gkj.lagu-gereja.com

View : 16 kali
Download MP3 Music
Minggu Biasa 6 | Penutupan Bulan Kespel
Stola Hijau

Bacaan 1: Kejadian 3 : 8 - 15
Mazmur: Mazmur 130
Bacaan 2: 2 Korintus 4 : 13 - 5 : 1
Bacaan 3: Markus 3 : 20 - 35

Tema Liturgis: GKJW sebagai Saksi dan Pelayan Perdamaian dan Keadilan Sosial
Tema Khotbah: Setia Melakukan Kehendak Allah sebagai Modal Bersaksi

Penjelasan Teks Bacaan :
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Kejadian 3 : 8 - 15
TUHAN Allah menghendaki manusia setia dan menaati perintah-Nya. TUHAN Allah memberi perintah kepada manusia, “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.”  (Lih. Kej. 2:16-17). Namun yang terjadi adalah manusia tidak menaatinya. Manusia melanggar perintah TUHAN Allah, dengan memakan buah pengetahuan yang baik dan yang jahat. Mereka lebih taat kepada ular daripada kepada TUHAN Allah. Ular mengatakan, “Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu  memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.” (Kej. 3:4, 5). Bujukan ular itulah yang membuat manusia tergoda dan tidak taat kepada TUHAN  Allah. Manusia  tidak dapat melakukan kehendak TUHAN Allah dengan sungguh-sungguh.

Ketidaksetiaan dan ketidaktaatan manusia kepada TUHAN Allah membuat manusia takut kepada-Nya. Saat Ia bertanya kepada manusia, mereka mencari pembenaran dan cenderung menyalahkan yang lain. Adam menyalahkan Hawa. Ia mengatakan bahwa perempuan yang TUHAN Allah tempatkan di sisinya, dialah yang memberi buah pohon itu kepadanya, maka ia makan. Dan Hawa juga menyalahkan ular. Ia mengatakan bahwa Ular itu yang memperdayakanny, maka ia makan. Sejak saat itulah, TUHAN Allah mengutuk ular, dengan perutnyalah ular akan menjalar dan debu tanahlah akan ia makan seumur hidupnya. TUHAN Allah akan mengadakan permusuhan antara ular dan perempuan itu, antara keturunan ular dan keturunan perempuan; keturunan perempuan akan meremukkan kepalanya, dan ular akan meremukkan tumitnya.

2 Korintus 4 : 13 -" 5 : 1
Di bagian surat ini tersirat bahwa Rasul Paulus dan rekan sepelayanannya menghadapai penderitaan. Namun mereka tidak tawar hati. Mengapa mereka tidak tawar hati? Karena:

    Iman mencegah mereka menjadi tawar hati (Ay. 13).
    Pengharapan akan kebangkitan mencegah mereka dari sikap putus asa (Ay. 14).
    Mereka tahu bahwa Kristus telah dibangkitkan dan kebangkitan-Nya merupakan jaminan akan kepastian kebangkitan mereka. Pandangan akan kemuliaan Allah dan manfaat bagi jemaat melalui penderitaan mereka, membuat mereka tidak berputus asa (Ay. 15).
    Pikiran mengenai keuntungan yang akan diraih jiwa mereka melalui penderitaan jasmani, membuat mereka tidak tawar hati. Meskipun manusia lahiriah mereka semakin merosot, namun manusia batiniah mereka dibaharui dari sehari ke sehari (Ay. 16).
    Pengharapan akan kehidupan dan kebahagiaan kekal membuat mereka tidak tawar hati dan merupakan dukungan serta penghiburan yang luar biasa.

Rasul Paulus dan rekan sepelayanannya melihat bahwa penderitaan mereka sedang membawa mereka menuju surga dan pada akhirnya segala penderitaan itu akan berhenti juga (Ay. 17). Mereka mendapati bahwa semua penderitaan itu ternyata ringan, sedangkan kemuliaan surga jauh lebih besar.

Markus 3 : 20 - 35
Yesus memberikan pernyataan yang menarik tentang siapa yang menjadi ibu dan saudara-saudara-Nya. Ia mengatakan bahwa saudara-saudara-Nya adalah mereka yang melakukan kehendak Bapa-Nya. Pernyataan Yesus ini merupakan bentuk respons atas keberadaan dari keluarga-Nya yang datang untuk mengambil Dia, sebab kata ahli Taurat Ia tidak waras lagi. Nampaknya kaum keluarga-Nya terpengaruh pernyataan ahli-ahli Taurat yang datang dari Yerusalem yang mengatakan bahwa Yesus kerasukan Beelzebul dan dengan penghulu setan Ia mengusir setan. Tampaknya mereka sengaja datang jauh-jauh hanya untuk menghambat kegiatan mengajar Yesus. Betapa relanya mereka bersusah-susah hanya untuk melakukan kejahatan. Mengingat bahwa mereka datang dari Yerusalem, tempat ahli-ahli Taurat yang paling santun dan terpelajar berada, dan juga tempat yang memberi mereka peluang untuk bermufakat bersama-sama melawan TUHAN dan yang diurapi-Nya. Di sana mereka memiliki kekuatan besar untuk mengganggu. Kedudukan ahli-ahli Taurat dari Yerusalem sangat berpengaruh, bukan hanya terhadap orang-orang di pedesaan, tetapi juga bagi ahli-ahli Taurat pedesaan. Orang-orang pedesaan ini tidak pernah berpikir sebelumnya tentang dasar yang dipakai Yesus dalam melakukan berbagai mujizat-Nya sampai ahli-ahli Taurat dari Yerusalem ini datang dan menanamkannya di dalam kepala mereka. Karena tidak dapat menyangkal bahwa Ia mengusir setan, yang jelas-jelas menunjukkan bahwa Ia berasal dari Allah, ahli-ahli Taurat Yerusalem ini menuduh bahwa Beelzebul berada dipihak-Nya, bersekutu dengan-Nya, dan dengan penghulu setan Ia mengusir setan. Ada tipu muslihat dalam tuduhan mereka ini; setan tidak diusir, ia hanya pergi keluar karena diizinkan. Tidak ada suatu pun yang patut dicurigai dalam cara Yesus mengusir setan, Ia melakukan-Nya sebagai orang yang berkuasa. Tetapi itulah tuduhan mereka yang memang memutuskan untuk tidak mempercayai-Nya.

Yesus sangat menentang pernyataan ahli-ahli Taurat yang  tidak percaya dengan karya kesembuhan yang dilakukan-Nya. Bagi Yesus itu merupakan bentuk penghujatan kepada Roh Kudus. Ahli-ahli Taurat sudah menutup hati dan pikiran mereka terhadap Yesus. Yesus lebih menghargai orang-orang yang  yang duduk di sekeliling-Nya itu dan berkata: “Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.”(Ay. 34-35). Merekalah yang percaya dan tidak menutup diri pada-Nya.

Benang Merah Tiga Bacaan:
Allah menghendaki umat-Nya taat dan setia dalam melakukan kehendak-Nya. Namun bukan hal mudah untuk setia dalam melakukan kehendak-Nya, karena ada tantangan yang harus dihadapi. Hal yang menjadi tantangan untuk setia melakukan kehendak-Nya adalah godaan dan penderitaan. Hendaklah umat-Nya kuat dan tidak tawar hati dalam menghadapi berbagai godaan yang menerpanya. Tidak hanya itu, menutup hati dan pikiran dapat menghambat untuk taat dan setia dalam melakukan kehendak-Nya.

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Dalam menjalani aktivitas sehari-hari, kita tidak dapat lepas dari aturan yang berlaku. Setiap aturan dibuat untuk kepentingan dan kebaikan bersama. Setiap orang diharapkan taat terhadap setiap peraturan yang ada. Namun, tidak semua orang taat pada peraturan yang ada. Misalnya, masih ada saja orang yang membuang sampah sembarangan, datang terlambat, mengembalikan buku pinjaman, tidak sesuai batas waktunya, naik sepeda di jalur yang bukan tempatnya, melanggar rambu-rambu lalu lintas, dan sebagainya. Ada saja alasan mengapa mereka melanggar aturan. Pelanggaran terjadi karena kurangnya niat di dalam diri untuk menaati peraturan.

Kesungguhan untuk menaati aturan menjadi harapan semua  pemimpin. Perhatikan apa yang harus dilakukan tentara Jepang  agar mereka menang dalam Perang Dunia II. Mereka  harus menaati perintah  Komandan, meski harus melakukan kamikaze. Kamikaze umumnya merujuk kepada serangan bunuh diri yang dilakukan awak pesawat Jepang pada akhir Perang Dunia II terhadap kapal-kapal laut Sekutu. Para penerbang tersebut taat dan setia pada perintah komandannya meski harus mengorbankan nyawanya. Mereka siap melakukannya karena hal itu dianggap suatu kebanggaan.

Isi
Ketaatan dan kesetiaan menjadi hal yang penting dalam kehidupan kita. Terlebih di dalam relasi kita dengan Tuhan Allah. Ia menghendaki agar kita senantiasa taat dan setia kepada-Nya. Untuk itu marilah kita belajar dari beberapa kisah yang tertulis dalam Alkitab, agar kita senantiasa dapat mewujudkan kesetiaan dan ketaatan kita kepada-Nya.

Dalam bacaan pertama dijelaskan bahwa manusia jatuh ke dalam dosa karena ketidaktaatan dan ketidaksetiaan kepada TUHAN Allah. TUHAN Allah memberi perintah kepada manusia, “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.”  (lih. Kej.2:16-17). Namun yang terjadi adalah manusia tidak menaatinya. Manusia tidak setia kepada-Nya.  Ketidaksetiaan dan ketidaktaatan manusia kepada TUHAN Allah inilah yang membuat manusia takut kepada TUHAN dan mereka jatuh pada tindakan mencari pembenaran sendiri dan menyalahkan yang lain. Adam menyalahkan Hawa dan Hawa menyalahkan ular. Tuhan Allah menghendaki agar kita mampu untuk melakukan kehendak-Nya. Memang tidak dapat dipungkiri, bukanlah hal yang mudah untuk dapat taat dan setia dalam melakukan kehendak-Nya. Ada banyak tantangan dan godaan yang harus dihadapi. Itulah yang dialami oleh manusia ketika mereka ditempatkan di taman Eden. Ular menggoda mereka agar melawan perintah TUHAN Allah.

Tidak hanya sekedar godaan saja yang dapat melunturkan ketaatan dan kesetiaan, penderitaan yang dialami manusia juga dapat melunturkan ketaatan dan kesetiaan dalam melakukan kehendak-Nya. Oleh karena itu, kita perlu mengingat nasihat Rasul Paulus, seperti yang disampaikan dalam suratnya kepada Jemaat Korintus. Dalam bacaan kedua dijelaskan meskipun Paulus dan rekan sepelayanannya harus menghadapi penderitaan, mereka tidak tawar hati. Mereka tetap taat dan setia dalam melakukan kehendak Allah, yakni mengabarkan kabar keselamatan Tuhan Yesus Kristus dan terus menjadi saksi-Nya. Mengapa bisa demikian? Karena :

    Iman mencegah mereka menjadi tawar hati (Ay. 13).
    Pengharapan akan kebangkitan mencegah mereka dari sikap putus asa (Ay. 14).
    Mereka tahu Kristus telah dibangkitkan dan kebangkitan-Nya merupakan jaminan kepastian kebangkitan mereka. (Ay. 15).
    Pikiran mengenai keuntungan yang akan diraih jiwa mereka melalui penderitaan jasmani, membuat mereka tidak tawar hati. Meskipun manusia lahiriah mereka semakin merosot, namun manusia batiniah mereka dibaharui dari sehari ke sehari (Ay. 16).
    Pengharapan akan kehidupan dan kebahagiaan kekal membuat mereka tidak tawar hati dan merupakan dukungan serta penghiburan yang luar biasa.

Rasul Paulus dan rekan sepelayanannya melihat bahwa penderitaan mereka sedang membawa mereka menuju sorga dan pada akhirnya segala penderitaan itu akan berhenti juga (Ay. 17). Mereka mendapati bahwa semua penderitaan itu ternyata ringan, sedangkan kemuliaan surga jauh lebih besar.

Selain godaan dan penderitaan, tindakan menutup hati dan pikiran kepada Tuhan juga menghambat ketaatan dan kesetiaan dalam melakukan kehendak-Nya. Hal ini seperti yang dilakukan oleh ahli-ahli Taurat, seperti yang diceritakan di bacaan ketiga. Mereka tidak percaya kepada Tuhan Yesus. Mereka datang dari Yerusalem dan mengatakan bahwa Yesus kerasukan Beelzebul, dan dengan penghulu setan Ia mengusir setan. Mereka sengaja datang jauh-jauh hanya untuk menghambat kegiatan mengajar Yesus. Mereka tidak percaya kepada mujizat yang dilakukan oleh Tuhan Yesus. Tuhan Yesus sangat menentang pernyataan ahli-ahli Taurat yang  tidak percaya dengan karya kesembuhan yang dilakukan-Nya. Bagi Yesus itu merupakan bentuk penghujatan kepada Roh Kudus. Yesus lebih menghargai orang-orang yang  yang duduk di sekeliling-Nya itu. Ia berkata: “Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.” (Ay. 34-35). Orang-orang yang duduk di sekelilingnya lebih dapat melakukan kehendak Allah, karena percaya kepada Tuhan Yesus.

Penutup
Sebagai orang percaya kita tidak dapat lepas dari godaan, penderitaan dan juga kemungkinan jatuh pada tindakan menutup hati dan pikiran kepada Tuhan. Kita perlu waspada akan hal tersebut. Tanggung jawab kita sebagai orang percaya adalah taat dan setia dalam melakukan kehendak Tuhan Allah.  Ini adalah modal kita untuk terus menjadi saksi-Nya di dunia ini. Jika kita tidak taat dan setia dalam melakukan kehendak-Nya, bagaimana mungkin kita dapat terus menjadi saksi-Nya. Jangan sampai kita menjadi saksi-saksi dusta. Amin. [SWT].

 

Pujian: KJ. 369a : 1  Ya Yesus, Ku Berjanji

 

Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Anggen kita sami nglampahi gesang sadinten-dinten, kita mboten saged uwal saking aturan ingkang kedah kalampahan. Aturan punika wonten kangge kapentingan lan kasaenan kita sedaya. Pangajeng-ajengipun, saben tiyang saged nglampahi saben aturan ingkang wonten, nanging mboten sedaya tiyang saged nglampahi aturan ingkang wonten. Contonipun, taksih wonten kemawon tiyang ingkang mbucal larahan secara sembarangan, telat ngrawuhi rapat, mboten mangsulaken buku ingkang dipun ampil, nerak rambu-rambu lalu lintas, lan sapiturutipun. Wonten kemawon alasanipun, kenging punapa nerak aturan. Nerak aturan punika kelampahan awit kirang nggadhahi niat kangge nindakaken aturan punika.

Saestu anggenipun nglampahi aturan punika dados pangajeng-ajengipun para pemimpin. Cobi kita gatosaken, punapa ingkang kedah dipun lampahi dening tentara Jepang, supados menang ing Perang Dunia II. Para tentara Jepang kedah nglampahi punapa ingkang dados prentahipun komandan, senaosa kedah nglampahi kamikaze. Kamikaze punika ateges serangan “bunuh diri” ingkang dipun lampahi dening para pilot pesawat Jepang rikala pungkasaning perang Dunia II, ingkang katujokaken dhateng kapal-kapal laut Sekutu. Para pilot kalawau setya lan nglampahi prentahipun komandan senaosa kedah ngorbanaken nyawanipun. Para pilot wau kersa nglampahi awit punika dados kebanggaan.

Isi
Setya tuhu dados prekawis ingkang wigatos ing pigesangan kita. Langkung-langkung ing salebeting mbangun pasrawungan kaliyan Gusti Allah. Panjenenganipun ngersakaken kita tansah setya tuhu dhumateng Panjenenganipun. Mila saking punika, sumangga kita sinau saking Kitab Suci, supados kita saged mujudaken setya tuhu dhumateng Panjenenganipun.

Ing waosan ingkang wiwitan dipun terangaken bilih manungsa mboten saged mujudaken kasetyanipun dhumateng Gusti Allah Sang Yehuwah. Gusti Allah Sang Yehuwah paring dhawuh dhateng manungsa: “Sawarnane wohing wit-witan ing patamanan iki kena sira pangan ing sasenengira, nanging wit pangawruhing becik lan ala iku wohe aja sira pangan. Dene samangsa sira mangan wohe, mesthi sira bakal mati.” (PD. 2:16-17). Nanging ingkang kelampahan manungsa mboten saged nglampahi. Manungsa mboten setya tuhu dhumateng Panjenenganipun. Punika ndadosaken manungsa ajrih kaliyan Gusti Allah Sang Yehuwah lan ndadosken manungsa mboten wantun ngakeni kalepatanipun lan pados salahing liyan. Adam nyalahaken Kawa, lan Kawa nyalahaken sawer. Gusti Allah ngersakaken supados kita saged nglampahi karsa-Nipun. Pancen kita mboten saged selak, sanes prekawis ingkang gampil nglampahi karsa-Nipun.  Kathah pambengan lan panggodha ingkang kedah kita adhepi. Punika ingkang dipun alami manungsa rikala kapapanaken ing taman Eden. Sawer nggodha supados manungsa nglawan dhawuhipun Guti Allah Sang Yehuwah.

Mboten namung panggodha kemawon ingkang saged nglunturaken kasetyan dhumateng Gusti Allah, kasangsaran ingkang dipun alami manungsa saged nglunturaken kasetyan nglampahi karsaNipun. Mila saking punika kita perlu ngenget piwucalipun Rasul Paulus, kados seratipun dhateng pasamuwan Korinta. Ing waosan ingkang kaping kalih dipun terangaken bilih senaosa Rasul Paulus lan rencang damelipun kedah ngadhepi kasangsaran, nanging mboten semplah ing manah. Rasul Paulus lan rencang damelipun tetep setya tuhu nglampahi karsanipun Gusti Allah, inggih punika ngabaraken kawilujengan saking Gusti Yesus Kristus lan tansah dados seksinipun. Kenging punapa saged mekaten? Karana:

    Iman kapitadosan ndadosaken mboten semplah ing manah (Ay. 13)
    Pangajeng-ajeng kawungokaken nyegah semplah ing manah (Ay. 14)
    Mangertos bilih Sang Kristus kawungokaken, lan wungunipun dados jaminan bilih Rasul Paulus lan rencang damelipun ugi kawungokaken (Ay. 15)
    Pikiran ngingingi untung ingkang badhe katampi dening jiwa awit kasangsaran jasmani, ndadosken mboten semplah: “malah sanadyan ta kamanungsanku kang lair sansaya rusak, nanging kamanungsanku kang batin kaanyarake saben dina.” (Ay. 16)
    Pangajeng-ajeng gesang lan kabingahan langgeng ndadosaken mboten semplah, lan dados panglipuran ingkang ngeram-eramaken.

Rasul Paulus lan rencang damelipun mirsani bilih kasangsaranipun nglantaraken tumuju Suwarga lan pungkasanipun sedaya kasangsaran badhe mandeg (Ay. 17). Nyatanipun sedaya kasangsaran kraos entheng, kamulyan Suwarga nglangkungi kasangsaran ingkang karaosaken.

Salintunipun panggodha lan kasangsaran, nutup manah lan pikiran dhumateng Gusti, ugi dados pambengan mujudaken kasetyan kangge nglampahi karsanipun. Prekawis punika kados ingkang dipun lampahi dening para ahli Toret, kados ingkang kacariyosaken ing waosan kaping tiga. Para ahli Toret mboten pitados dhumateng Gusti Yesus. Para ahli Toret rawuh saking Yeruselem lan matur bilih Gusti Yesus kapanjingan Beelzebul lan nundhungi setan demi panggedhening setan. Tebih-tebih saking Yerusalem namung kangge  ngendeg Gusti Yesus anggenipun paring piwulang. Para ahli Toret sami mboten pitados mujizat ingkang dipun tindakeken Gusti Yesus. Gusti Yesus mboten sarujuk kaliyan punapa ingkang dipun aturaken para ahli Toret, ingkang mboten pitados pakaryanipun. Miturut Gusti Yesus punika minangka nglawan Sang Roh Suci. Gusti Yesus langkung paring pangalembana dhateng tiyang kathah ingkang sami ngupengi Panjenenganipun. Panjenenganipun dhawuh:  “Iki ibuKu lan sadulur-sadulurKu! Sing sapa nindakake karsaning Allah, iya iku sadulur-Ku lanang, yaiku sadulur-Ku wadon, yaiku ibu-Ku.” (Ay. 34-35). Para tiyang ingkang sami ngupengi sami saged nglampahi karsa-Nipun Gusti Allah, awit sami pitados dhumateng Gusti Yesus.

Panutup
Minangka tiyang pitados kita mboten saged uwal saking panggodha, kasangsaran lan ugi dhawah ing tumindak nutup manah lan pikiran dhumateng Gusti. Kita perlu waspada ing bab punika. Tanggel jawab kita minangka tiyang pitados inggih punika setya tuhu nglampahi karsanipun Gusti Allah. Punika minangka sangu  kita supados tansah dados saksi-Nipun ing ndonya punika. Menawi kita mboten saged setya tuhu nglampahi karsa-Nipun, kados pundi kita saged dados seksinipun? Sampun ngantos kita dodos saksi ingkang goroh. Amin. [SWT].

 

Pamuji: KPJ. 79 : 1  Karsa Paduka Priyangga














Pelatihan Online EasyWorship 2009 mulai 06 April 2015
- Soal Latihan 1 EasyWorship 2009 - Pembuatan Slide Tata Ibadah
- Register | Login




Selanjutnya:

Renungan GKJW Minggu, 16 Juni 2024 - Keluarga yang Hidup dalam Kasih, Perdamaian, dan Keadilan


MENU UTAMA:
Kidung Pasamuan Jawi (KPJ)(1)
Alkitab JAWA Prajanjian Lawas(1)
Contoh Tata Ibadah GKJ(25)
Kalender GKJ 2017(7)
Kalender GKJ 2018(12)
Kalender GKJ 2019(12)
Kalender Liturgi GKJ 2023(12)
Khotbah GKJ 2016(1)
Kidung Pasamuan Jawi (KPJ)(317)
Kidung Pasamuwan Kristen (KPK)(8)
Kidung Pasamuwan Kristen Anyar (KPKA)(345)
Kidung Pasamuwan Kristen Lawas (KPKL)(171)
Kidung Ria GKJW(24)
Klasis Gereja Kristen Jawa (GKJ)(32)
NA(1)
Pembacaan Alkitab 2016(1)
Renungan GKJ 2022(29)
Renungan GKJ 2023(13)
Renungan GKJ 2024(1)
Renungan GKJW 2024(2)
Tata Ibadah GKJ 2024(1)
Tentang GKJ(3)
xx(6)
xxx(4)

Arsip Renungan GKJW 2024..


Register   Login  


Kalender Liturgi GKJ Juni 2023


Kostenlose Backlinks bei http://backl.pommernanzeiger.de Seitenpartner www.condor-bbs.com Rankingcloud.de - Hosting in der Cloud Suchmaschinenoptimierung Kostenloser Auto-Backlink von www.cheers2.de