin bangsa Israel saat itu, tahu bahwa bangsa Israel diperhadapkan pada pilihan kepada siapa mereka akan beribadah. Di sini Yosua menentukan sikap tegasnya bahwa dia hanya beribadah dan menyembah kepada Tuhan Allah Semesta Alam. Allah yang telah membawa bangsa Israel keluar dari tanah perbudakan Mesir masuk ke tanah Perjanjian Kanaan. Yosua tahu bahwa Tuhan Allah adalah Allah yang cemburu, Allah yang menginginkan umat-Nya senantiasa setia hanya kepada-Nya. Karena itu, Yosua menantang bangsa Israel untuk memilih tetap setia beribadah dan menyembah kepada Tuhan Allah ataukah memilih beribadah dan menyembah ilah-ilah lain. Tantangan Yosua ini dijawab dengan komitmen bangsa Israel untuk setia beribadah dan menyembah hanya kepada Tuhan Allah. Mereka berjanji untuk tidak meninggalkan Tuhan Allah. Mereka berjanji senantiasa percaya hanya kepada Tuhan Allah yang mampu menolong dan menyelamatkan mereka. Pada bacaan kedua Rasul Paulus menegaskan komitmen Jemaat Efesus sebagai pengikut Kristus. Paulus mengajarkan agar jemaat Efesus tetap kuat dalam menghadapi kuasa gelap. Mereka harus mengandalkan kuasa Tuhan agar mampu bertahan melawan segala tipu muslihat, serangan Iblis, dan ajaran sesat. Mereka harus bergantung sepenuhnya pada kuasa Allah dan mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah. Paulus menyebutkan 6 perlengkapan senjata Allah, yaitu: (1) Ikat pinggang kebenaran, (2) Baju Zirah keadilan, (3) Kasut kerelaan memberitakan Injil damai sejahtera, (4) Perisai iman, (5) Ketopong keselamatan, dan (6) Pedang Roh, yaitu Firman Allah (Ay. 14 -" 17). Di sini Paulus mengingatkan jemaat Efesus agar siap sedia dan berdiri tegap, hidup benar dan adil. Sebagai umat Allah, mereka harus mewartakan kabar keselamatan dan pendamaian agar orang lain mengenal Yesus Kristus dan merasakan damai sejahtera dalam hidup mereka. Sedangkan pada bacaan ketiga mengisahkan tentang komitmen Petrus dan para murid untuk setia mengikut Yesus. Di tengah situasi banyak orang yang memilih mengundurkan diri setelah mendengarkan ajaran Yesus, Petrus mewakili para murid yang lain mengatakan bahwa tidak ada pribadi lain yang ia percayai selain Yesus. Petrus percaya perkataan Yesus adalah perkataan dari Allah, “Perkataan-Mu adalah perkataan hidup kekal.” (Ay. 68), Yesus adalah pribadi Allah (Ay. 69). Dan Yesus mengetahui bahwa pengakuan Petrus ini berasal dari Allah (Ay. 65, 70). Penutup Mengikut Yesus atau menjadi murid Yesus tidaklah selalu mudah jalannya. Ada berbagai tantangan, ujian, cobaan dan masalah yang harus dihadapi untuk menjadi murid yang sejati. Dibutuhkan komitmen yang kuat, kesetiaan yang murni, serta kerelaan untuk hidup seturut dengan kehendak Tuhan. Komitmen mengikut Tuhan inilah yang tampak dalam kehidupan bangsa Israel saat mereka memasuki dan tinggal di Tanah Perjanjian. Mereka berjanji hanya akan beribadah dan setia kepada Allah saja. Rasul Paulus yang menguatkan komitmen Jemaat Efesus supaya setia kepada Yesus Kristus. Jemaat Efesus harus berani berjuang mempertahankan iman dan kesetiaan mereka dengan cara mengenakan perlengkapan senjata Allah untuk bertahan menghadapi serangan tipu daya dan kuasa Iblis. Dan yang terakhir, Petrus berkomitmen untuk menjadi murid yang sejati, teguh dalam iman dan tetap setia kepada Yesus Kristus, walaupun ada banyak orang yang mengundurkan diri, meninggalkan Tuhan Yesus. Komitmen Petrus ini ditunjukkan dengan pengakuannya setia mengikut Tuhan Yesus hingga akhir hidupnya. Saat ini di bulan Pembangunan GKJW, kita sebagai warga GKJW diajak untuk memiliki komitmen diri untuk membangun GKJW dan semakin setia mengikut Tuhan. Wujud komitmen diri membangun GKJW tampak dari kemauan dan kesediaan diri kita ikut melayani Tuhan melalui GKJW. Dengan talenta, kemampuan, dan keterampilan yang kita miliki, kita mau mempersembahkan talenta, kemampuan, dan keterampilan kita itu bagi kemuliaan Tuhan. Kita aktif beribadah menyembah Tuhan melalui ibadah-ibadah di gereja atau ibadah rumah tangga. Kita dapat memberikan masukkan dan saran yang positif, yang membangun bagi pertumbuhan GKJW lebih baik. Terlebih kita ikut ambil bagian secara langsung dalam pelayanan sesuai dengan bidang kita. Selalu ada tempat bagi semua warga GKJW untuk terlibat melayani dan membangun GKJW. Kedua komitmen untuk semakin setia mengikut Tuhan tampak melalui sikap hidup kita yang memuliakan Tuhan. Melalui kesaksian yang kita bagikan, kita menceritakan karya kasih Kristus dalam hidup kita. Melalui perkataan, kita selalu mengucap syukur kepada Tuhan, mengucapkan kata-kata berkat dan membangun bagi orang lain, sehingga melalui diri kita, sikap kita, perkataan kita dan tingkah laku kita terpancar air kehidupan. Mari di bulan pembangunan GKJW ini, kita semakin memiliki tekad dan semangat untuk membangun GKJW semakin nyata. Terlebih kita berkomitmen untuk semakin setia dan cinta kepada Tuhan melalui gereja-Nya GKJW. Mari kita pelihara dan rawat komitmen kita membangun GKJW agar semakin bertumbuh dan berbuah dalam laku hidup kita sehari-hari. Amin. [AR]. Pujian: KJ. 339 : 1, 2 Maju, Laskar Kristus Rancangan Khotbah: Basa Jawi (Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak) Pambuka Tembung komitmen punika saking basa latin, inggih punika “Commiter”, ingkang tegesipun nunggilaken, nindakaken, nggabungaken lan pitados. Tembung komitmen piyambak kagungan teges: sikep setya lan tanggel jawab tumrap samukawis gegayutan kaliyan dhiri pribadi, pandamelan, organisasi, hubungan, lsp. Adedasar punika, tiyang ingkang sampun komitmen, piyambakipun badhe netepi punapa ingkang dados kwajibanipun. Ing praktek gesang padintenen, wujuding komitmen punika saged kita mangertosi ing maneka warni kahanan. Contonipun ing gesang sesemahan/ bebrayatan. Tiyang ingkang sampun nenikahan kaliyan semahipun, kaiket komitmen tansah setya tumrap semahipun dumugi pungkasan gesang. Ing perkawinan Kristen, janji nenikahan punika dados wiwitaning komitmen kangge mbangun gesang bebrayatan kalandesan sihipun Sang Kristus, ing pundi pasangan manten punika janji tansah setya ing kahanan bingah lan sisah, kasil utawi gagal, sehat utawi sakit. Ing papan panyambut damel, tiyang nyambut damel punika kedah kagungan komitmen disiplin lan tanggel jawab anggenipun ngayahi tugas pandamelan ingkang dipun tindakaken. Sansaya inggil jabatan tiyang punika, sansaya ageng tanggel jawab lan komitmenipun kangge ngrampungaken saben tugas ingkang dipun ayahi. Ing lingkup greja utawi pasamuwan, saben warga pasamuwan nggadhah komitmen: setya ndherek Gusti Yesus, tansah lados linadosan lan tresna -" tinresnan. Komitmen setya dhumateng Gusti punika kanyatakaken nalika kita janji ing ngarsanipun Gusti Allah lan warga pasamuwan. Minangka tiyang sepuh ingkang mbaptisaken anak, kita janji dados tiyang sepuh ingkang sae, kita dados tuladha kangge anak-anak kita, sarta janji ndidik anak-anak kita supados pitados dhumateng Gusti Yesus. Nalika kita angkat sidi, kita janji setya dados pandherekipun Sang Kristus lan dados warga diwasa ingkang tanggel jawab. Mekatena ugi nalika kita daup suci, kita lan semah kita ugi janji tansah setya ngantos pati ingkang misahaken. Langkung malih nalika kita kapiji lan dipun pitados dados anggota Majelis Pasamuwan, kita ugi janji dhumateng Gusti lan warga pasamuwan badhe nindakaken sedaya tugas lan tanggel jawab kita minangka Majelis Pasamuwan. Tiyang ingkang setya kaliyan komitmenipun nalika prajanji, piyambakipun badhe dipun pitados dening tiyang sanes lan dipun paringi tanggel jawab ingkang langkung ageng malih. Isi Wonten ing waosan kaping pisan, Yusak 24, nyariosaken komitmenipun bangsa Israel tansah ngabekti lan manembah dhumeteng Gusti Allah. Yusak ingkang dados pimpinanipun bangsa Israel nalika semanten, mangertos bilih bangsa Israel dipun adhepaken kaliyan pilihan dhateng sinten piyambakipun badhe ngabekti. Yusak kanthi teges ngaturi pirsa bilih piyambakipun milih ngabekti lan manembah namung dhumateng Gusti Allah ingkang nitahaken langit kaliyan bumi. Yusak pitados bilih Gusti Allah ingkang sampun ngentasaken bangsa Israel saking tanah pangawulan Mesir mlebet tumuju tanah Prajanjian Kanaan. Yusak mangertos bilih Gusti Allah punika Gusti ingkang cemburu, ingkang kepengin umat-Ipun namung setya ngabekti dan manembah dhateng Panjenenganipun. Awit saking punika Yusak nantang bangsa Israel: tetep setya ngabekti lan manembah dhumateng Gusti Allah punapa dhateng ilah-ilah sanesipun. Tantangan saking Yusak punika dipun tanggepi kaliyan komitmen bangsa Israel, tetep setya ngabekti dan manembah namung dhumateng Gusti Allah. Bangsa Israel sami janji mboten badhe nilaraken Gusti Allah, tansah pitados bilih namung Gusti Allah kemawon ingkang nulungi lan nylametaken piyambakipun. Ing waosan kaping kalih, Rasul Paulus negesaken komitmenipun pasamuwan Efesus minangka pandherekipun Sang Kristus. Paulus mulang pasamuwan Efesus supados kiyat wonten ing Gusti. Pasamuwan Efesus kedah ngandelaken kuwaosipun Gusti Allah supados tanggon nglawan tipu muslihat, serangan Iblis lan piwulang sesat. Pasamuwan Efesus kedah ngandelaken kuwaosipun Gusti Allah lan ngagem perangan gamanipun Allah. Kasebataken dening Paulus wonten 6 perangan gamanipun Allah, inggih punika: (1) Sabuk kayekten, (2) Ageman Zirah kaadilan, (3) Kasut rila kangge martosaken Injil tentrem santosa, (4) Tameng iman, (5) Ketopong kaslametan, lan (6) Pedang Roh, inggih punika Sabdanipun Gusti (Ay. 14-17). Saking ngriki, Paulus ngengetaken pasamuwan Efesus supados siyap siaga lan jumeneng jejeg, gesang bener lan adil. Minangka umatipun Allah, pasamuwan Efesus kedah martosaken kabar kaslametan lan karukunan supados tiyang sanes tepang kaliyan Gusti Yesus Kristus lan ngraosaken tentrem santosa salebeting gesangipun. Salajengipun ing waosan katiga, nyariosaken komitmenipun Petrus lan para sakabat tansah setya ndherek Gusti Yesus. Ing satengah-tengahing kahanan tiyang kathah sami mundur sak sampunipun mirengaken piwucalipun Gusti Yesus, Petrus negesaken komitmenipun srana ngucap bilih mboten wonten pribadi sanes ingkang dipun pitados kejawi namung Gusti Yesus. Petrus pitados bilih sabdanipun Gusti Yesus punika sabdanipun Gusti Allah piyambak. “Pangandika Paduka punika Sang Suci kagunganing Allah.” (Ay. 68). Gusti Yesus punika pribadinipun Gusti Allah piyambak (Ay. 69). Gusti Yesus mangertos bilih pangakenipun Petrus punika pinangkanipun saking Gusti Allah (Ay. 65, 70). Panutup Ndherek Gusti Yesus utawi dados sakabatipun Gusti Yesus punika mboten gampil marginipun. Wonten maneka warni tantangan, ujian, godha, lan masalah ingkang kedah dipun adhepi kangge dados sakabat ingkang sejati. Dipun betahaken komitmen ingkang kiyat, kasetyan ingkang murni, sarta gesang miturut karsanipun Gusti. Komitmen ndherek Gusti punika ingkang ketawis wonten salebeting gesang bangsa Israel nalika lumebet lan manggen ing tanah Prajanjian Kanaan. Ing pundi bangsa Israel prajanji badhe ngabekti lan setya namung dhumateng Gusti Allah kemawon. Rasul Paulus ngiyataken komitmenipun Pasamuwan Efesus supados tansah setya dhumateng Gusti Yesus Kristus. Ing pundi pasamuwan Efesus kedah wantun merjuangaken iman lan kasetyanipun kanthi cara ngagem perangan gamanipun Allah supados kiyat ngadepi serangan tipu daya lan kuwaosipun Iblis. Lan ing pungkasan, Petrus nedahaken komitmenipun dados sakabatipun Gusti Yesus ingkang sejati, teguh imanipun, lan tetep setya ndherek Gusti Yesus, senadyan nalika semanten kathah tiyang ingkang sami mundur, nilar Gusti Yesus. Komitmenipun Petrus punika ketingal saking pangaken setyanipun ndherek Gusti Yesus ngantos pungkasan gesangipun. Sapunika ing sasi Pambangunan GKJW, kita minangka warga pasamuwan GKJW dipun ajak nggadhahi komitmen dhiri kangge mbangun GKJW lan setya ndherek Gusti. Wujuding komitmen dhiri kangge mbangun GKJW saged ketingal saking kasedyan kita ndherek nladosi Gusti lumantar GKJW. Sarana talenta, kasagedan, lan katrampilan kita, mangga kita ginakaken kagem kamulyanipun Gusti. Kita tansah aktif ngabekti lan manembah dhumateng Gusti, sae punika lumantar pangabekti ing greja utawi pangabekti ing brayat kita piyambak. Kita saged urun rembug lan atur saran ingkang positif lan mbangun kangge tuwuhing GKJW langkung sae. Mekaten ugi kita sumadya sacara langsung ndherek ngladosi Gusti miturut kasagedan kita. Ing GKJW tansah kacawisan papan kangge sedaya warga pasamuwan GKJW ingkang purun ngladosi lan mbangun GKJW. Ingkang kaping kalih, komitmen tansah setya ndherek Gusti saged kita ketingalaken lumantar sikep gesang kita ingkang tansah mulyakaken Gusti. Lumantar paseksi ingkang kita adum lan cariyosaken, kita saged nyariosaken pakaryan lan sih katresnanipun Sang Kristus wonten ing gesang kita. Lumantar pitutur kita, kita tansah atur panuwun sokur dhumateng Gusti, ngucapaken ukara berkah ingkang mbangun kangge tiyang sanes, saengga lumantar dhiri kita, sikep kita, pangucap kita, lan tindak tanduk kita kapancar toyaning gesang. Mangga ing sasi Pambangunan GKJW sapunika, kita kagungan tekad lan semangat makarya kangge mbangun GKJW. Meketena ugi kita nggadhahi komitmen tansaya setya lan tresna dhumateng Gusti Yesus lumantar greja-Nipun GKJW. Sumangga kita jagi lan rimati komitmen kita kangge mbangun GKJW supados sansaya tuwuh lan ngedalaken woh ing salebeting lampah gesang kita sadinten-dinten. Amin. [AR]. Pamuji: KPJ. 448 Pra Prajurite Gusti
Nama Bayi Katolik Terlengkap, Tahun Liturgi Dalam Katolik, Kalender Liturgi Katolik 2026, Renungan Katolik 2025, |
Nyanyian Ibadah Gereja: MENU UTAMA:Lagu Koor Gereja, JB (Pujian Sekolah Minggu), KMM, KJ, PKJ, GB, NKB, Kidung Ceria, NR, NR TORAJA, PKJ TORAJA, NKB TORAJA, NJNE, PENANIAN MASALLO', Pa'pudian, Mazmur Genewa, Nyanyian Jemaat GPM, LIRIK LAGU ROHANI SUNDA, Kidung Kabungahan KKB, KPKL, KPKA, Kidung RIA GKJW, Buku Ende, BN (Buku Nyanyian HKBP), Suplemen Buku Ende, MNR1 (Mazmur dan Nyanyian Buku 1), MNR2 (Mazmur dan Nyanyian Buku 2), Nafiri Rohani, MAZMUR MP3 GKI, NP (Nyanyian Pujian), Lagu Tiberias, Nafiri Kemenangan, Lagu GMS, PPK, PPPR, KPPK, NKI, NRM, Buku Lagu Perkantas, KPJ, KRI, KPRI, KLIK, NNBT, DSL, LS, Doding Haleluya, LKEE, Suara Gembira, , Puji Syukur, Madah Bakti, Kidung Pasamuan Jawi (KPJ)(1) Alkitab JAWA Prajanjian Lawas(1) Bacaan Alkitab GKJW 2026(1) Bacaan Leksionari GKJ 2025(8) Bacaan Leksionari GKJ 2026(12) Contoh Tata Ibadah GKJ(29) Kalender GKJ 2017(7) Kalender GKJ 2018(12) Kalender GKJ 2019(12) Kalender Liturgi GKJ 2023(12) Khotbah GKJ 2016(1) Khotbah GKJ 2025(21) Khotbah GKJ 2026(5) Khotbah GKJW 2026(7) Kidung Pasamuan Jawi (KPJ)(177) Kidung Pasamuwan Kristen (KPK)(8) Kidung Pasamuwan Kristen Anyar (KPKA)(345) Kidung Pasamuwan Kristen Lawas (KPKL)(171) Kidung Ria GKJW(33) Klasis Gereja Kristen Jawa (GKJ)(32) NA(1) Pembacaan Alkitab 2016(1) Renungan GKJ 2022(29) Renungan GKJ 2023(13) Renungan GKJ 2024(1) Renungan GKJW 2024(4) Tata Ibadah GKJ 2024(2) Tentang GKJ(3) xx(166) xxx(4) Kidung Pasamuan Jawi (KPJ)(1) Alkitab JAWA Prajanjian Lawas(1) Bacaan Alkitab GKJW 2026(1) Bacaan Leksionari GKJ 2025(8) Bacaan Leksionari GKJ 2026(12) Contoh Tata Ibadah GKJ(29) Kalender GKJ 2017(7) Kalender GKJ 2018(12) Kalender GKJ 2019(12) Kalender Liturgi GKJ 2023(12) Khotbah GKJ 2016(1) Khotbah GKJ 2025(21) Khotbah GKJ 2026(5) Khotbah GKJW 2026(7) Kidung Pasamuan Jawi (KPJ)(177) Kidung Pasamuwan Kristen (KPK)(8) Kidung Pasamuwan Kristen Anyar (KPKA)(345) Kidung Pasamuwan Kristen Lawas (KPKL)(171) Kidung Ria GKJW(33) Klasis Gereja Kristen Jawa (GKJ)(32) NA(1) Pembacaan Alkitab 2016(1) Renungan GKJ 2022(29) Renungan GKJ 2023(13) Renungan GKJ 2024(1) Renungan GKJW 2024(4) Tata Ibadah GKJ 2024(2) Tentang GKJ(3) xx(166) xxx(4) | Register Login
Links:
lagu-gereja.com,
bible.,
perkantas,
gbi,
GKII,
gkj,
HKBP,
MISA, GMIM, GPM, toraja, gmit, gkp, gkps, gbkp, Hillsong, PlanetShakers, JPCC Worship, Symphony Worship, Bethany Nginden, Christian Song, Lagu Rohani, ORIENTAL WORSHIP, Lagu Persekutuan, NJNE, Nyanyian Jemaat GPM, Kalender Liturgi GKJ Juni 2023 Minggu, 26 Juni 2022 Renungan GKJ Minggu, 26 Juni 2022 - II Raja-raja 2:1-2,6-14 - Minggu Biasa VIII Minggu ke-3 setelah Pentakosta (Hijau) Minggu, 19 Juni 2022 Renungan GKJ Minggu, 19 Juni 2022 - I Raja-raja 19:1-4,(5-7),8-15a - Minggu Biasa VII Minggu ke-2 setelah Pentakosta (Hijau) Minggu, 12 Juni 2022 Renungan GKJ Minggu, 12 Juni 2022 - Amsal 8:1-4,22-31 - Minggu Trinitas (Putih) Minggu, 5 Juni 2022 Renungan GKJ Minggu, 5 Juni 2022 - Kisah Para Rasul 2:1-21 - Petakosta (Merah) Minggu, 15 Mei 2022 Renungan GKJ Minggu, 15 Mei 2022 - Saling Mengasihi - Kisah Para Rasul 11:1-18 - Minggu Paskah V (Putih) |
| popular pages | login | e-mail: admin@lagu-gereja.com © 2012 . All Rights Reserved. |