| gkj.lagu-gereja.com |
![]() |
Download MP3 Music 100000 Klasis Yogyakarta SelatanPembiakan dari , -
Tanggal Pendewasaan: 23 Nopember 1913 Profil dan Sejarah Banyak orang lebih mengenalnya sebagai GKJ Sawokembar karena ada pohon sawo kecik yang ditanam di halaman muka gedung gereja di Jl. Dr. Wahidin Sudirohusodo 40 (Kampung Klitren Lor). Gedung gereja ini adalah gedung gereja kedua, yang mulai ditempati beribadah pada 11 Desember 1930. Sebelumnya gedung gereja pertama berada di Jl. Gondokusuman (sekarang Jl. Jend. Sudirman) dan dikenal karena gambar ayam jantan di menaranya. Gedung gereja ini mewadahi jemaat Kristen di sekitar Gondokusuman yang adalah buah pelayanan zending dari Gereja Gereformeerd di Amsterdam. Jemaat yang bertumbuh pesat seiring dengan berkembangnya Rumah Sakit Petronella (sekarang RS Bethesda) dan sekolah-sekolah (sekarang BOPKRI dan Duta Wacana) dinyatakan dewasa pada Minggu, 23 November 1913, bersamaan dengan diteguhkannya empat orang tua-tua dan dua orang diaken. Dalam pertumbuhannya, jemaat Gondokusuman menahbiskan Pendeta pertamanya pada 20 April 1926 dalam diri Ponidi Sopater. Pada masa-masa selanjutnya, terus memanggil pelayan berjabatan Pendeta sesuai kebutuhan sehingga sampai sekarang telah menahbiskan/meneguhkan 18(delapan belas) orang Pendeta Jemaat (yang beberapa diantaranya kemudian ditugaskan di LPK, STT Duta Wacana, atau STT Jakarta) dan mengutus 3(tiga) orang Pendeta Pelayanan Khusus di Rumah Sakit Bethesda. Ketika didewasakan tercatat warga gereja sejumlah 569 orang. Kini jumlah itu tercatat 7.334 orang. Dalam perjalanan kehidupan bergerejanya, GKJ Gondokusuman telah mendewasakan 8(delapan) pepanthannya, yaitu GKJ Wirobrajan, GKJ Ambarrukma, GKJ Jatimulyo, GKJ Samironobaru, GKJ Sarimulyo, GKJ Dayu, GKJ Brayat Kinasih dan GKJ Bambu Tegalrejo. Kini wilayah pelayanannya meliputi 18(delapan belas) wilayah tanpa pepanthan, yang dibagi dalam beberapa sektor sesuai jumlah Pendeta Jemaat Aktif yang melayani. Ibadah yang dahulu diawali dengan sekali setiap hari Minggunya, kini dilaksanakan enam kali: sekali pada hari Sabtu dan lima kali pada hari Minggu. Di tengah pergumulan hidup bersama, GKJ Gondokusuman berusaha menjawab kebutuhan zaman dengan berbagai badan pelayanan. Dua yang masih ada hingga sekarang adalah Panti Asuhan Rekso Putro (bagian Putra dan Putri) di bawah koordinasi Badan Sosial Kristen (BSK) dan Panti Wreda di bawah koordinasi Diakonia. Selain itu dalam diri Yayasan Sawokembar, pelayanan melalui Sekolah Musik dan Pelayanan Advokasi masih berjalan. Sebagai organisasi yang terus bertumbuh, GKJ Gondokusuman pun bertumbuh dalam iman dan pengetahuan. Menyongsong usia seabad pada tahun 2013 yang akan datang, GKJ Gondokusuman bervisi menjadi gereja yang bertumbuh dalam Kristus, untuk mewartakan dan mewujudkan damai sejahtera bagi warga gereja, dan masyarakat melalui semua aspek kehidupan untuk menghadapi perubahan zaman. Menerjemahkan visi itu, misi yang diemban adalah membangun kebersamaan dan menumbuhkembangkan solidaritas dalam masyarakat majemuk berdasarkan nilai-nilai kebenaran Alkitab untuk melaksanakan kesaksian dan pemeliharaan iman. Semua itu diwarnai dengan nilai-nilai kasih, kebersamaan, keadilan, dan integritas. Berusaha terus menerjemahkan visi, misi dan nilai, bidang pelayanan pun terus diperbaiki dan diperbaharui. Menantikan hasil evaluasi kinerja, susunan bidang pelayanan saat ini adalah:
Dengan terus menengadah ajaran Terang Dunia (Tumengeng Wulang Pranawaning Jagad - tulisan di bagian depan gedung gereja) dan menghayati kasih Tuhan yang disaksikan dalam Yohanes 3:16 (tulisan Jawa di atas mimbar), GKJ Gondokusuman melangkah dalam kemandirian dan kebersamaan - dengan Klasis Yogyakarta Selatan, Sinode GKJ, dan lingkup yang lebih luas.
Tanggal Pendewasaan: Minggu, Maret 15, 1925 Pepanthan: 1 Blok/Wilayah: 0/0
Tanggal Pendewasaan: 15 Maret 1925 Profil dan Sejarah Kira-kira pada tahun 1895 di Kampung Tungkak. Letaknya + 250 m dari Pasamuwan Tungkak sekarang terdapat tempat bekas Rumah Miskin yang didirikan oleh Pemerintah Kasultanan Yogyakarta dan diurus oleh Tn. Pieters. Pada mulanya Gereja Kristen Djawa (GKD) Mergangsan yang dahulu bernama Pasamuwan Tungkak, terdiri hanya tidak lebih dari 10 orang Kristen yang berasal dari pasien Poliklinik di Tungkak Lowano (Yogyakarta bagian selatan). Pada tahun 1901 Sri Sultan Hamengkoeboewono berkenan menyerahkan sebidang tanah untuk orang sakit sarat milik Kesultanan yang terletak di Kampung Tungkak kepada Zending. dr. Jan Gerrit Scheurer dan DS. Cornelius Zwaan atas nama Zending menerima pemberian Sultan Yogyakarta dengan senang hati. Verpleger Sambija ditempatkan di Rumah Sakit Tungkak.
Update: 11/07/2017
Tanggal Pendewasaan: 01 Januari 1966
Tanggal Pendewasaan: 14 Juni 1967
100700 GKJ Sumberagung Tanggal Pendewasaan: Sabtu, Januari 01, 1972 Telepon: - Email: gkj_sumberagung@yahoo.id Pendeta L: 1Pendeta P: 0 Jumlah: 1
Profil dan Sejarah A. Awal Berdirinya GKJ Sumberagung GKJ Sumberagung mula-mula adalah pepanthan GKJ Patalan, akibat adanya perang transportasi menjadi sulit, sementara itu anggota warga GKJ Patalan yang ada di wilayah bagian utara (Sawo, Paten dan Beji) mengeluh karena kalau mau ke gereja jaraknya terlalu jauh yaitu berjarak sekitar 5 Km, karena sulitnya transportasi itu warga yang ada di wilayah bagian utara terpaksa berjalan kaki untuk pergi ketempat ibadah, sehingga tiba di tempat ibadah sering terlambat dan merasa kelelahan. Hal ini diperparah jika kondisi dalam keadaan hujan keadaan menjadi semakin memprihatinkan.
Keinginan untuk mendewasakan Pepanthan Beji dan Miri segera disampaikan dalam Sidang Klasis sampai berkali-kali. Dan baru pada tahun 1972 terjadi perbincangan yang serius sampai akhirnya pada tanggal 1 Januari 1973 Pepanthan Beji didewasakan, dengan pesan-pesan supaya diperjuangkan sungguh-sungguh agar terus berkembang, dan ditetapkan juga Pendeta Konsulennya yaitu Pdt. Santosa dari GKJ Gondokusuman. B. Gempa dan Akibatnya Hari Sabtu tanggal 27 Mei 2006 jam 06.00 terjadilah gempa bumi dasyat yang menghancurkan sebagian wilayah Bantul dan GKJ Sumberagung juga menjadi korban bencana tersebut, keadaan gedung gereja rusak parah sehingga tidak memungkinkan lagi untuk dipakai kebaktian. 2 Minggu kebaktian ditiadakan karena tidak ada tempat untuk berkumpul selain itu keadaan jemaat juga masih mengalami trauma. Tak lama ada bantuan terpal dan kemudian dibuatlah rumah-rumahan untuk dipakai tempat ibadah, sementara itu mahasiswa Fakultas Tehnik UKDW memberi bantuan rumah bambu yang beratapkan terpal yang lebih kokoh untuk tempat kebaktian. Sumber: Rekso Hadiatmodjo (alm)
Tanggal Pendewasaan: Tahun 1977
Tanggal Pendewasaan: 31 Oktober 1982 Profil dan Sejarah Rikala tahun 1966 wonten penggalihan saking sawetawis keluarga Kristen ing sak kiwo tengenipun Pabrik Gendis Madukismo, badhe ngawontenaken pengetan Natal sesarengan, kados keluarga Bapak Paikun (GKJ Mergangsan), Bapak Sumardi (GKJ Wirobrajan), Bapak Sugiman (GKJ Bantul), Bapak Purwo Admodjo (GKJ Wirobrajan), Bapak Soemantri Wardoyo (GKJ Bantul), Bapak Gatot Suparlan (GKJ Mergangsan), Bapak Sudoto (GKJ Bantul), Bapak Suyadi Yohanes (GKJ Bantul), Bapak E. Sutarman (GKJ Bantul), Bapak Pracoyo (GKJ Wirobrajan) lan Sdr. Suharto DS (GKJ Wirobrajan). Wonten ing adicara menika lajeng tuwuh pengajeng-ajeng sami sareng-sareng kepingin ngawontenaken pangibadah salebeting satunggal Panthan Gereja Kristen Jawi. Perkawis menika dados cikal bakal madegipun Kebaktian Minggu ingkang sepisan wonten dalemipun Bapak Sumardi, inggih wonten ing dalem kontrakan kagunganipun Bapak Broto Wiratmojo (sapunika dalemipun Bapak Sumanto, Padokan Kidul). Wondene ingkang paring piladosan ngasta kotbah, kanthi cara gentosan inggih menika saking GKJ Mergangsan, GKJ Wirobrajan saha GKJ Bantul. Tahun 1967 kanthi panyuwunan dhateng PG Madukismo papan pangibadah ngampil Aula Gedung Madu Baru kanthi Pendeta Konsulen saking GKJ Bantul, inggih punika Bapak Harjo Suwarno. Wiwit tahun 1967 lumantar Direktur PG Madukismo inggih Bapak Ir. Nuryono (tokoh Marhaenis/PNI) paring bantuan awujud siti (lahan bangunan), sarana angkutan/truk, material arupi kajeng jati kanggi mbangun papan pangibadah, ingkang kawiwitan rikala tahun 1968 wontening Komplek PG Madukismo, lan dipun pandhegani dening Bapak Ir. Suroso. Ing tahun 1968 menika ugi dipun putusaken Panthan Madukismo dados panthanipun GKJ Bantul kanthi pertimbangan amargi sacara geografis Madukismo kalebet wilayah Bantul. Tahun 1970 pembangunan papan pangibadah Panthan Madukismo rampung, dene wragadipun kanthi cara gotong-royong antawisipun saking pisungsung warga GKJ Wirobrajan, GKJ Mergangsan lan GKJ Bantul, ugi pikantuk bantuan pihak njawi kadosta saking Bapak Radius Prawiro (Rp 100.000,-), kajawi bantuan uba rampe sanes kados dene kursi 100 biji lan mimbar. Rikala semanten GKJ Bantul nimbali Bapa Pendeta Widjojo Hadipranata ingkang estu-estu ndadosaken warga Madukismo tansaya giat ing piladosan dhumateng Gusti. Pramila jemaat panthan Madukismo tansaya ngrembaka ngantos langkung 100 jiwa kanthi tokoh-tokoh sepuh pitados ing Gusti Yesus kadosta keluarga Bapak Broto Wiratmojo lan sanesipun, ananging wonten ugi warga ingkang rumiyin sampun baptis lajeng ical. Tahun 1982 Panthan Madukismo dados gereja dewasa kanthi jemaat antawis 120 warga, kanthi nggadahi 3 panthan, wondene pendeta konsulen Bapak Sulmarso Darmanto, BA.Tahun 1985 GKJ Madukismo nimbali Bapak Hagussumarmanadi supados dados Pendeta GKJ Madukismo lan dipuntahbisaken tanggal 9 April 1985 ngantos dumugi samenika. Wonten ing perkembanganipun, samenika GKJ Madukismo nggadahi Jemaat antawis 437 warga, 6 wilayah saha 22 Pradataning Pasamuwan.
Tanggal Pendewasaan: 07 April 1996 Profil dan Sejarah GKJ Jodhog dulu pepanthan dari GKJ Bantul, kemudian GKJ Jodhog menjadi Gereja Dewasa sejak 7 April 1996, setelah itu punya 2 program besar yaitu membangun gedung Gereja dan pemanggilan Pendeta. Cukup berat rasanya tetapi semua bisa berhasil dan tepatnya pada tanggal 10 April 2003 GKJ Jodhog dapat menahbiskan Pendeta dalam diri Pdt. Harjono, S.Th. dari GKJ Rewulu dan sampai sekarang sudah dapat melayani dengan baik. 101100 GKJ Sidomulyo Tanggal Pendewasaan: 02 Oktober 1997
Tanggal Pendewasaan: 21 April 2001 Profil dan Sejarah I. Pendahuluan Dalam menyusun sejarah Pepanthan Miliran ini, mempergunakan bahan-bahan dari : Keputusan Rapat Majelis GKJ Sawokembar Gondokusuman.-KEADAAN PADA TAHUN 1967- Para warga jemaat GKJ Sawokembar Gondokusuman yang bertempat tinggal di Miliran juga pergi kebaktian hari Minggu ke gereja Sawokembar Gondokusuman sebagian berjalan kaki, sebagian lainnya naik sepeda. Bagi yang telah berkeluarga berboncengan naik sepeda. Kendaraan umum pada waktu itu kebanyakan becak dan andong. Jika menggunakan kendaraan umum tidak mampu, karena dipandang mahal. Pada waktu itu jarak antara tempat tinggal mereka dengan gereja Sawokembar Gondokusuman dirasakan cukup jauh. Faktor jarak dan taraf penghidupan warga yang masih sangat berkekurangan pada waktu itu memang menjadi kendala bagi warga dalam kehidupan bergereja. Memperhatikan keadaan semacam itu dua orang warga jemaat di Miliran, yaitu Bapak Samidjo dan Bapak Djumadi mempunyai prakarsa untuk menyelenggarakan kumpulan (kebaktian) di Miliran. Prakarsa itu disetujui oleh para warga di Miliran dan didukung oleh Bapak Sastra Suwignja sebagai Tua-tua Wilayah Miliran. II. BERDIRINYA PEPANTHAN MILIRAN SAMPAI DENGAN MENJELANG DIDEWASAKANNYA. Berdasarkan keputusan Rapat Majelis GKJ Sawokembar Gondokusuman pada hari Selasa, tanggal 11 Maret 1968 ditetapkan 2 (dua) tempat kebaktian baru di luar GKJ Sawokembar Gondokusuman yaitu : III. PERKEMBANGAN PEPANTHAN MILIRAN Pepanthan Miliran dapat berkembang setelah menempati gedung SD BOPKRI itu. Kegiatan Sekolah Minggu, kegiatan studi Alkitab untuk para remaja, kegiatan PA, katekisasi bagi para warga, dan kebaktian hari Minggu berjalan secara teratur dan banyak kemajuannya. Perkembangan itu makin bertambah-tambah karena ada beberapa hal yang mendukungnya, ialah: Pada waktu itu warga dewasa/peserta Perjamuan Kudus telah mencapai 80-90 orang. IV. MEMBANGUN GEDUNG GEREJA. Mulai tahun 1971-1978 banyak warga pendatang baru di Miliran, di antaranya keluarga Bapak Ir. Mulyadi dan keluarga Bapak Alex Sukono. Kebetulan kedua keluarga itu memiliki kemampuan serta menaruh perhatian besar terhadap tugas-tugas pelayanan gerejawi. Maka pertama-tama diusahakannya untuk memperoleh sebidang tanah yang diperlukan bagi pembangunan gedung gereja. Berkat kerjasama mereka dan dukungan seluruh warga Pepanthan Miliran, maka Tuhan mengabulkan untuk membeli tanah seluas 500m2. Lokasi tanah itu berada di tengah sawah, karena memang semula berwujud tanah pesawahan. Pekerjaan pembenahan lokasi ini dimulai 24 Juni 1981. Jalan menuju lokasi kurang lebih sepanjang 500m masih berwujud pematang/jalan setapak yang berdampingan dengan parit saluran irigasi. Parit inilah yang memperlancar jalan setapak, setelah dibangun kembali mempergunakan pipa buis beton, sehingga dari pematang sawah yang disatukan dengan pipa saluran air itu berhasil disulap menjadi jalan yang dapat dilewati kendaraan. Lahan diurug dan dipersiapkan, maka peletakan batu pertama pembangunan gedung gereja dapat dilangsungkan pada hari Minggu, 15 September 1985 dalam suatu upacara yang dipimpin oleh Bapak Pendeta Wijoto Hardjotaruno. Memang pekerjaan ini memakan waktu lama, dilaksanakan tahap demi tahap sesuai dengan kemampuan pendanaannya. Sejak dari upacara peletakan batu pertama hingga berdirinya gedung gereja memakan waktu satu setengah tahun. Dari hasil kerja keras jemaat Pepanthan Miliran ini, pada hari Jumat 17 April 1987 bertepatan dengan hari Paskah, secara resmi tempat kebaktian dipindahkan dari SD BOPKRI Miliran ke gedung gereja, walaupun gereja yang dibangun sampai pada saat itu keadaannya belum sempurna. Dari hari ke hari, pembangunan terus disempurnakan, dilengkapi dengan halaman/area parkir yang diperkeras dengan vaving. Pada mulanya tempat dudukpun seadanya, kemudian berangsur-angsur dapat diganti dengan kursi-kursi besi sederhana, akhirnya dipergunakan bangku-bangku dari kayu seperti yang ada sekarang. Perhatian Pemerintah kepada Pepanthan Miliran sangat baik, yaitu dengan diberikan ijin membangun gedung gereja. Bahkan Pemerintah Kota menggunakan bangunan gereja itu sebulan sekali untuk pembinaan PNS (Pegawai Negeri Sipil) Kristiani. Hampir tidak terduga, pada tahun 1996 dapat membeli lahan tambahan di sebelah kanan gedung gereja, seluas 500 m2, sehingga dengan lahan tambahan ini dapat dipersiapkan untuk membangun konsisturi dan rumah pastori. Bukan karena semata-mata sempitnya lahan, akan tetapi sejak awalnya bangunan gereja telah dirancang dengan menempatkan ruang konsisturi di depan pintu gereja. Penempatan ruang konsisturi di depan pintu gereja ini adalah ide dan pemikiran dari Bapak Sutrisna Martoatmodjo. Pada saat warga jemaat berdatangan akan memasuki gereja tempat kebaktian, Bapak/Ibu anggota Majelis menyambutnya dengan berjabat tangan, seolah-olah sebagai pelayan penerima tamu. Pada saat kebaktian selesai, Bapak Pendeta dan segenap anggota Majelis kembali berderet di depan pintu gereja, bersalaman dengan seluruh warga jemaat yang akan meninggalkan gereja. Dengan demikian suasana kebaktian hari Minggu dapat dirasakan ada jalinan suasana yang penuh kasih. Pada akhir tahun 2000, justru pada saat-saat warga Pepanthan Miliran sedang giat-giatnya mempersiapkan diri membangun Pepanthan Miliran menjadi gereja dewasa, datang lagi berkat Tuhan dengan kemampuan membeli tanah seluas 165 m2 terletak di sebelah kiri gedung gereja di sudut belakang. Dengan letaknya yang tidak terlalu dekat dengan gereja itulah, sangat tepat digunakan untuk rumah Pendeta yang lebih tenang. Maka rancangan semula penempatan rumah Pendeta diubah. Lahan 500 m2 di sebelah kanan gereja, akan dipergunakan untuk bangunan konsisturi, kantor gereja, ruangan pertemuan dan perpustakaan, termasuk area parkir, karena direncanakan gedung itu bertingkat untuk menghemat lahan. Sedangkan gedung gereja sendiri masih dapat dibangun ulang dikembangkan sehingga mempunyai daya tampung yang lebih besar daripada yang sekarang ditambah dengan kemungkinan membangun balkon. V. KEINGINAN WARGA JEMAAT Proses Pendewasaan Pepanthan Miliran, memang dirasakan terlalu lama oleh warga dan yang sering menanyakan soal ini. Maka tumbuhlah prakarsa anggota Majelis dan warga Pepanthan Miliran untuk membentuk Panitia Persiapan Pendewasaan Pepanthan Miliran. Adapun pembentukan panitia dengan niat untuk secepatnya dan mendewasakan Pepanthan Miliran ini disertai dengan beberapa pertimbangan sebagai berikut: Pembentukan Panitia Persiapan Pendewasaan Pepanthan Miliran itu dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 21 Januari 2000, dan memperoleh restu dari gereja induk, Majelis GKJ Sowokembar Gondokusuman. Panitia bekerja keras untuk melakukan kegiatan-kegiatan kearah pendewasaan baik yang menyangkut bidang kerohanian, prasarana fisik, organisasi, administrasi, maupun bidang keuangan. Dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan tersebut, Panitia ini melibatkan semua Komisi dan semua pengurus wilayah/kelompok yang ada. Tiap Komisi dan dan pengurus wilayah/kelompok menyusun programnya dan melaksanakan kegiatan masing-masing dalam rangka persiapan pendewasaan Pepanthan Miliran tersebut kepada Klasis Yogyakarta Selatan. Atas dasar usul itu, Tim Visitasi Klasis Yogyakarta Selatan pada hari Rabu tanggal 21 Juni 2000 telah mengadakan kunjungan untuk penelitian (visitasi) ke Pepanthan Miliran. Dalam sidangnya pada hari Senin tanggal 26 Maret 2001 Klasis Yogyakarta Selatan memutuskan bahwa Pepanthan Miliran layak untuk didewasakan. Pendewasaan Pepanthan Miliran menjadi GKJ Brayat Kinasih dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 21 April 2001.
Tanggal Pendewasaan: 07 Juni 2008
Tanggal Pendewasaan: 15 Juli 2008
101500 GKJ Pundong Update: 06/07/2017
Nama Bayi Katolik Terlengkap, Tahun Liturgi Dalam Katolik, Kalender Liturgi Katolik 2026, Renungan Katolik 2025, | Selanjutnya: 11 Klasis Kulon ProgoSebelum: 09 Klasis Yogyakarta Utara
Nyanyian Ibadah Gereja: MENU UTAMA:Lagu Koor Gereja, JB (Pujian Sekolah Minggu), KMM, KJ, PKJ, GB, NKB, Kidung Ceria, NR, NR TORAJA, PKJ TORAJA, NKB TORAJA, NJNE, PENANIAN MASALLO', Pa'pudian, Mazmur Genewa, Nyanyian Jemaat GPM, LIRIK LAGU ROHANI SUNDA, Kidung Kabungahan KKB, KPKL, KPKA, Kidung RIA GKJW, Buku Ende, BN (Buku Nyanyian HKBP), Suplemen Buku Ende, MNR1 (Mazmur dan Nyanyian Buku 1), MNR2 (Mazmur dan Nyanyian Buku 2), Nafiri Rohani, MAZMUR MP3 GKI, NP (Nyanyian Pujian), Lagu Tiberias, Nafiri Kemenangan, Lagu GMS, PPK, PPPR, KPPK, NKI, NRM, Buku Lagu Perkantas, KPJ, KRI, KPRI, KLIK, NNBT, DSL, LS, Doding Haleluya, LKEE, Suara Gembira, , Puji Syukur, Madah Bakti, Kidung Pasamuan Jawi (KPJ)(1) Alkitab JAWA Prajanjian Lawas(1) Bacaan Alkitab GKJW 2026(1) Bacaan Leksionari GKJ 2025(8) Bacaan Leksionari GKJ 2026(12) Contoh Tata Ibadah GKJ(29) Kalender GKJ 2017(7) Kalender GKJ 2018(12) Kalender GKJ 2019(12) Kalender Liturgi GKJ 2023(12) Khotbah GKJ 2016(1) Khotbah GKJ 2025(21) Khotbah GKJ 2026(6) Khotbah GKJW 2026(8) Kidung Pasamuwan Kristen (KPK)(8) Kidung Pasamuwan Kristen Anyar (KPKA)(345) Kidung Pasamuwan Kristen Lawas (KPKL)(171) Kidung Ria GKJW(33) Klasis Gereja Kristen Jawa (GKJ)(32) NA(1) Pembacaan Alkitab 2016(1) Renungan GKJ 2022(29) Renungan GKJ 2023(13) Renungan GKJ 2024(1) Renungan GKJW 2024(4) Renungan GKJW 2026(3) Tata Ibadah GKJ 2024(2) Tentang GKJ(3) xxx(4) | Register Login Warning: include(if_month_gkii.php): failed to open stream: No such file or directory in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/gkj.lagu-gereja.com/channel.php on line 2 Warning: include(if_month_gkii.php): failed to open stream: No such file or directory in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/gkj.lagu-gereja.com/channel.php on line 2 Warning: include(): Failed opening 'if_month_gkii.php' for inclusion (include_path='.:/opt/plesk/php/5.6/share/pear') in /var/www/vhosts/murdansianturi.com/gkj.lagu-gereja.com/channel.php on line 2
Links:
lagu-gereja.com,
bible.,
perkantas,
gbi,
GKII,
gkj,
HKBP,
MISA, GMIM, GPM, toraja, gmit, gkp, gkps, gbkp, Hillsong, PlanetShakers, JPCC Worship, Symphony Worship, Bethany Nginden, Christian Song, Lagu Rohani, ORIENTAL WORSHIP, Lagu Persekutuan, NJNE, Nyanyian Jemaat GPM, Tags: Kalender Liturgi GKJ Oktober 2022 Minggu, 26 Juni 2022 Renungan GKJ Minggu, 26 Juni 2022 - II Raja-raja 2:1-2,6-14 - Minggu Biasa VIII Minggu ke-3 setelah Pentakosta (Hijau) Minggu, 19 Juni 2022 Renungan GKJ Minggu, 19 Juni 2022 - I Raja-raja 19:1-4,(5-7),8-15a - Minggu Biasa VII Minggu ke-2 setelah Pentakosta (Hijau) Minggu, 12 Juni 2022 Renungan GKJ Minggu, 12 Juni 2022 - Amsal 8:1-4,22-31 - Minggu Trinitas (Putih) Minggu, 5 Juni 2022 Renungan GKJ Minggu, 5 Juni 2022 - Kisah Para Rasul 2:1-21 - Petakosta (Merah) Minggu, 15 Mei 2022 Renungan GKJ Minggu, 15 Mei 2022 - Saling Mengasihi - Kisah Para Rasul 11:1-18 - Minggu Paskah V (Putih) |
| popular pages | login | e-mail: admin@lagu-gereja.com © 2012 . All Rights Reserved. |